Pertanyaan bagus, Albert. Menurut saya, perusahaan memang perlu lebih aktif dalam mendeteksi tanda-tanda kelelahan mental, terutama di pola kerja hybrid yang cenderung membuat gejala kelelahan tidak langsung terlihat.
• Check-in rutin bisa membantu, tapi tidak harus selalu dalam bentuk survei formal. Kadang percakapan singkat antara atasan dan tim sudah cukup untuk membuka ruang diskusi.
• Survei berkala tetap penting sebagai alat ukur objektif, namun harus diikuti dengan tindak lanjut nyata agar karyawan merasa didengar.
• Selain itu, perusahaan bisa memantau indikator tidak langsung seperti penurunan partisipasi rapat, keterlambatan kecil yang berulang, atau menurunnya interaksi sosial antar tim.
• Yang paling krusial adalah menciptakan budaya komunikasi terbuka, sehingga karyawan merasa aman menyampaikan kondisi mental mereka tanpa takut stigma.