Pertanyaan saya untuk Kak Lia, bagaimana cara melatih empati dan konsistensi tersebut dalam diri kita, khususnya bagi mahasiswa atau generasi muda yang masih dalam tahap belajar memimpin? Menurut Kakak, apakah pengalaman menghadapi kegagalan juga berperan penting dalam membentuk rasa tanggung jawab seorang pemimpin?