Benar sekali sering kali kesadaran itu lahir justru setelah kita jatuh, lelah, atau bahkan hampir menyerah. Saat-saat seperti itu seolah mengupas lapisan ambisi, dan menyisakan pertanyaan paling jujur: “Kenapa aku melakukan ini?”
Setiap perjalanan punya “mengapa”-nya. Coba kembali ke momen ketika kamu pertama kali memulai: apa yang membuatmu memilih pekerjaan ini? Siapa yang kamu ingin bantu? Apa nilai yang ingin kamu bawa? Kadang, mengingat alasan sederhana itu bisa menyalakan api kecil yang sempat padam.
Tidak semua hari akan besar dan gemilang. Tapi selalu ada hal kecil yang layak disyukuri: tugas yang selesai dengan baik, rekan kerja yang terbantu, atau sekadar keberanian untuk bertahan hari itu. Cinta terhadap pekerjaan tumbuh dari apresiasi pada hal-hal kecil.