Rasa belonging yang kuat memang bisa menjadi pendorong motivasi yang sangat besar, baik untuk individu maupun tim. Saya setuju bahwa pemimpin yang inklusif dan komunikasi dua arah memainkan peran penting dalam menciptakan rasa memiliki yang solid.
Ada beberapa poin yang ingin saya tanyakan lebih lanjut:
Balasan:
Menurut saya, pendekatan yang inklusif, di mana karyawan merasa dihargai dan diterima, sangat membantu meningkatkan sense of belonging. Namun, tantangan muncul ketika organisasi memiliki tim yang terdistribusi secara global atau bekerja dengan model kerja jarak jauh. Bagaimana kita bisa memastikan bahwa rasa belonging tetap terjaga ketika karyawan tidak bertatap muka langsung?
Pertanyaan:
Dalam konteks perusahaan yang memiliki tim remote atau hybrid, apakah ada strategi khusus yang dapat diterapkan untuk menjaga agar sense of belonging tetap kuat? Misalnya, bagaimana cara efektif untuk membangun hubungan interpersonal di antara tim yang tidak bertemu secara langsung? Apakah teknologi atau alat komunikasi tertentu bisa membantu dalam hal ini?