Setuju banget dengan poin Albert. Tantangan sense of belonging di tim hybrid memang nyata, apalagi saat komunikasi hanya lewat teks atau Zoom. Kadang hal-hal kecil seperti tidak diajak meeting informal atau kehilangan momen ngobrol santai bisa bikin seseorang merasa “terputus”.
Menurutku, strategi seperti virtual check-in rutin, perayaan ulang tahun online, atau bahkan channel khusus obrolan santai, bisa bantu membangun kedekatan emosional yang sering hilang di kerja jarak jauh.
Tapi aku juga penasaran, apakah ada cara untuk mengukur “tingkat belonging” karyawan dalam tim hybrid? Mungkin lewat survei atau indikator tertentu?