Saya juga berpikir, mungkin ada tantangan untuk perusahaan yang belum terbiasa dengan konsep ini. Mungkin beberapa perusahaan lebih fokus pada hasil yang bisa dilihat langsung (seperti revenue atau profit) ketimbang indikator kesehatan mental. Dalam konteks ini, bagaimana menurut Kak Amilia perusahaan bisa mulai mengintegrasikan kesehatan mental sebagai bagian dari indikator keberhasilan (KPI) tanpa mengganggu tujuan utama bisnis mereka?