- This topic has 6 replies, 4 voices, and was last updated 1 month ago by
Lia.
Disiplin Bukan Sekadar Aturan: Belajar dari Masalah Kedisiplinan di ShopeeFood
July 7, 2025 at 3:10 pm-
-
Up::1
Dalam dunia kerja, disiplin bukan lagi sekadar patuh pada aturan jam masuk atau seragam rapi. Ia adalah nafas utama dari profesionalisme. Jika kedisiplinan diabaikan, maka bukan hanya reputasi individu yang rusak, tetapi juga kredibilitas perusahaan yang ikut tercoreng. Salah satu contoh nyata yang baru-baru ini ramai dibahas adalah kasus keterlambatan dan ketidaksopanan mitra pengemudi ShopeeFood yang viral di media sosial.
Studi Kasus: Isu Kedisiplinan Mitra ShopeeFood
Beberapa waktu lalu, seorang pelanggan ShopeeFood membagikan pengalaman buruknya melalui media sosial X (dulu Twitter). Ia mengeluhkan keterlambatan driver yang berujung pada makanannya menjadi dingin, serta komunikasi driver yang dianggap kurang sopan. Meskipun ShopeeFood memiliki sistem yang ketat soal waktu pengambilan dan pengantaran, kelalaian ini terjadi karena faktor kedisiplinan mitra yang tidak menjalankan tugas sesuai SOP.ShopeeFood pun merespons dengan cepat, meminta maaf dan memberikan klarifikasi bahwa mereka akan melakukan investigasi dan evaluasi terhadap mitra tersebut. Namun, isu ini sudah terlanjur viral, dan sebagian pelanggan mulai meragukan kualitas layanan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa satu kelalaian saja bisa merusak citra profesional perusahaan yang dibangun bertahun-tahun.
Mengapa Kedisiplinan Itu Krusial?
Menjaga Kepercayaan Pelanggan dan Tim
Disiplin adalah bentuk tanggung jawab. Dalam kasus ShopeeFood, pelanggan merasa dikecewakan karena ekspektasi terhadap kecepatan dan layanan yang prima tidak terpenuhi. Padahal, kepercayaan pelanggan dibangun dari konsistensi pelayanan—yang hanya bisa dicapai jika setiap individu disiplin menjalankan perannya.Cerminan Etika dan Profesionalisme
Ketika seseorang bekerja, ia bukan hanya membawa nama pribadi, tetapi juga nama perusahaan. Setiap tindakan—tepat waktu atau tidak, ramah atau tidak—akan dinilai sebagai representasi perusahaan.Efisiensi dan Produktivitas
Dalam sistem kerja tim, satu orang yang tidak disiplin bisa menjadi penghambat alur kerja. Jika seorang pengemudi telat, makanan basi. Jika staf administrasi tidak update laporan, keputusan jadi salah. Semua terhubung.Pelajaran yang Bisa Diambil
Disiplin Harus Dibentuk, Bukan Diandalkan
Jangan hanya berharap semua orang akan disiplin dengan sendirinya. Perlu ada sistem, pelatihan, dan evaluasi berkala. Dalam konteks ShopeeFood, pelatihan ulang atau sistem penalti-reward bagi mitra mungkin bisa menjadi solusi.Disiplin Itu Budaya, Bukan Sekadar Peraturan
Budaya kerja yang baik adalah yang menjadikan disiplin sebagai bagian dari kebiasaan, bukan tekanan. Ketika setiap individu merasa bertanggung jawab atas perannya, maka kedisiplinan akan tumbuh secara alami.Teknologi Tak Akan Berarti Tanpa Etika Kerja
Sistem canggih ShopeeFood dengan pelacakan waktu, status order, dan fitur komunikasi tetap tidak bisa menjamin kualitas layanan jika manusianya tidak berkomitmen. Teknologi hanya alat; manusialah penggeraknya.Kedisiplinan bukan hanya urusan datang tepat waktu atau mengikuti SOP. Ia adalah fondasi dari kepercayaan, produktivitas, dan keberlangsungan bisnis. Dari kasus ShopeeFood, kita belajar bahwa satu bentuk kelalaian bisa menciptakan badai kritik. Maka, sebelum kita bicara tentang “maju”, pastikan dulu bahwa kita semua disiplin dalam melangkah.
-
Wah saya adalah konsumen ShopeFood, memang ada perbedaan antara ShopeFood dengan Aplikator lain. Mitra ShopeeFood sangat ketat sekali terhadap SOP para mitranya, makanya klo pesan di Shopee Food kita harus kasih perintah yg jelas, krna setiap menit para mitranya adalah Cuan.
-
Saya setuju dengan Pak Widdy—di lapangan, setiap menit memang berarti bagi mitra seperti driver ShopeeFood. Ini menunjukkan bahwa ada tekanan besar untuk efisien, namun juga membuka celah ketika disiplin atau komunikasi tidak berjalan optimal. Memberi perintah yang jelas bisa membantu, tapi tetap perlu diimbangi dengan pelatihan karakter dan etika layanan yang konsisten
-
-
Tulisan ini sangat membuka mata. Selama ini banyak dari kita menganggap disiplin itu hanya soal datang tepat waktu atau mengenakan seragam yang sesuai. Padahal, seperti yang dijelaskan, disiplin adalah cerminan tanggung jawab, profesionalisme, dan etika kerja seseorang.
Kasus mitra ShopeeFood ini jadi contoh nyata bagaimana satu tindakan kecil yang melenceng dari sikap disiplin bisa berdampak besar—bukan cuma ke pelanggan, tapi juga ke citra perusahaan. Mirisnya, reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam hitungan jam gara-gara satu insiden.
Saya setuju bahwa disiplin itu harus dibentuk, bukan sekadar diharapkan. Perusahaan harus aktif menciptakan budaya kerja yang sehat, bukan hanya menegakkan aturan. Karena kalau budaya sudah terbentuk, disiplin jadi kebiasaan, bukan keterpaksaan.
Dan bagian paling mengena: “Teknologi tak akan berarti tanpa etika kerja.” Banyak yang mengandalkan sistem canggih, lupa bahwa ujung-ujungnya tetap manusia yang menjalankan. Tulisan ini jadi pengingat penting, terutama di era digital seperti sekarang.
Terima kasih untuk perspektif yang dalam dan relevan ini. Semoga banyak pihak yang tergerak untuk membenahi dari dalam, bukan hanya merespons saat masalah muncul.
-
Pendekatan Bu Lia juga sangat saya amini. Disiplin memang seharusnya tidak lagi dipandang sebagai “alat kontrol”, tapi sebagai bagian dari budaya dan nilai bersama. Saya pribadi merasakan, ketika disiplin sudah menjadi kebiasaan yang hidup dalam tim, kualitas kerja meningkat, dan rasa saling percaya juga lebih kuat. Yang menarik, budaya itu nggak bisa dibentuk hanya lewat aturan tertulis, tapi lewat keteladanan dan sistem yang mendukung.
-
-
Saya jadi teringat bahwa sering kali masalah disiplin tidak hanya soal individu yang “bandel” atau lalai, tapi juga tentang bagaimana sistem dan budaya kerja dibangun. Seperti kasus ShopeeFood, seketat apa pun SOP-nya, kalau tidak dibarengi pembentukan mindset dan tanggung jawab pribadi, akan tetap muncul celah.
Saya sepakat bahwa disiplin harus dibentuk dan dipelihara secara konsisten. Tapi saya juga ingin bertanya:
Menurut teman-teman, bagaimana caranya membangun budaya disiplin di tim yang anggotanya sangat beragam latar belakang dan gaya kerjanya?
Apakah cukup dengan aturan dan SOP, atau justru harus dimulai dari teladan dan pendekatan personal?Saya rasa ini jadi tantangan banyak perusahaan dan organisasi hari ini, terutama yang bergerak di sektor layanan langsung seperti logistik, transportasi, dan F&B.
-
Terima kasih, Pak Albert, pertanyaan yang sangat relevan dan menantang. Menurut saya, membangun budaya disiplin di tim dengan latar belakang dan gaya kerja beragam memang tidak mudah, dan tidak cukup hanya mengandalkan aturan dan SOP saja.
Pertama, saya percaya teladan dari pemimpin atau manajer sangat menentukan. Kalau pimpinan konsisten menunjukkan disiplin dan tanggung jawab, ini akan menular ke anggota tim. Budaya itu tumbuh dari contoh nyata, bukan sekadar perintah.
Kedua, pendekatan personal penting banget. Setiap orang punya motivasi dan tantangan yang berbeda, jadi komunikasi terbuka untuk memahami kebutuhan mereka sangat krusial. Misalnya, ada yang lebih produktif di jam tertentu, atau butuh dukungan untuk mengatasi kendala tertentu. Kalau hal ini diperhatikan, disiplin jadi sesuatu yang dimaknai bersama, bukan hanya dipaksakan.
Ketiga, pelatihan yang rutin dan dialog interaktif tentang nilai-nilai kerja juga membantu membentuk mindset disiplin. Jangan cuma soal “jangan terlambat” tapi lebih ke “kenapa tepat waktu itu penting untuk tim dan pelanggan”. Ini mengaitkan kedisiplinan dengan makna yang lebih luas.
Terakhir, sistem reward dan konsekuensi yang adil dan transparan juga jadi pendorong agar disiplin tetap terjaga.
Bagaimana menurut teman-teman lain? Apakah ada pengalaman seru atau cara unik yang pernah diterapkan di tempat kerja untuk membangun budaya disiplin?
-
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Peringkat Top Contributor
- #1 LiaPoints: 606
- #2 Albert YosuaPoints: 533
- #3 WIDDY FERDIANSYAHPoints: 375
- #4 Amilia Desi MarthasariPoints: 103
- #5 ERINA AIRINPoints: 56
Artikel dengan topic tag terkait:
Tag : All
- Kuis Spesial Menyambut Tahun Baru 2025!11 December 2024 | General
- Mekari Community Giveaway Tiket Mekari Conference 202423 July 2024 | General
- Karyawan Teng-Go Pulang Tepat Waktu8 July 2025 | General
- Valentine Edition: Ungkapkan Cintamu untuk Karier & Perusahaanmu6 February 2025 | General
- “Karyawan pencari muka: loyalitas atau manipulasi?”22 August 2025 | Human Resource