- This topic has 12 replies, 3 voices, and was last updated 1 month, 2 weeks ago by
Lia.
4 Alasan untuk sukses
December 16, 2025 at 1:12 pm-
-
Up::0
4 Alasan untuk sukses
Empat alasan seseorang menjadi sukses yang akan disampaikan berikut ini adalah versi Edward D’Bono. Beliau adalah seseorang yang memfokuskan studinya pada bidang psikologi kreativitas. Salah satu buku hasil karya beliau yang terkenal adalah “Lateral Thinking”.
Dalam buku tersebut, beliau bercerita tentang taktik. Dari hasil mencari beberapa kesamaan yang dimiliki oleh orang-orang sukses, beliau menemukan empat alasan yang mendorong seseorang menjadi sukses.
Pertama adalah “luck” (keberuntungan)
Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa sukses terjadi karena kebetulan. Menurut Edward D’Bono, memang ada orang sukses karena mendapatkan keberuntungan. Misalnya, tiba-tiba mendapat lotre senilai USD 1 juta (sekitar Rp 8,5 miliar) atau menikah dengan orang yang sangat kaya. Bisa juga tiba-tiba bisnis yang sedang digeluti mendapatkan order dalam jumlah besar. Tiga contoh itu adalah kesuksesan karena kebetulan.Kedua adalah “very talented” (sangat berbakat)
Seseorang menjadi sukses karena dia memang mempunyai kapabilitas yang luar biasa di segala sisi. Salah satu contoh konkritnya adalah Mozart. Dalam usia empat tahun dia sudah mampu bermain piano dengan permainan yang luar biasa bagus. Mozart ini adalah salah satu contoh orang yang “very talented”. Contoh lain adalah Richard Claiderman, seorang pianis moderen yang juga sangat berbakat di bidangnya. Di bidang olah raga salah satu contohnya adalah Tiger Wood, seorang pemain golf yang very talented.Ketiga adalah “you are on a growing business sector”
Anda sukses karena melakukan bisnis di sektor yang sedang tumbuh pesat. Contohnya, orang-orang yang melakukan bisnis komputer di tahun 1985-an kebanyakan relatif berhasil. Orang yang berbisnis internet juga banyak yang mendapatkan sukses.
Jika Anda melakukan bisnis di sektor yang sedang tumbuh, kemungkinan untuk menjadi sukses akan lebih besar.Keempat adalah “you are little bit mad”
Anda harus sedikit gila kalau ingin meraih sukses. Sedikit gila memang tidak selalu menghasilkan hal negatif.itulah 4 alasan untuk sukses.
mungkin teman-teman bisa menambahkan
-
Semoga diskusi ini bisa membuka perspektif lebih luas tentang faktor-faktor kesuksesan!
-
Akhirnya, saya rasa diskusi ini sangat membuka pemahaman baru tentang bagaimana kita mendefinisikan kesuksesan. Banyak orang mungkin merasa kesuksesan itu hanya soal hasil akhir, padahal perjalanan yang kita tempuh untuk mencapai tujuan tersebut juga sangat penting. Kesuksesan bukan hanya soal faktor eksternal seperti keberuntungan dan bakat, tetapi juga melibatkan bagaimana kita mengelola diri, memperbaiki kekurangan, dan mengembangkan potensi yang ada dalam diri kita.
-
Pertanyaan untuk Forum:
Bagaimana kita bisa meningkatkan peluang untuk mendapatkan keberuntungan dalam hidup, mengingat faktor keberuntungan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang kebetulan? Apakah ada cara-cara yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan diri agar lebih sering “beruntung”?
Mengenai faktor “very talented”, apakah bakat memang harus didapatkan sejak lahir atau bisa dikembangkan? Menurut Kak Kaspar, seberapa penting usaha dan latihan dalam mengasah bakat, dan adakah batasan di mana bakat alami tetap lebih dominan?
Sektor bisnis yang sedang berkembang memang menawarkan banyak peluang, tetapi apakah ada tips untuk bisa mengidentifikasi sektor yang akan berkembang di masa depan? Bagaimana kita bisa memprediksi tren bisnis yang akan datang dan apakah kita harus bergantung pada tren atau bisa menciptakan tren sendiri?
“A little bit mad” bisa menjadi dorongan untuk berpikir di luar kebiasaan, tapi kapan kita tahu bahwa “kegilaan” tersebut sudah terlalu jauh? Apakah ada contoh di mana pemikiran yang berbeda justru berujung pada kegagalan yang bisa kita hindari?
Terkait dengan “growing business sector”, apakah kita harus selalu mengikuti tren yang ada, atau bisa kita fokus pada sektor yang lebih mapan namun tetap memiliki potensi untuk berkembang? Bagaimana caranya untuk memanfaatkan peluang dalam sektor yang lebih tradisional tanpa harus terlalu mengandalkan tren yang sedang naik daun?
Apakah ada saran untuk menggabungkan faktor-faktor seperti bakat, keberuntungan, dan pemikiran yang berbeda agar kita bisa memiliki perjalanan sukses yang lebih seimbang? Mana yang harus lebih kita fokuskan di awal perjalanan?
Menurut Kak Kaspar, apakah ada kesalahan umum yang sering dilakukan orang dalam mengejar kesuksesan? Mungkin ada faktor-faktor lain yang harus diperhatikan yang tidak dibahas dalam 4 alasan tersebut?
Apa yang harus kita lakukan jika kita merasa terjebak di suatu sektor atau bidang yang tidak lagi berkembang? Bagaimana cara mengalihkan fokus kita ke bidang yang lebih menjanjikan tanpa merasa kehilangan arah?-
Menurut saya keempat faktor ini perlu dilihat secara lebih kritis. Faktor luck, very talented, dan growing business sector sebagian besar berada di luar kendali individu. Jika terlalu ditekankan, ada risiko pembaca merasa bahwa sukses lebih ditentukan oleh keadaan daripada proses dan tanggung jawab personal.
Soal keberuntungan, saya cenderung melihatnya bukan sebagai sebab utama, melainkan sebagai akselerator. Banyak orang “beruntung” tetapi tidak ke mana-mana karena tidak siap. Sebaliknya, kesiapan, konsistensi, dan ketekunan sering kali justru menciptakan peluang yang tampak seperti keberuntungan.
Terkait very talented, contoh-contoh ekstrem seperti Mozart atau Tiger Woods memang inspiratif, tetapi kurang representatif bagi kebanyakan orang. Jika narasi bakat bawaan terlalu dominan, ini bisa melemahkan semangat belajar. Dalam praktiknya, keunggulan sering kali dibangun lewat latihan terarah dan disiplin jangka panjang, bukan semata bakat alami.
Mengenai sektor bisnis yang berkembang, mengikuti tren tanpa pemahaman mendalam justru berisiko. Banyak orang masuk ke sektor yang sedang naik, tetapi gagal bertahan karena hanya menjadi pengikut. Mungkin yang lebih penting bukan “sektor apa”, melainkan nilai apa yang bisa kita ciptakan di sektor tersebut.
Konsep a little bit mad juga menarik, namun perlu batas yang jelas. Berpikir berbeda tidak otomatis berarti benar. Tanpa kerangka evaluasi yang rasional, keberanian bisa berubah menjadi spekulasi yang mahal.
Menurut saya, keempat faktor ini akan lebih kuat jika dilengkapi dengan satu hal mendasar: kemampuan belajar, beradaptasi, dan merefleksikan kegagalan. Tanpa itu, bahkan keberuntungan, bakat, dan momentum sekalipun sulit diubah menjadi kesuksesan yang berkelanjutan.
-
-
Saya juga berpikir bahwa keberhasilan sering kali bukan hanya soal menemukan satu faktor yang tepat, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa menggabungkan semua faktor tersebut. Misalnya, mungkin kita memiliki keberuntungan untuk berada di sektor yang berkembang, tetapi jika kita tidak memiliki kemampuan yang memadai atau sedikit “kegilaan” untuk terus berinovasi, bisa jadi kesempatan itu akan lewat begitu saja. Dalam hal ini, menurut Kak Kaspar, apakah kita harus benar-benar menguasai semua aspek ini secara seimbang, ataukah ada prioritas tertentu yang lebih penting di awal perjalanan menuju kesuksesan?
-
Pernahkah Kak Kaspar melihat contoh orang-orang yang terlalu berfokus pada “kegilaan” tersebut hingga akhirnya merugikan diri mereka sendiri atau orang lain di sekitarnya? Mungkin kegilaan itu diperlukan dalam dosis yang tepat, tetapi apakah ada cara untuk menyeimbangkan antara kreativitas yang tak terbatas dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan?
-
Selanjutnya, faktor keempat, yaitu “you are a little bit mad”, juga membuka pandangan menarik. Dalam banyak kasus, orang yang dianggap “gila” karena berpikir berbeda sering kali menjadi pionir atau inovator dalam bidangnya. Contoh klasiknya adalah Steve Jobs, yang sering disebut memiliki cara berpikir yang berbeda dan berani mengambil keputusan-keputusan yang tidak lazim. Namun, apakah ada batasan di mana pemikiran yang terlalu ekstrem bisa merugikan seseorang? Apakah ada contoh di mana kegilaan dalam berpikir atau bertindak justru berujung pada kegagalan besar?
-
Kemudian, mengenai “very talented”, saya ingin bertanya lebih dalam mengenai konsep bakat ini. Sering kali kita mendengar kisah orang-orang sukses yang sangat berbakat di bidangnya, seperti Mozart dalam musik atau Tiger Woods dalam golf. Namun, apakah bakat alami itu satu-satunya faktor penentu kesuksesan mereka? Saya rasa banyak juga orang yang memiliki bakat luar biasa, tapi tidak berhasil mencapai kesuksesan yang sama. Apakah menurut Kak Kaspar, bakat saja sudah cukup, ataukah bakat perlu dipadukan dengan usaha yang tak kenal henti dan ketekunan untuk benar-benar berhasil?
-
Masuk ke alasan ketiga, yaitu “you are on a growing business sector”, saya tertarik dengan konsep ini karena kita tahu bahwa banyak orang yang sukses dalam bidang yang sedang tren. Sebagai contoh, sektor teknologi dan internet memang telah menjadi lahan yang sangat menguntungkan dalam beberapa dekade terakhir. Tapi, seberapa besar faktor keberhasilan ini didorong oleh konteks waktu? Misalnya, apakah kita harus menunggu untuk masuk ke dalam sektor yang sedang berkembang, ataukah ada cara untuk memanfaatkan sektor yang lebih mapan dan masih menghasilkan potensi kesuksesan yang besar?
-
Terkait dengan faktor pertama, yaitu “luck” atau keberuntungan, saya merasa banyak orang yang terlalu menyepelekan pentingnya kesempatan dalam hidup. Memang benar bahwa keberuntungan bisa datang begitu saja, tapi apakah itu berarti kita hanya bisa menunggu tanpa melakukan apa-apa? Mungkin bisa dikatakan bahwa keberuntungan sering kali datang pada mereka yang sudah mempersiapkan diri dengan baik. Misalnya, seseorang yang sudah memiliki keahlian atau pengetahuan yang mendalam dalam suatu bidang mungkin akan lebih mudah mendapatkan kesempatan besar ketika peluang itu muncul. Dalam hal ini, mungkin ada hubungan antara kesiapan kita dengan tingkat keberuntungan yang kita alami.
-
Terima kasih Kak Kaspar sudah berbagi pandangan mengenai 4 alasan untuk sukses menurut Edward D’Bono. Pembahasan ini sangat menarik karena membuka wawasan bahwa kesuksesan tidak hanya bergantung pada satu faktor saja, melainkan kombinasi dari berbagai aspek yang kadang-kadang sulit untuk disadari. Saya setuju bahwa keberuntungan (luck), bakat luar biasa (very talented), berada di sektor bisnis yang sedang berkembang (growing business sector), dan sedikit kegilaan (a little bit mad) memang merupakan faktor-faktor yang bisa berperan penting dalam mencapai kesuksesan.
-
Tulisan ini terasa ringkas, informatif, dan membuka perspektif tentang sukses dari sudut pandang yang tidak menggurui. Mengaitkan pemikiran Edward de Bono membuat isinya kredibel dan memberi bobot intelektual, apalagi dengan contoh-contoh konkret yang mudah dipahami.
Saya suka karena tulisan ini jujur: sukses tidak selalu soal kerja keras semata. Ada faktor keberuntungan, bakat, momentum sektor, bahkan keberanian untuk “sedikit gila” — keluar dari pola umum dan berani berbeda. Poin you are on a growing business sector terasa sangat relevan dengan kondisi zaman sekarang, di mana timing dan konteks sering kali sama pentingnya dengan kemampuan pribadi.
Mungkin akan makin kuat jika di bagian akhir ditambahkan refleksi bahwa meski tidak semua faktor bisa kita kendalikan (seperti luck atau bakat), kita tetap bisa memilih keberanian untuk berpikir berbeda dan peka membaca peluang. Secara keseluruhan, ini tulisan yang sederhana namun memancing pembaca untuk berpikir ulang tentang definisi sukses yang selama ini diyakini.
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Peringkat Top Contributor
- #1
Joko SiyamtoPoints: 287 - #2
KASPAR PURBAPoints: 200 - #3 ENING AYU PRIHATININGSIHPoints: 107
- #4
LiaPoints: 100 - #5 Edi GunawanPoints: 54
Artikel dengan topic tag terkait:
Tag : All
- Kuis Spesial Menyambut Tahun Baru 2025!11 December 2024 | General
- 7 Hari Perjalanan Kecil Menuju Versi Terbaikmu16 September 2025 | General
- Mekari Community Giveaway Tiket Mekari Conference 202423 July 2024 | General
- Suara Rakyat, Antara Harapan dan Tantangan4 September 2025 | General
- Karyawan Teng-Go Pulang Tepat Waktu8 July 2025 | General