Aku sendiri pernah mengalami situasi seperti ini. Di awal dijanjikan posisi finance, tapi lama-lama merangkap jadi admin HR, customer service, bahkan pernah diminta ikut jemput tamu pribadi bos. Waktu coba bicara soal batas tanggung jawab, jawabannya:
“Kamu kan udah kayak anak sendiri di sini…”
Alih-alih merasa dihargai, aku justru merasa dimanipulasi dengan embel-embel kekeluargaan. Padahal, keluarga yang sehat itu saling jaga, bukan saling tekan.
Menurutku, kalimat “anggaplah perusahaan ini seperti keluarga” seharusnya diikuti dengan aksi nyata: menghargai kontribusi, memberi kompensasi yang yang sehat itu saling jaga, bukan saling tekan.
Menurutku, kalimat “anggaplah perusahaan ini seperti keluarga” seharusnya diikuti dengan aksi nyata: menghargai kontribusi, memberi kompensasi yang adil, membuka ruang komunikasi, dan membatasi campur tangan urusan pribadi.