Dan pada akhirnya, paragraf penutup Ka Amilia benar-benar menjadi pelukan hangat. Bahwa kita sudah melakukan yang terbaik dengan apa yang kita punya. Bahwa perjalanan ini bukan soal kecepatan, tapi soal ketahanan. Rasanya menenangkan sekali diingatkan bahwa “cukup” itu bukan standar yang kecil—kadang justru itulah standar yang paling manusiawi.