Ketika departemen FAT melakukan transformasi digital—seperti integrasi software akuntansi baru atau otomatisasi sistem invoice—tantangan terbesarnya jarang sekali bersifat teknis, melainkan penolakan dari pengguna di divisi lain yang merasa kenyamanannya terganggu. Di sinilah political intelligence dari pemimpin FAT diuji. Pemimpin yang cerdas tidak akan memaksakan sistem baru secara otoriter. Mereka akan membangun komunikasi, menunjukkan nilai tambah digitalisasi tersebut bagi efisiensi kerja tim lain, dan memberikan pelatihan yang inklusif, sehingga adopsi teknologi baru dapat berjalan mulus tanpa gesekan horizontal.