Selain itu, saya ingin bertanya mengenai peran kreatif manusia dalam konteks pembuatan konten. Meskipun AI bisa menghasilkan berbagai variasi konten dalam waktu singkat, bagaimana kita bisa memastikan bahwa cerita yang disampaikan masih berhubungan dengan nilai-nilai inti merek? Apakah Kak Amilia merasa bahwa AI, meskipun canggih, tetap membutuhkan sentuhan manusia untuk memberikan konteks yang lebih dalam atau cerita yang lebih menyentuh? Dalam dunia pemasaran, kita sering mendengar bahwa “cerita” adalah kunci, jadi bagaimana menurut Kak Amilia agar cerita tetap relevan dan emosional tanpa kehilangan sentuhan personal yang manusiawi?