Kemudian, mengenai topik autentisitas merek, saya ingin menggali lebih dalam tentang bagaimana menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam strategi pemasaran yang sangat didorong oleh data. Dalam beberapa kasus, AI bisa sangat akurat dalam menargetkan audiens, tetapi apakah ada risiko pesan yang terlalu “terpersonalisasi” justru bisa terkesan kurang alami atau malah terlalu intrusif bagi konsumen? Seiring dengan meningkatnya kecanggihan AI, apakah menurut Kak Amilia penting untuk selalu menjaga batasan dalam hal seberapa personalisasi kita dalam berkomunikasi dengan konsumen? Apakah ada pendekatan yang bisa kita ambil agar tetap autentik meskipun menggunakan AI secara intensif?