- This topic has 0 replies, 1 voice, and was last updated 2 days, 22 hours ago by
Joko Siyamto.
FENOMENA “GENERASI TANTRUM” DI ERA AI
October 15, 2026 at 1:23 pm-
-
Up::0
Membedah Fenomena “Generasi Tantrum” di Era AI Bersama Prof. Rhenald Kasali
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) dan digitalisasi tidak hanya mengubah lanskap dunia kerja, tetapi juga memengaruhi cara manusia berpikir dan merespons suatu hal. Di tengah gempuran informasi instan, muncul sebuah fenomena menarik yang menjadi sorotan tajam para pakar.
Dalam acara Mekari Conference 2026 yang mengangkat tema “AI at Work“, Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia sekaligus pendiri Rumah Perubahan, Prof. Rhenald Kasali, menyampaikan gagasan penting mengenai risiko psikologis dan sosial dari adopsi teknologi yang tidak diimbangi kontrol diri, yakni lahirnya “Generasi Tantrum“.
Apa Itu “Generasi Tantrum”?
Secara psikologis, tantrum lazim-nya dikaitkan pada anak kecil yang belum bisa mengelola emosinya saat menghadapi ketidaknyamanan. Namun, di era digital saat ini, fenomena tantrum bergeser ke ranah dewasa dan ruang publik digital.
Menurut Prof. Rhenald Kasali, ciri utama dari “Generasi Tantrum” di ruang digital meliputi:
– Reaktif dan Gemar Berdebat: Mudah tersulut emosi oleh informasi yang lewat di linimasa tanpa melakukan verifikasi mendalam.
– Mudah Menyalahkan Pihak Lain: Cepat melimpahkan kekesalan kepada orang lain, memberikan ulasan buruk secara sembarangan (bintang satu), hingga mem-viralkan sesuatu demi kepuasan emosional sesaat.
– Defisit Kontrol Diri (Self-Control): Ketergantungan akut pada gawai membuat kemampuan seseorang dalam meredam impuls emosional menjadi tumpul.
Akar Masalah: Ketika Teknologi Mengendalikan Manusia
Fenomena ini tidak muncul dalam ruang hampa. Akar dari lunturnya kemampuan mengendalikan diri sering kali dimulai sejak dini, misalnya kebiasaan orang tua yang menyerahkan smartphone kepada anak untuk meredam tangisan dengan dalih pengalihan.
Ketika beranjak dewasa, pola instan tersebut terbawa. Algoritma media sosial dan kecepatan AI yang dirancang untuk memuaskan kebutuhan secara instan memperparah kondisi ini. Jika manusia tidak memiliki fondasi self-control yang kuat, mereka perlahan-lahan akan kehilangan kendali atas diri mereka sendiri.
“Manusia tanpa kemampuan mengendalikan dirinya akan dikendalikan oleh orang lain, dikendalikan teknologi dan akhirnya mudah tantrum.” — Prof. Rhenald Kasali
Relevansi di Dunia Kerja dan Bisnis Modern
Dalam konteks dunia kerja profesional yang dibahas di Mekari Conference 2026, kehadiran AI seharusnya mendongkrak produktivitas dan kualitas pengambilan keputusan strategis. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana sumber daya manusia (SDM) tidak terjebak menjadi mentalitas yang serba instan, reaktif dan mudah menyerah pada tekanan emosional.
Krisis kepercayaan di ruang digital serta polarisasi informasi menuntut para pekerja dan pemimpin bisnis untuk memiliki ketahanan mental yang matang. Kecanggihan teknologi, termasuk AI, harus diposisikan sebagai alat bantu kerja (co-existence), bukan sebagai elemen yang mendikte cara berpikir kritis manusia.
Langkah Keluar: Membangun Kembali Self-Control
Agar tidak terperangkap dalam lingkaran setan “Generasi Tantrum“, ada beberapa langkah penting yang perlu diambil:
1) Melatih Kesadaran Digital (Digital Mindfulness): Batasi diri dari paparan informasi yang bersifat memprovokasi emosi dan mulailah membudayakan verify before you post.
2) Penguatan Kontrol Diri: Menyadari bahwa teknologi diciptakan untuk melayani manusia, bukan sebaliknya. Disiplin dalam menggunakan gawai adalah kunci utama.
3) Pendidikan Karakter Berkelanjutan: Baik di lingkungan keluarga maupun profesional, penting untuk membangun mental tangguh yang tidak mudah goyah oleh perubahan atau instannya kepuasan digital.
Teknologi seperti AI adalah keniscayaan masa depan. Namun, masa depan yang produktif dan beretika hanya dapat dibangun oleh manusia yang memiliki kematangan emosi, bukan oleh generasi yang mudah meledak-ledak akibat kehilangan kendali diri “Generasi Tantrum“.
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
Perbedaan Kerja Keras dan Kerja Cerdas di Era AIPerbedaan Kerja Keras dan Kerja Cerdas di Era AI Serta Dampaknya ke Depan Dunia kerja hari ini sedang berada di titik balik…28 Sep 2026 • Generalai artificial-intelligence kerja-cerdas kerja-kerasTerkait:era ai kehadiran era ai manusia teknologi
-
AI Menghemat Waktu Kita: Dipakai untuk Berpikir, atau Cuma Menambah Beban Kerja?Teknologi Kecerdasan Buatan (AI) berkembang dengan kecepatan yang melampaui ekspektasi manusia. Dari otomatisasi tugas administratif, penyusunan kode pemrograman, analisis data kompleks, hingga…30 Sep 2026 • Generalworklifebalance-artificialintelligence-personalgrowth-timemanagementTerkait:era ai era ai manusia teknologi diri
-
Kehadiran Data Center: Menjadi Untung atau Buntung?Perkembangan teknologi digital, komputasi awan (cloud computing), layanan streaming, dan kecerdasan buatan (AI) telah mendorong pertumbuhan pesat pembangunan pusat data (data center)…15 Oct 2026 • Generalcloud data-centerTerkait:kehadiran fenomena ai teknologi kerja memiliki
-
Membunuh Kampus Swasta?Upaya pemerintah memperluas akses pendidikan tinggi melalui berbagai jalur masuk dan peningkatan daya tampung perguruan tinggi negeri (PTN) merupakan kebijakan yang patut…8 Oct 2026 • Generalkampus-swasta ptnTerkait:kehadiran generasi manusia teknologi kerja kemampuan
-
Smart Fusion: AI yang Tahu Kapan Harus Pakai “Otak Ringan” dan “Otak Canggih”Pernah nggak kita berpikir, kalau punya AI yang paling canggih, berarti semua pekerjaan sebaiknya dikerjakan dengan AI tersebut? Ternyata belum tentu. Ada…8 Oct 2026 • Generalsmartfusion-ai-artificialintelligence-digitaltransformation-productivity-finance-accounting-technology-workplace-mekaricommunityTerkait:ai manusia kerja kemampuan menjadi
-
Upskilling dan Reskilling: Kunci Bertahan dan Berkembang di Tengah Perubahan Dunia KerjaDunia kerja terus berubah, dan perubahan itu tidak selalu menunggu kita siap. Teknologi berkembang, kecerdasan buatan mulai mengambil alih sejumlah pekerjaan rutin,…13 Oct 2026 • GeneralTerkait:ai teknologi diri kerja ruang kemampuan
-
Mengakali Detektor AI oleh AkademisiPerkembangan Artificial Intelligence (AI), khususnya Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT, Gemini, dan berbagai platform berbasis AI lainnya, telah mengubah cara akademisi…8 Oct 2026 • Generalai detektorTerkait:ai teknologi memiliki menjadi
-
12 Kebiasaan Lama yang Perlu Kamu Tinggalkan di Era SekarangBanyak dari kita masih menjalankan kebiasaan-kebiasaan yang dulu dianggap efektif, tapi kini justru bisa menghambat kemajuan, kesehatan mental, dan produktivitas. Berikut adalah…4 Jun 2026 • GeneralAllTerkait:generasi era diri kerja kemampuan
-
Bahaya “Penyakit Typo” di Dunia Kerja ProfesionalSering Dianggap Sepele, Ini Bahaya "Penyakit Typo" di Dunia Kerja Profesional dan Cara Mengatasinya Di era komunikasi serba cepat saat ini, gawai…7 Oct 2026 • GeneralTerkait:era diri instan kerja kemampuan menjadi
-
Deadline Penting, Kesehatan Lebih PentingDalam dunia kerja, deadline sering kali menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar. Laporan harus selesai hari ini, presentasi harus disiapkan sebelum rapat,…15 Oct 2026 • GeneralTerkait:kehadiran manusia diri kerja kemampuan memiliki
-
Ketika Sekolah Bukan Pilihan Utama BelajarFenomena semakin banyaknya siswa yang mengikuti bimbingan belajar (bimbel) dapat dipandang sebagai cerminan adanya tantangan dalam dunia pendidikan formal. Ketika orang tua…12 Oct 2026 • Generalbimbel sekolahTerkait:fenomena generasi manusia diri ruang kemampuan
-
Boundaries di Tempat Kerja: Bukan Menjauh, Tapi Menjaga DiriDi tempat kerja, menjadi orang yang baik, mudah membantu, dan bisa diandalkan memang merupakan hal yang positif. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa…29 Sep 2026 • GeneralTerkait:diri kerja ruang kemampuan memiliki menjadi