Benar sekali, Albert! 🌱
Risikonya memang besar, bahkan bisa dibilang eksistensial bagi brand yang gagal memenuhi ekspektasi etika dan keberlanjutan. Di era sekarang, konsumen bukan cuma membeli produk, tapi juga nilai di baliknya.
Brand yang sekadar “greenwashing” atau berpura-pura peduli sosial akan cepat kehilangan kepercayaan publik. Sekali kredibilitas rusak, sulit sekali untuk memulihkannya. Karena itu, strategi terbaik bukan hanya komunikasi yang “ramah lingkungan”, tapi juga aksi nyata yang terukur dan transparan — seperti laporan keberlanjutan, supply chain yang etis, atau inisiatif sosial yang konsisten.
Intinya, keberlanjutan dan etika bukan lagi pembeda, tapi standar baru dalam membangun loyalitas jangka panjang.
Kalau menurut kamu sendiri, Albert, apakah konsumen di Indonesia sudah cukup kritis menilai aspek etis sebuah brand?