Pertanyaan Lanjutan:
Menurut Kak Lia, dalam praktiknya, bagaimana HR bisa menjaga ketelitian ketika harus multitasking atau menangani hal yang sifatnya emosional—misalnya kasus konflik karyawan atau pemutusan hubungan kerja (PHK)? Apakah ada pendekatan khusus agar aspek teknis dan empati bisa tetap jalan beriringan?