
Ini skenario yang sering banget terjadi di perusahaan Indonesia yang sedang tumbuh dimana tim IT dapat request dari Finance, Operasional, dan HR sekaligus. Semua bilang “urgent” tapi developer cuma 3 sampai 5 orang. Dan di tengah itu semua, sistem yang sudah ada tetap harus di-maintain.
Hasilnya? Backlog yang tidak pernah habis.
Bukan karena tim IT tidak kerja keras, tapi karena demand tumbuh jauh lebih cepat dari kapasitas yang ada.
Skala masalahnya sudah besar
Secara global, 90% developer mengakui bahwa platform low-code/no-code (LCNC) membantu mereka mengelola backlog secara signifikan. Gartner memproyeksikan 75% aplikasi enterprise baru akan dibangun menggunakan LCNC pada 2026.
Di Indonesia, tantangannya lebih berat lagi. Pemerintah sendiri sudah mengakui adanya proyeksi kekurangan talenta digital sebesar 3 sampai 6 juta orang pada 2030. Artinya, solusi “tambah developer” tidak akan pernah cukup cepat untuk mengejar kebutuhan yang ada.
Apa yang berubah dari LCNC di 2026?
Dulu, LCNC identik dengan hal-hal sederhana seperti form builder atau workflow dasar. Sekarang sudah berbeda.
Platform LCNC enterprise-grade hari ini sudah mampu menangani:
- Integrasi multi-sistem (ERP, HRIS, CRM, database custom)
- Approval workflow multi-level dengan business logic yang kompleks
- Custom aplikasi internal yang bisa di-deploy tanpa full coding cycle
- Automasi proses lintas divisi
Yang lebih penting, LCNC sekarang memungkinkan konsep citizen developer, di mana orang yang paling paham proses bisnisnya bisa ikut membangun solusinya sendiri, dengan governance tetap di tangan IT.
Gartner bahkan memproyeksikan 80% pengguna platform LCNC pada 2026 akan berasal dari luar departemen IT. IT tidak lagi jadi satu-satunya gerbang, tapi jadi enabler dari ekosistem yang lebih luas.
Apa manfaat konkretnya untuk perusahaan Indonesia?
- Lebih cepat ke market. Workflow yang biasanya butuh 3 sampai 6 bulan siklus development, bisa dibangun dalam hitungan minggu.
- Tim IT yang lebih fokus. Kebutuhan digital rutin bisa didelegasikan ke citizen developer yang terlatih. Developer bisa fokus ke arsitektur dan inovasi strategis.
- Lebih efisien dari sisi biaya. Rekrutmen senior developer di Indonesia semakin kompetitif. LCNC memaksimalkan kapasitas yang sudah ada.
- Lebih fleksibel menghadapi perubahan. Regulasi dan kebutuhan operasional bisa berubah cepat. Kemampuan modifikasi sistem secara mandiri adalah keunggulan kompetitif yang nyata.
Salah satu opsi yang layak dipertimbangkan: Mekari Officeless💡
Untuk perusahaan yang sudah dalam ekosistem Mekari, ada satu opsi yang menarik untuk dieksplorasi yaitu Mekari Officeless.
Officeless adalah platform LCNC yang dibangun untuk kebutuhan bisnis lokal, dengan integrasi langsung ke sistem internal Mekari seperti Talenta, Jurnal, dan Qontak tanpa perlu membangun koneksi dari nol. Tersedia dalam tiga mode, mulai dari self-serve LCNC, custom development dengan dukungan tim Mekari, hingga modul yang sudah siap pakai.
Diskusi yuk!
IT backlog itu masalah nyata yang jarang dibahas secara terbuka. Saya pribadi penasaran dengan kondisi di lapangan, terutama seputar seberapa besar backlog yang tim IT teman-teman hadapi sekarang. Dan apakah sudah ada yang pernah coba pendekatan LCNC untuk mengatasinya?
Share di kolom komentar ya, tidak ada jawaban yang salah di sini. Justru dari berbagi kondisi yang berbeda-beda, kita bisa belajar lebih banyak bersama. 👇