Aku juga ingin bertanya, bagaimana caranya kita bisa tetap terhubung dengan “kenapa” kita di tengah kesibukan dan tekanan yang datang? Misalnya, saat kita sudah terlalu terfokus pada target atau deadline pekerjaan, seringkali kita melupakan alasan mengapa kita memilih pekerjaan itu sejak awal. Apa yang Kak Lia lakukan untuk menjaga agar “kenapa” itu tetap menjadi pusat perhatian, meskipun banyak distraksi yang muncul?