Kalau dipikir-pikir, prinsip “ruang untuk pulih” itu sangat penting. Tapi seringkali justru yang hilang dalam sistem kerja modern adalah recovery time. Bahkan ada budaya yang menganggap istirahat sebagai kelemahan, padahal tanpa waktu pulih, kualitas kerja pasti menurun. Dari pengalaman kakak, bagaimana cara terbaik membangun budaya organisasi yang menghargai waktu istirahat tanpa membuat karyawan merasa bersalah karena “tidak produktif”?