Nah, aku jadi penasaran nih, Kak Lia: menurut Kakak, gimana caranya kita bisa menjaga work-life balance tapi tetap terlihat “kompeten” atau “berkomitmen” di mata atasan, terutama di lingkungan kerja yang masih sangat menilai dari “lama kerja” dibanding hasil? Apakah Kakak pernah punya pengalaman atau strategi tertentu dalam menghadapi hal ini?