Jadi, izinkan aku bertanya balik seperti yang Kakak tanyakan—tapi dengan sedikit tambahan:
Menurut Kak Lia, bagaimana cara kita membedakan antara kritik yang perlu didengar (karena membantu kita berkembang) dan kritik yang hanya berasal dari ketakutan atau rasa tidak aman orang lain?
Dan apakah ada pengalaman pribadi Kakak ketika dukungan dari “pendaki lain” justru mengubah cara Kakak melihat perjalanan sendiri?