Pertanyaan saya untuk Kak Kaspar, apakah hikayat ini ingin menegaskan bahwa cinta harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan hidup, bahkan ketika kondisi ekonomi atau tuntutan kesuksesan terasa mendesak? Bagaimana cara menyeimbangkan cinta dengan kebutuhan realistis dalam kehidupan modern?