Kak Amilia, ini benar-benar membuka perspektif! Seringkali kita menganggap kelemahan sebagai tanda kekurangan, padahal justru seringkali itu berakar pada kurangnya kesadaran diri. Seseorang bisa saja sangat kompeten, tetapi jika tidak bisa mengelola citra diri atau cara berinteraksi dengan orang lain, pengaruhnya bisa jadi terbatas. Itu yang sering kita lihat dalam dinamika tim dan kepemimpinan, kan? Kak Amilia sendiri, bagaimana cara Kakak membangun kesadaran diri agar bisa lebih efektif dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain?