Aku jadi ingin bertanya ke Kak Lia: dari pengalaman Kakak sendiri, adakah momen di mana Kakak benar-benar merasakan hidup “menabrak” dengan keras, dan apa isi cangkir Kakak yang saat itu keluar? Dan bagaimana cara Kakak membentuk kebiasaan atau rutinitas untuk menjaga agar isi cangkir tetap penuh dengan hal-hal positif?