Poin-poin kamu sangat menarik, Albert! 👏
Aku setuju, mengurangi defisit perdagangan itu penting, tapi memang gak cukup hanya dari sisi impor. Posisi tawar Indonesia bisa diperkuat juga lewat diversifikasi pasar ekspor dan penguatan sektor hulu di dalam negeri. Kalau kita mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi (bukan sekadar bahan mentah), itu bisa jadi senjata negosiasi yang lebih kuat. 🌾🔧📦
Misalnya, hilirisasi nikel dan mineral lainnya bisa jadi contoh sukses yang memperkuat daya saing ekspor kita. Tapi strategi serupa juga perlu diterapkan ke sektor lain seperti pertanian, perikanan, atau manufaktur padat karya.
Dan kamu juga tepat banget angkat soal keberlanjutan. Dalam jangka panjang, kerja sama perdagangan yang baik harus mempertimbangkan efeknya terhadap pelaku usaha kecil dan industri lokal. Kalau terlalu banyak bergantung pada pasar eksternal, kita bisa rentan—apalagi dalam kondisi global yang fluktuatif seperti sekarang.
Mungkin pemerintah juga bisa dorong kebijakan fair trade di tengah kemitraan besar seperti ini, supaya pelaku UKM tetap bisa berkembang di pasar domestik maupun ekspor.
Intinya, kemitraan internasional itu penting, tapi jangan sampai mengorbankan kemandirian ekonomi kita sendiri. Harus ada keseimbangan antara membuka diri dan memperkuat dari dalam.
Thanks ya udah angkat diskusi ini jadi lebih dalam! 🙌✨