Saya pribadi melihat isu micromanaging ini memang sering tidak disadari oleh atasan, karena dianggap sebagai bentuk care atau standar tinggi. Tapi seperti yang sudah kita bahas, yang terjadi di lapangan justru trust deficit—dan itu berbahaya dalam jangka panjang.
Menarik juga poin dari Mbak Lia soal perasaan seperti lagi ujian tiap hari, karena saya pernah alami sendiri. Rasanya bukan cuma diawasi, tapi juga seperti selalu dicurigai, padahal niat kita kerja udah maksimal. Akibatnya? Kita jadi main aman, padahal inovasi itu butuh keberanian buat bereksperimen dan gagal.
Saya jadi terpikir: mungkin salah satu kunci utama memutus siklus micromanaging ini adalah membangun sistem kerja yang transparan dan terukur. Jadi, atasan bisa tetap “melihat” progres tanpa harus mengecek tiap jam, dan tim juga merasa diberi kepercayaan.
Mungkin bisa dimulai dari hal sederhana seperti:
• Gunakan task tracker (Trello, Notion, ClickUp) biar semua bisa lihat progres real-time
• Tetapkan check-in mingguan, bukan harian
• Fokus ke outcome, bukan cara kerja step-by-step