Betul sekali, Rizki Ardi! “Pinter” doang memang tidak cukup, tapi juga harus “bener” dalam hal mindset. Ini adalah poin yang krusial di tengah dinamika kerja yang serba cepat dan menuntut adaptasi.
Saya sangat setuju dengan argumen bahwa generasi baru (Milenial dan Gen Z) adalah “purpose-driven generation”. Mereka tidak hanya mencari gaji atau jabatan, tapi juga mencari makna dan dampak nyata dari pekerjaan mereka. Lingkungan kerja yang suportif, inklusif, dan peduli pada mental health serta work-life balance bukan lagi sekadar bonus, melainkan kebutuhan dasar.
Apa yang Anda sebutkan tentang atasan sebagai mentor, coach, dan leader yang bisa dipercaya juga sangat relevan. Di era ini, atasan yang hanya memberikan perintah satu arah akan kesulitan untuk membangun engagement dan loyalitas tim. Kemampuan untuk membangun psychological safety agar tim berani berinovasi dan memberikan feedback jujur adalah tanda mindset pemimpin yang maju.
Kemampuan teknis memang bisa dipelajari dengan mudah sekarang, karena akses ke upskilling dan reskilling sangat melimpah. Tapi, cara kita merespons tekanan, kegagalan, dan bagaimana kita membangun lingkungan kerja yang positif, itulah yang membedakan. Itu semua berakar pada mindset.
Seperti analogi charger fast charging original yang Anda berikan, mindset yang tepat memang membuat semua potensi tim berjalan optimal dan baterai motivasi mereka awet. Ini adalah pondasi yang harus dimiliki, baik oleh individu maupun organisasi, untuk bisa bertahan dan berkembang di masa depan.