Bagian yang paling terasa menampar adalah ketika kakak menulis bahwa kita sering berlari maraton tanpa garis finish. Betapa seringnya kita memaksakan diri mengejar “sesuatu” tanpa pernah bertanya apakah itu benar-benar penting bagi kita. Kita hanya takut tertinggal, takut dianggap gagal, padahal sebenarnya tidak ada kompetisi yang nyata. Yang ada hanya ekspektasi yang kita buat sendiri, atau ekspektasi yang kita biarkan menempel dari luar.