Saya setuju bahwa personalisasi dan relevansi kini menjadi kunci dalam customer management. Makin ke sini, pelanggan semakin sadar akan nilai waktu dan atensi mereka, sehingga pendekatan “mass targeting” yang tidak tepat sasaran sudah mulai kehilangan efektivitasnya. CRM bukan sekadar soal tools, tapi soal bagaimana membangun hubungan jangka panjang dengan customer yang dilandasi oleh data dan empati.
Poin mengenai pentingnya data culture juga sangat penting—bukan hanya mengumpulkan data, tapi juga memastikan bahwa data tersebut tersedia, dapat diakses, dipahami, dan digunakan oleh semua pemangku kepentingan di dalam organisasi, dari level strategis sampai operasional. Saya pribadi suka analogi “data is the new oil”—karena memang data mentah perlu diolah sebelum punya nilai.
Menjawab pertanyaan Pak Yusuf soal bagaimana memulai membangun data culture, saya kira langkah awal yang bisa dilakukan perusahaan adalah:
1. Mulai dari mindset – Tanamkan pemahaman bahwa semua keputusan sebaiknya berbasis data, bukan asumsi.
2. Buat standar pengumpulan data yang konsisten – Jangan biarkan data tercecer di masing-masing personil atau channel.
3. Berikan pelatihan dasar analisis data kepada semua level karyawan—tidak harus teknis, cukup agar mereka bisa membaca dan menanyakan pertanyaan yang tepat dari data.
4. Mulai dari use-case kecil yang konkret, misalnya tracking respons WA campaign atau memantau funnel onboarding customer. Hasil yang cepat akan memotivasi tim untuk melanjutkan.
Semoga ke depan semakin banyak perusahaan Indonesia yang tidak hanya mengadopsi CRM, tapi juga membangun kultur yang mendukung pemanfaatan datanya secara berkelanjutan.