Apakah anda mencari sesuatu?

  • This topic has 11 replies, 2 voices, and was last updated 1 month ago by Lia.

Apakah Sistem Kerja Kita Sudah Selevel dengan Target Kita?

December 18, 2025 at 4:25 pm
image
    • Lia
      Participant
      GamiPress Thumbnail
      Image 11 replies
      View Icon 30 views
        Up
        0
        ::

        Teman-teman, saya ingin berbagi satu refleksi yang akhir-akhir ini cukup mengusik cara saya memandang kerja, target, dan kepemimpinan.

        Banyak dari kita adalah orang-orang yang serius bekerja. Kita punya target, deadline, KPI, rencana tahunan, bahkan rencana lima tahunan. Kita terbiasa berpikir strategis, analitis, dan berorientasi hasil. Namun menariknya, meskipun target semakin jelas dan ambisi semakin tinggi, tidak sedikit yang merasa lelah, reaktif, bahkan stuck di level yang sama.

        Di titik ini, muncul satu pertanyaan penting:
        apakah masalahnya benar-benar pada target yang kurang besar, atau justru pada sistem kerja yang tidak ikut bertumbuh?

        Ada satu kalimat yang cukup menampar:
        Kita tidak naik ke level tujuan kita. Kita naik ke level sistem yang kita bangun.

        Sering kali kita mengejar goal baru tanpa mengevaluasi cara kerja lama. Target ditambah, tanggung jawab diperluas, beban diperbesar, tetapi pola kerja, cara mengambil keputusan, cara berkomunikasi, dan cara mengelola energi tetap sama. Akhirnya yang berubah hanya intensitas, bukan kualitas.

        Dalam konteks profesional dan kepemimpinan, sistem bukan sekadar kebiasaan pribadi seperti bangun pagi atau to-do list. Sistem adalah cara kita mengoperasikan diri dan tim secara konsisten. Bagaimana kita membuat keputusan saat emosi tinggi. Bagaimana kita berkomunikasi di bawah tekanan. Bagaimana kita mendelegasikan, menetapkan prioritas, dan membangun budaya kerja.

        Banyak orang bekerja keras, tapi sedikit yang bekerja dengan sadar.
        Banyak leader sibuk, tapi belum tentu berdampak.

        Pemimpin yang skalanya naik bukan karena jam kerjanya bertambah, tetapi karena cara kerjanya berubah. Mereka tahu apa yang hanya bisa mereka lakukan, dan berani melepas sisanya. Mereka tidak bereaksi di setiap situasi, tetapi memberi jeda sebelum merespons. Mereka mengatur energi sebelum mengatur jadwal. Mereka membangun kejelasan lebih dulu, baru kecepatan.

        Dalam dunia keuangan, pajak, dan bisnis, kita paham bahwa sistem yang buruk akan menghasilkan risiko, inefisiensi, dan kesalahan berulang. Anehnya, dalam mengelola diri sendiri dan tim, kita sering mengandalkan improvisasi dan daya tahan semata.

        Mungkin refleksi penting untuk kita semua adalah:
        apakah sistem kerja kita hari ini masih relevan dengan tanggung jawab kita sekarang?
        Atau kita sedang memaksakan target level baru dengan sistem level lama?

        Kadang yang kita butuhkan bukan target baru, resolusi baru, atau tekanan baru.
        Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk berhenti sejenak, melihat cara kerja kita dengan jujur, lalu memperbaiki sistemnya.

        Karena ketika sistemnya naik level, hasil akan mengikuti.
        Dan ketika sistemnya sehat, keberhasilan tidak lagi mengorbankan kewarasan.

        Semoga bisa jadi bahan refleksi bersama.

      • Albert Yosua Matatula
        Participant
        GamiPress Thumbnail
        Image 11 replies
        View Icon 30 views

          Terima kasih banyak Kak Lia atas refleksi yang sangat menohok dan jujur. Tulisan ini membuat saya berhenti sejenak dan mengevaluasi kembali cara saya bekerja selama ini. Selama ini saya merasa sudah cukup disiplin dengan target dan deadline, tetapi setelah membaca ini, saya sadar bahwa disiplin terhadap target belum tentu sejalan dengan kematangan sistem kerja yang saya miliki.

        • Albert Yosua Matatula
          Participant
          GamiPress Thumbnail
          Image 11 replies
          View Icon 30 views

            Kalimat “kita tidak naik ke level tujuan kita, kita naik ke level sistem yang kita bangun” benar-benar membuka perspektif baru. Selama ini saya sering berpikir bahwa ketika target tidak tercapai, solusinya adalah bekerja lebih keras atau menambah jam kerja. Padahal bisa jadi masalah utamanya bukan di usaha, tetapi di cara kerja yang tidak lagi relevan dengan tuntutan saat ini.

          • Albert Yosua Matatula
            Participant
            GamiPress Thumbnail
            Image 11 replies
            View Icon 30 views

              Saya juga merasa relate dengan bagian tentang intensitas yang naik, tetapi kualitas yang stagnan. Ada fase di mana kesibukan terasa produktif, namun setelah dijalani, hasilnya tidak sebanding dengan energi yang terkuras. Dari sini saya mulai bertanya, apakah saya benar-benar sedang membangun sistem, atau hanya bertahan dengan kebiasaan lama yang terasa “aman”.

            • Albert Yosua Matatula
              Participant
              GamiPress Thumbnail
              Image 11 replies
              View Icon 30 views

                Bagian tentang kepemimpinan juga sangat menarik. Sistem yang mencakup cara mengambil keputusan, berkomunikasi saat tertekan, hingga mengelola emosi sering kali luput dari evaluasi. Padahal justru di titik-titik itulah kualitas seorang profesional dan leader diuji. Saya menyadari bahwa tanpa sistem yang sadar, kita mudah terjebak dalam pola reaktif.

              • Albert Yosua Matatula
                Participant
                GamiPress Thumbnail
                Image 11 replies
                View Icon 30 views

                  Pertanyaan saya untuk Kak Lia, bagaimana cara paling realistis untuk mulai mengevaluasi sistem kerja kita sendiri? Apakah ada indikator atau tanda-tanda tertentu yang bisa membantu kita menyadari bahwa sistem yang kita pakai sudah tidak selevel dengan tanggung jawab saat ini?

                  • Lia
                    Participant
                    GamiPress Thumbnail
                    Image 11 replies
                    View Icon 30 views

                      Terima kasih pertanyaannya, ini justru inti dari refleksi itu sendiri.

                      Menurut saya, cara paling realistis untuk mulai mengevaluasi sistem kerja bukan dengan langsung mengubah banyak hal, tapi dengan memperhatikan sinyal-sinyal kecil yang berulang.

                      Beberapa indikator sederhana yang sering muncul ketika sistem kita sudah tidak selevel dengan tanggung jawab, misalnya:

                      Kita semakin sibuk, tapi dampaknya terasa stagnan.
                      Keputusan-keputusan penting sering dibuat dalam kondisi reaktif atau kelelahan.
                      Hal-hal strategis terus tertunda karena tersedot ke urusan operasional.
                      Kita merasa “selalu dibutuhkan”, tapi justru itu membuat kita sulit naik level.
                      Di titik itu, biasanya masalahnya bukan di kapasitas atau niat, tapi di cara kerja yang belum diperbarui.

                      Evaluasi sistem bisa dimulai dari pertanyaan sederhana ke diri sendiri:
                      “Apa saja yang saat ini hanya saya lakukan karena kebiasaan, bukan karena memang hanya saya yang bisa melakukannya?”
                      “Di mana saya paling sering kehilangan energi, fokus, atau kejernihan berpikir?”

                      Dari sana, perubahan kecil tapi konsisten bisa mulai dilakukan—bukan menambah jam kerja, tapi memperbaiki cara mengambil keputusan, cara berkomunikasi, dan cara memberi jeda sebelum merespons.

                      Menurut saya, sistem yang masih relevan itu bukan yang membuat kita terlihat sibuk, tapi yang membantu kita tetap jernih, berdampak, dan berkelanjutan di level tanggung jawab yang lebih besar.

                  • Albert Yosua Matatula
                    Participant
                    GamiPress Thumbnail
                    Image 11 replies
                    View Icon 30 views

                      Selain itu, dalam praktik sehari-hari, bagaimana cara membedakan antara “bekerja keras” dan “bekerja dengan sadar”? Karena terkadang keduanya terasa mirip, terutama ketika berada di bawah tekanan target dan ekspektasi dari berbagai pihak.

                      • Lia
                        Participant
                        GamiPress Thumbnail
                        Image 11 replies
                        View Icon 30 views

                          Pertanyaan ini sangat relevan, karena memang di bawah tekanan, bekerja keras dan bekerja dengan sadar sering terasa serupa dari luar. Keduanya sama-sama terlihat sibuk, fokus, dan berkomitmen.

                          Perbedaannya biasanya bukan di intensitas, tapi di kesadaran dan arah.

                          Bekerja keras sering kali ditandai dengan dorongan untuk segera menuntaskan semuanya: cepat merespons, menutup semua celah, dan memastikan tidak ada yang terlewat. Di situ fokusnya banyak terserap ke apa yang harus segera dilakukan. Energinya besar, tapi sering tersebar.

                          Sementara bekerja dengan sadar dimulai dari pertanyaan yang sedikit lebih pelan: “Apa yang paling penting untuk dikerjakan sekarang, dan apa yang sebenarnya bisa menunggu?” Ada jeda sebelum bertindak. Bukan menunda, tapi memilih dengan sengaja.

                          Secara praktis, saya biasanya membedakannya dari beberapa tanda sederhana:

                          Jika di akhir hari kita lelah tapi tidak jelas apa yang benar-benar maju, sering kali kita sedang bekerja keras.
                          Jika di akhir hari energinya tetap terpakai, tapi ada rasa arah, kejelasan, dan satu-dua keputusan penting yang berdampak, biasanya kita sedang bekerja dengan sadar.
                          Di bawah tekanan target dan ekspektasi, bekerja dengan sadar bukan berarti mengurangi standar, melainkan mengelola fokus dan energi dengan lebih disiplin. Kita tetap bertanggung jawab, tapi tidak bereaksi pada semuanya.

                          Menurut saya, perbedaan ini tidak selalu terlihat dari luar. Namun dampaknya terasa jelas di dalam—pada kualitas keputusan, keberlanjutan energi, dan kemampuan kita untuk naik level tanpa harus mengorbankan kewarasan.

                      • Albert Yosua Matatula
                        Participant
                        GamiPress Thumbnail
                        Image 11 replies
                        View Icon 30 views

                          Terakhir, bagaimana cara menjaga konsistensi ketika kita sudah mulai membangun sistem kerja yang lebih sehat, tetapi lingkungan sekitar masih menuntut kecepatan, respons instan, dan multitasking berlebihan? Bagaimana agar kita tidak kembali ke pola lama?

                          • Lia
                            Participant
                            GamiPress Thumbnail
                            Image 11 replies
                            View Icon 30 views

                               

                              Pertanyaan ini sangat relevan, karena tantangan terbesar dari sistem kerja yang sehat memang bukan saat kita merancangnya, tapi saat kita mempertahankannya di tengah lingkungan yang masih menuntut serba cepat.

                              Menurut saya, konsistensi tidak dijaga dengan niat yang kuat saja, tetapi dengan batasan yang jelas dan berulang.

                              Secara praktis, ada beberapa hal yang membantu saya agar tidak kembali ke pola lama:

                              Pertama, saya berhenti mencoba merespons semuanya dengan cepat. Saya memilih untuk jelas terlebih dahulu—tentang apa yang benar-benar perlu respons instan, dan apa yang sebenarnya hanya terlihat mendesak. Kejelasan ini sering kali lebih dihargai daripada kecepatan semu.

                              Kedua, saya menyadari bahwa sistem kerja yang sehat tidak selalu akan populer di awal. Ada fase di mana kita terlihat “melambat”, padahal sebenarnya sedang menata ulang cara kerja. Di fase ini, penting untuk tetap konsisten, meski lingkungan belum sepenuhnya menyesuaikan.

                              Ketiga, saya menjaga sistem tetap sederhana dan realistis. Bukan sistem yang sempurna, tapi sistem yang bisa dijalani saat tekanan tinggi. Biasanya cukup satu-dua kebiasaan kunci yang dijaga, daripada mencoba mengubah semuanya sekaligus.

                              Dan mungkin yang paling penting, saya mengingat kembali alasan kenapa sistem ini dibangun sejak awal—bukan untuk terlihat produktif, tetapi agar keputusan tetap jernih, energi terjaga, dan dampak tetap berkelanjutan.

                              Menurut saya, kita tidak perlu melawan lingkungan dengan keras. Cukup dengan konsisten menunjukkan kualitas hasil dan ketenangan dalam cara bekerja. Perlahan, lingkungan akan menyesuaikan—atau setidaknya, kita tidak lagi dikendalikan olehnya.

                          • Albert Yosua Matatula
                            Participant
                            GamiPress Thumbnail
                            Image 11 replies
                            View Icon 30 views

                              Sekali lagi terima kasih Kak Lia atas refleksi ini. Tulisan ini bukan hanya membuka wawasan, tetapi juga mengajak kami untuk lebih jujur pada diri sendiri. Semoga diskusi ini bisa membantu banyak orang untuk naik level bukan hanya dari sisi target, tetapi juga dari cara kerja dan kewarasannya.

                          Viewing 8 reply threads
                          • You must be logged in to reply to this topic.
                          Image

                          Bergabung & berbagi bersama kami

                          Terhubung dan dapatkan berbagai insight dari pengusaha serta pekerja mandiri untuk perluas jaringan bisnis Anda!