Menjelang ulang tahun kemerdekaan RI yang ke-80, pertanyaan besar kembali menggema: apakah kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan nyawa benar-benar telah dirasakan oleh seluruh rakyat? Mei 1998 adalah tonggak keberanian rakyat melawan kekuasaan yang menyimpang, namun 26 tahun kemudian, semangat reformasi seolah memudar di tengah realita ekonomi yang tak berpihak pada rakyat. Pertumbuhan ekonomi stagnan di bawah target, utang luar negeri membengkak hingga Rp7.100 triliun, dan stimulus hanya menjadi tambal sulam atas masalah struktural yang tak kunjung terselesaikan. Kenaikan PPN, pemutihan hukuman koruptor, dan kebijakan ekonomi yang lebih menguntungkan elite dibanding rakyat kecil makin menunjukkan bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kita layak bertanya: benarkah kita sudah merdeka, atau hanya berpindah dari penjajahan asing ke tekanan kebijakan dalam negeri yang tak berpihak?