Selain itu, bagaimana menurut Kak Amilia tentang peran perusahaan dalam menciptakan budaya kerja yang lebih fleksibel dan memberi ruang bagi karyawan untuk menjaga keseimbangan hidup dan kerja? Misalnya, apakah pengaturan waktu kerja yang lebih fleksibel atau program dukungan kesehatan mental bisa menjadi solusi yang lebih tepat untuk mengurangi tingkat burnout ini?