Home / Topics / Human Resource / Burnout & Kesehatan Mental
- This topic has 10 replies, 2 voices, and was last updated 4 days, 19 hours ago by
Amilia Desi Marthasari.
Burnout & Kesehatan Mental
August 21, 2025 at 8:10 am-
-
Up::0
Saya ingin ngangkat isu yang relatable banget. Burnout sekarang udah jadi “silent pandemic” di dunia kerja modern.
Banyak pekerja masih terjebak dalam budaya hustle. Target tinggi, lembur terus, dan akhirnya mental drop.
Kalau cuma fokus pada angka—KPI, target, revenue—lama-lama perusahaan bisa rugi lebih besar: turnover tinggi, produktivitas anjlok, bahkan brand employer jadi jelek.
Padahal kalau karyawan sehat mentalnya, efeknya langsung: lebih kreatif, lebih loyal, lebih produktif. Jadi sebenarnya, investasi di kesehatan mental itu sama pentingnya dengan investasi di mesin atau teknologi.
Burnout bukan sekadar “capek kerja.”
Ini akumulasi dari target tinggi, lembur tanpa henti, dan minimnya waktu pulih.
Hasilnya? Mental drop, produktivitas turun, bahkan bisa kehilangan makna bekerja.Banyak perusahaan masih terjebak: KPI & angka jadi segalanya.
Tapi lupa bahwa di balik angka ada manusia—dengan tubuh, pikiran, & hati yang terbatas. Kalau karyawan terus dipaksa “all out” tanpa ruang bernapas, perusahaan bisa kena dampak.Sebaliknya, perusahaan yang peduli kesehatan mental dapat efek positif.
Perusahaan seharusnya mulai menyeimbangkan target bisnis dengan kesejahteraan karyawan. Jadi sebenarnya, bukan “pilih salah satu”, melainkan mencari titik tengah: target bisnis tetap ada, tapi dicapai dengan cara yang manusiawi
Pertanyaannya:
Apakah sudah waktunya perusahaan menganggap kesehatan mental karyawan sebagai KPI juga?
Karena angka bisa dikejar, tapi manusia tak bisa diganti begitu saja.Bagaimana menurut kamu?
Apakah perusahaan seharusnya mulai menyeimbangkan target bisnis dengan kesejahteraan karyawan? -
Saya setuju dengan pendapat Kak Amilia tentang pentingnya menyeimbangkan target bisnis dengan kesejahteraan karyawan. Jika perusahaan terus memaksakan angka-angka tanpa memperhatikan kondisi mental karyawan, pada akhirnya hasilnya tidak akan seoptimal yang diharapkan. Bahkan bisa saja perusahaan yang tidak peduli dengan kesejahteraan karyawannya malah kehilangan karyawan-karyawan terbaiknya, yang pada akhirnya akan berdampak pada perusahaan itu sendiri.
-
Memang, budaya hustle yang terlalu ditekankan bisa merusak produktivitas, bahkan bisa menyebabkan turnover yang tinggi. Bukan cuma karyawan yang jadi kelelahan, tapi perusahaan juga yang akhirnya merugi karena hilangnya kreativitas dan loyalitas.
-
Terima kasih, Kak Amilia, sudah mengangkat isu yang sangat penting ini. Saya rasa banyak dari kita yang tidak sadar, kalau burnout ini sudah menjadi masalah yang sangat mengganggu di banyak tempat kerja, dan sering kali orang hanya menganggapnya sebagai “capek kerja biasa” tanpa melihat dampak jangka panjangnya.
-
Saya pikir ini adalah langkah yang sangat penting untuk menuju dunia kerja yang lebih sehat, dan saya ingin sekali mendengar pendapat Kak Amilia lebih lanjut.
-
Terakhir, adakah contoh atau perusahaan yang menurut Kak Amilia sudah berhasil dalam mengimplementasikan kesejahteraan karyawan dengan seimbang tanpa mengorbankan target bisnis? Jika ada, apa yang mereka lakukan yang bisa menjadi inspirasi bagi perusahaan lainnya?
-
Ada..
salah satu nya ialah Johnson & JohnsonProgram “Corporate Wellness” menyeluruh meliputi: pelatihan kesehatan, fitness, coaching, dan manajemen penyakit. Hasilnya: penurunan absensi, peningkatan produktivitas 25%, engagement naik 27%, serta penurunan tekanan darah, BMI, dan kolesterol. Perusahaan mengestimasi penghematan biaya tahunan hingga US$10 juta.
dan masih banyak lagi contoh dari perusahaan yang lain dengan program yang berbeda beda
-
-
Saya juga berpikir, mungkin ada tantangan untuk perusahaan yang belum terbiasa dengan konsep ini. Mungkin beberapa perusahaan lebih fokus pada hasil yang bisa dilihat langsung (seperti revenue atau profit) ketimbang indikator kesehatan mental. Dalam konteks ini, bagaimana menurut Kak Amilia perusahaan bisa mulai mengintegrasikan kesehatan mental sebagai bagian dari indikator keberhasilan (KPI) tanpa mengganggu tujuan utama bisnis mereka?
-
Selain itu, bagaimana menurut Kak Amilia tentang peran perusahaan dalam menciptakan budaya kerja yang lebih fleksibel dan memberi ruang bagi karyawan untuk menjaga keseimbangan hidup dan kerja? Misalnya, apakah pengaturan waktu kerja yang lebih fleksibel atau program dukungan kesehatan mental bisa menjadi solusi yang lebih tepat untuk mengurangi tingkat burnout ini?
-
Tapi, saya juga ingin bertanya: Menurut Kak Amilia, bagaimana cara yang efektif untuk mengukur kesehatan mental karyawan? Karena sejujurnya, hal ini sangat subjektif dan tidak bisa dinilai hanya dari angka-angka tertentu, kan?
-
Terima kasih kak albert atas pertanyaannya yang sangat kritis.
Memang sangat subjektif dan tidak bisa hanya diukur dengan angka seperti KPI, tetapi menurut pendapat saya cara mengukur kesehatan mental untuk karyawan bisa dilakukan dengan cara:
1. Mengisi Kuisioner – Menggunakan alat ukur yang sudah divalidasi secara global, misalnya
Maslach Burnout Inventory (MBI) → mengukur burnout. Alat ini memberikan gambaran tren, meski bukan diagnosis.
2. Survey – Daripada survei panjang setahun sekali, lakukan survei singkat (3–5 pertanyaan) tiap 1–2 bulan. Misalnya dengan pertanyaan yang biasanya releven dengan keadaan karywan
3. Kotak Suara Digital – Beri ruang aman bagi karyawan untuk bicara tanpa takut stigma. Misalnya aplikasi feedback anonim atau konseling daring yang terjaga kerahasiaannya.Angka memang membantu sebagai baseline, tapi yang terpenting adalah menciptakan ekosistem aman untuk bicara soal kesehatan mental.
-
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Peringkat Top Contributor
- #1 LiaPoints: 589
- #2 Albert YosuaPoints: 533
- #3 WIDDY FERDIANSYAHPoints: 375
- #4 Amilia Desi MarthasariPoints: 88
- #5 ERINA AIRINPoints: 56
Artikel dengan topic tag terkait:
Tag : All
- Kuis Spesial Menyambut Tahun Baru 2025!11 December 2024 | General
- Mekari Community Giveaway Tiket Mekari Conference 202423 July 2024 | General
- Karyawan Teng-Go Pulang Tepat Waktu8 July 2025 | General
- Valentine Edition: Ungkapkan Cintamu untuk Karier & Perusahaanmu6 February 2025 | General
- “Karyawan pencari muka: loyalitas atau manipulasi?”22 August 2025 | Human Resource