Menurut saya, ada 3 bagian proses creative marketing yang tidak boleh dilepas ke AI, apa pun level kecanggihannya:
- Penentuan nilai & posisi brand (brand intent)
AI bisa optimize message, tapi tidak bisa menentukan apa yang pantas dan tidak pantas diperjuangkan brand.
Keputusan soal stance, ethics, sustainability, atau isu sosial harus manusia. Ini soal tanggung jawab, bukan efisiensi. - Empati & konteks manusia
AI membaca data perilaku, manusia membaca emosi dan situasi.
Contoh: timing campaign saat krisis, bencana, atau isu sensitifโAI bisa salah konteks, manusia tidak boleh. - Final judgment & storytelling
AI bagus untuk draft, variasi, dan A/B testing.
Tapi cerita yang โkenaโ biasanya lahir dari pengalaman, kegagalan, dan intuisi manusia, bukan pattern statistik.
Kesimpulannya sederhana:
AI adalah accelerator, bukan decision maker.
Brand yang kuat bukan yang paling banyak pakai AI, tapi yang tahu kapan AI dipakai dan kapan harus dihentikan.