Apakah anda mencari sesuatu?

  • This topic has 0 replies, 1 voice, and was last updated 1 week, 1 day ago by Amilia Desi Marthasari.

Tentang Kecil yang Bertahan dan Besar yang Punah

January 27, 2026 at 3:08 pm
image
    • Amilia Desi Marthasari
      Participant
      GamiPress Thumbnail
      Image 0 replies
      View Icon 6 views
        Up
        0
        ::

        Pada zaman yang sangat, sangat lama, ketika bumi masih dipenuhi hutan purba dan suara langkah raksasa mengguncang tanah, hiduplah makhluk-makhluk besar yang disebut dinosaurus. Tubuh mereka menjulang, gigi mereka tajam, dan raungan mereka membuat seluruh alam tunduk. Mereka adalah penguasa bumi. Tak ada yang berani melawan. Tak ada yang berani menentang.

        Di balik gemuruh dunia raksasa itu, ada makhluk kecil yang nyaris tak terlihat. Tubuhnya mungil, langkahnya senyap, dan hidupnya sederhana. Ia adalah seekor cicak.

        Tak ada yang memperhatikan cicak. Tak ada yang menganggapnya penting. Bahkan dinosaurus pun tak pernah peduli akan keberadaannya.

        Namun, dunia punya cara sendiri untuk mengajarkan makna bertahan hidup.

        Dunia Para Raksasa
        Dinosaurus hidup dengan keyakinan bahwa kekuatan adalah segalanya. Siapa yang paling besar, dialah yang paling berkuasa. Siapa yang paling keras suaranya, dialah yang paling ditakuti. Mereka menguasai wilayah luas, memakan apa pun yang mereka inginkan, dan berjalan tanpa rasa khawatir.

        “Tak ada yang bisa mengalahkan kita,” kata Tyrano, dinosaurus terbesar di lembah selatan.
        “Bumi ini milik kita,” sahut yang lain dengan tawa menggema.

        Mereka tak pernah berpikir tentang masa depan. Mereka tak pernah membayangkan perubahan. Dunia, menurut mereka, akan selalu sama—dan mereka akan selalu di puncak.

        Sementara itu, cicak hidup berbeda.

        Hidup Si Kecil
        Cicak tidak hidup dengan rasa sombong. Ia hidup dengan kewaspadaan. Setiap hari adalah perjuangan. Ia belajar membaca tanda-tanda alam, merasakan perubahan suhu, bersembunyi ketika bahaya datang, dan berpindah ketika tempat tak lagi aman.

        Ia tak punya gigi tajam, tak punya tubuh besar, tak punya raungan menakutkan. Yang ia miliki hanyalah kemampuan beradaptasi.

        Saat panas terik, ia mencari celah batu.
        Saat hujan deras, ia bersembunyi di balik daun.
        Saat makanan sulit, ia menunggu dengan sabar.

        Cicak tahu satu hal:
        yang kecil harus cerdas, bukan keras.

        Ketika Alam Berubah
        Suatu hari, langit berubah warna. Matahari tak lagi bersinar hangat seperti biasanya. Udara menjadi dingin, angin berhembus aneh, dan bumi mulai bergetar.

        Para dinosaurus kebingungan.

        “Apa yang terjadi?”
        “Ini hanya gangguan kecil,” kata mereka, menenangkan diri dengan keangkuhan.

        Namun hari demi hari, perubahan semakin nyata. Makanan mulai sulit didapat. Tumbuhan mati. Suhu turun drastis.

        Para dinosaurus yang terbiasa hidup nyaman mulai kelaparan. Tubuh besar mereka membutuhkan makanan banyak, tapi alam tak lagi menyediakan.

        Mereka marah. Mereka mengaum. Mereka menyalahkan langit.

        Tapi alam tidak mendengar.

        Cicak dan Pilihan Bertahan
        Di tengah kekacauan itu, cicak melakukan hal yang selalu ia lakukan: beradaptasi.

        Ia mengubah kebiasaannya.
        Ia berpindah tempat.
        Ia memperlambat gerak.
        Ia menghemat energi.

        Saat dinosaurus memaksa alam mengikuti kehendaknya, cicak memilih mengikuti irama alam.

        Ia tidak melawan badai. Ia bersembunyi.
        Ia tidak menantang dingin. Ia menyesuaikan diri.

        Cicak mengerti satu kebenaran sederhana:
        Bukan yang terkuat yang bertahan, tapi yang paling mampu berubah.

        Kepunahan Para Raksasa
        Waktu berlalu. Dunia semakin dingin dan keras. Satu per satu dinosaurus tumbang. Tubuh besar yang dulu gagah kini tergeletak tak berdaya. Raungan yang dulu menakutkan kini sunyi.

        Mereka kalah bukan karena diserang musuh, tetapi karena tak mampu berubah.

        Mereka terlalu besar untuk menyesuaikan diri.
        Terlalu sombong untuk belajar.
        Terlalu yakin bahwa kekuatan adalah segalanya.

        Dan akhirnya, mereka pun punah.

        Cicak… tetap hidup.

        Ketika Dunia Baru Dimulai
        Setelah badai besar berlalu, bumi perlahan tenang. Hutan tumbuh kembali. Matahari kembali hangat. Dunia berubah, tapi kehidupan berlanjut.

        Cicak berjalan di atas batu yang dulu dilalui kaki dinosaurus. Tak ada sorak kemenangan. Tak ada rasa bangga berlebihan.

        Ia hanya melanjutkan hidup.

        Ia bukan pemenang dalam peperangan.
        Ia adalah penyintas dalam perubahan.

        Makna di Balik Dongeng
        Dongeng cicak dan dinosaurus bukan sekadar cerita tentang hewan. Ini adalah cermin kehidupan manusia.

        Di dunia ini, banyak yang merasa seperti dinosaurus:
        merasa paling kuat, paling benar, paling berkuasa.
        merasa tak perlu belajar, tak perlu berubah.

        Namun dunia terus bergerak.
        Teknologi berubah.
        Zaman berubah.
        Cara hidup berubah.

        Dan sering kali, yang tumbang bukan yang lemah—melainkan yang keras kepala.

        Sementara mereka yang tampak kecil, sederhana, dan rendah hati justru bertahan. Mereka belajar, menyesuaikan diri, dan tidak malu berubah.

        Tentang Kerja dan Kehidupan
        Di tempat kerja, “dinosaurus” bisa berupa orang yang merasa paling senior.
        Di organisasi, “dinosaurus” bisa berupa sistem lama yang menolak pembaruan.
        Dalam hidup, “dinosaurus” bisa berupa ego yang terlalu besar untuk belajar.

        Sedangkan “cicak” adalah mereka yang mau mendengar, mau belajar, dan mau berubah meski perlahan.

        Tak selalu yang paling vokal yang bertahan.
        Tak selalu yang paling dominan yang sukses.

        Sering kali, yang bertahan adalah mereka yang fleksibel dan sadar diri.

        Penutup
        Dongeng ini mengajarkan kita satu hal penting:

        Hidup bukan tentang menjadi yang paling besar, tapi tentang menjadi yang paling mampu bertahan.
        Jangan takut menjadi cicak.
        Jangan malu menjadi kecil.
        Karena dunia tidak dimenangkan oleh yang paling kuat—
        melainkan oleh mereka yang paling siap menghadapi perubahan.

        Dan ketika zaman kembali berganti,
        yang tersisa bukan raungan,
        melainkan ketangguhan.

    Viewing 0 reply threads
    • You must be logged in to reply to this topic.
    Image

    Bergabung & berbagi bersama kami

    Terhubung dan dapatkan berbagai insight dari pengusaha serta pekerja mandiri untuk perluas jaringan bisnis Anda!