Terima kasih atas pemaparannya yang sangat insightful, Pak Agus, dan juga tanggapan reflektif dari Pak Albert.
Saya sangat sepakat bahwa sense of urgency bukan sekadar soal kecepatan, tetapi juga tentang kesadaran bersama dalam bergerak secara terarah dan bermakna. Dalam pengalaman saya, urgensi yang sehat bisa menjadi katalis luar biasa untuk kolaborasi dan pengambilan keputusan cepat, tapi tantangannya memang muncul saat urgensi berubah menjadi tekanan berlebihan.
Saya tertarik dengan ide membangun budaya yang merayakan aksi, bukan hanya hasil. Ini bisa menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan kerja yang proaktif tanpa harus mengorbankan keseimbangan emosi tim.
Pertanyaan untuk diskusi:
Bagaimana peran komunikasi dalam memastikan sense of urgency tidak salah diartikan sebagai tekanan yang menakutkan?
Adakah pendekatan komunikasi tertentu yang bisa membantu tim tetap merasa terlibat secara positif meski berada dalam situasi yang mendesak?