Bagian ketika Kakak menulis bahwa “tersenyum adalah strategi” benar-benar mengena. Banyak dari kita memakai senyum sebagai tameng, bukan karena bahagia, tapi karena tidak ingin menambah beban orang lain. Rasanya ironis — seolah kita justru berusaha melindungi orang dari diri kita sendiri. Padahal, di dalam hati kita juga ingin dipahami, tapi takut membuka pintu luka.