Home / Topics / Marketing & Sales / Sales Selalu Nombok, Target Closing Gagal: Gimana Caranya Kembali Berdaya?”
- This topic has 11 replies, 3 voices, and was last updated 1 month ago by
Lia.
Sales Selalu Nombok, Target Closing Gagal: Gimana Caranya Kembali Berdaya?”
December 8, 2025 at 8:58 am-
-
Up::1
Hai sobat Mekari Community! Siapa di sini yang ngalamin fase “sales selalu nombok, target closing tidak pernah tercapai”? Kalau kamu salah satunya, yuk santai duluβkarena kamu bukan sendirian. Banyak sales di industri apapun yang pernah ngalamin ini, bahkan yang sudah berpengalaman juga tidak luput. Ada cerita temenku, Rio, yang ngalamin ini selama 3 bulan berturut-turut, dan rasanya kayak di dalam labirin tanpa jalan keluar. Setiap hari bangun pagi dengan semangat penuh, bikin proposal sampe jempol pegal, telepon dan meeting berkali-kali, tapi di akhirnya cuma dapat “nanti kita hubungi lagi” atau “kita pikirkan dulu ya”.
Mulai dari situ, kepercayaan diri Rio makin menurun. Malah sempat mikir, “apakah aku memang tidak cocok jadi sales?” Setiap kali rapat tim, melihat rekan-rekan lain ngumumkan closing, rasanya malu banget. Kadang mau ngelakuin follow-up tapi takut ditolak lagi. Malah kadang bingung, apakah masalahnya di produk, cara presentasi, ataukah dia yang kurang berusaha?
Saat itu, target closing Rio sebulan adalah 5 deal, tapi dia cuma bisa dapat 1βbahkan itu pun deal kecil yang hampir gak ngaruh ke kinerja tim. Mulai dari situ, jadwal tidur Rio terganggu, makan tidak teratur, dan semangat kerja makin memudar. Kadang bingung mau ngomong ke siapaβkhawatir dianggap lemah atau tidak profesional. Tapi ternyata, menyembunyikan perasaan itu cuma bikin masalah jadi lebih parah.
Akhirnya, Rio putuskan untuk cari tahu penyebabnya. Mulai dari evaluasi proposal yang pernah dibuat, minta umpan balik dari rekan-rekan, sampe nonton ulang rekaman presentasi. Ternyata, banyak kesalahan kecil yang dia lewatkan: proposal yang terlalu panjang dan tidak fokus ke kebutuhan klien, presentasi yang terlalu berfokus ke fitur bukan manfaat, dan follow-up yang tidak tepat waktu.
Selain itu, Rio juga menyadari bahwa seringkali dia terlalu terburu-buru mau closing, tanpa benar-benar memahami masalah yang dihadapi klien. Kadang cuma ngomong “produk ini bagus banget, cobain ya” tanpa bisa menjawab pertanyaan mendalam tentang bagaimana produk itu bisa menyelesaikan masalah mereka. Itu yang bikin klien ragu dan akhirnya tidak mau lanjut.
Setelah tahu penyebabnya, Rio mulai berusaha memperbaiki satu per satu. Minta bimbingan dari atasan yang berpengalaman, bergabung dengan komunitas sales untuk berbagi tips, dan latihan presentasi setiap hari. Meskipun masih ada hari-hari yang nombok, tapi perlahan-lahan ada kemajuan: mulai ada klien yang tertarik, ada meeting yang lebih produktif, dan akhirnya di bulan ke-4, Rio bisa closing 3 deal.
Rasanya berat banget ya, ketika sales selalu nombok dan target closing tidak sesuai harapan? Tapi jangan lupa, setiap kegagalan itu adalah pelajaran berharga. Yang penting adalah jangan berhenti mencari cara untuk memperbaiki diri dan tidak pernah menyerah.
Jadi, sobat semua yang pernah atau lagi ngalamin hal yang samaβapa yang paling bikin kamu kesulitan saat target closing gagal? Dan apa langkah pertama yang kamu lakukan untuk mengatasinya? Yuk bagi cerita dan tipsnya di kolom komentar! π€
-
Nah, terkait cerita tersebut, saya ingin bertanya:
menurut Kak Lia, dari semua proses evaluasi yang dilakukan Rio, langkah mana yang paling signifikan membuat performanya membaik? Apakah lebih banyak dipengaruhi oleh kualitas presentasi, pemahaman kebutuhan klien, atau keberanian untuk meminta feedback dari orang lain? Dan apakah Kak Lia pernah mengalami fase serupa dalam perjalanan karier?-
Pertanyaan yang bagus banget, dan jujur ini sering juga jadi titik balik banyak sales.
Kalau melihat perjalanan Rio, menurut saya langkah yang paling signifikan bukan hanya satu hal teknis, tapi keberaniannya berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai mengevaluasi proses secara jujur. Dari situ, semua perbaikan lain bisa terjadi.
Kalau harus dipilih satu yang paling berdampak, saya akan bilang: pemahaman kebutuhan klien.
Ketika Rio berhenti terburu-buru mengejar closing dan mulai benar-benar mendengarkan masalah klien, arah presentasi dan follow-up otomatis berubah. Presentasi jadi lebih relevan, proposal lebih fokus, dan klien merasa dipahamiβbukan sekadar dijualin produk.Kualitas presentasi memang penting, begitu juga feedback dari orang lain. Tapi dua hal itu baru efektif ketika fondasinya sudah benar: kita paham apa yang sebenarnya dibutuhkan klien dan kenapa mereka ragu. Tanpa itu, presentasi sebagus apa pun tetap terasa generik.
Soal pengalaman pribadi, iyaβsaya pernah ada di fase serupa, meski konteksnya bukan selalu soal sales. Ada masa di mana usaha terasa besar, tapi hasilnya tidak sebanding. Dan yang paling melelahkan justru bukan capek fisik, tapi rasa mempertanyakan diri sendiri.
Yang saya pelajari, sering kali masalahnya bukan kita kurang kerja keras, tapi cara kita bekerja belum tepat sasaran. Setelah berani minta feedback, memperlambat langkah, dan lebih sadar pada proses, hasilnya mulai mengikuti.
Menurut saya, fase seperti ini hampir selalu jadi bagian dari perjalanan berkembangβbukan tanda bahwa kita tidak cocok, tapi tanda bahwa kita sedang naik level.
Penasaran juga, buat teman-teman di sini:
di titik mana biasanya kalian sadar bahwa yang perlu diubah bukan intensitas usaha, tapi pendekatannya?
-
-
Terima kasih Kak Lia, sudah mengangkat topik yang tidak hanya informatif tapi juga memotivasi. Cerita ini membuat saya merasa tidak sendirian dan mendorong untuk berani terbuka pada mentor atau rekan kerja ketika performa sedang menurun. Ternyata dukungan sosial dan panduan teknik yang tepat bisa membuat situasi berat jadi lebih ringan.
-
Kisah Rio yang akhirnya mulai bangkit di bulan ke-4 juga jadi pengingat bahwa perubahan itu butuh waktu. Hasilnya memang tidak instan, tapi progress kecil demi kecil itu yang akhirnya membuat kita kembali berdaya. Membaca ini membuat saya merasa lebih optimis, karena ternyata kegagalan bukan tanda harus menyerah, melainkan momen untuk memperbaiki strategi.
-
Tentang follow-up, saya jadi teringat satu pengalaman pribadi. Dulu saya terlalu takut dianggap mengganggu, sehingga follow-up saya selalu lama. Tapi setelah belajar dari beberapa mentor, saya mulai mengubah gaya komunikasi. Ternyata, klien justru lebih menghargai follow-up yang terstruktur dan profesional. Jadi, bukan masalah sering atau jarangnya, tapi kualitas dan timing-nya.
-
Saya juga setuju bahwa salah satu kesalahan umum para sales, termasuk saya, adalah terlalu fokus pada fitur produk. Kadang karena ingin meyakinkan klien, kita justru lupa menggali kebutuhan mereka terlebih dahulu. Akhirnya presentasi terdengar seperti βjualanβ, bukan percakapan untuk menyelesaikan masalah. Padahal, trust klien justru terbentuk dari pemahaman garis besar masalah mereka.
-
Hal yang saya suka dari cerita ini adalah bagaimana Rio akhirnya memilih untuk berhenti sejenak dan melihat ulang prosesnya dari awal. Evaluasi proposal, minta feedback, bahkan menonton ulang presentasiβitu langkah-langkah yang kelihatannya sederhana, tapi butuh keberanian besar untuk benar-benar menghadapi kekurangan diri sendiri. Tidak semua orang punya mental sekuat itu.
-
Saya pribadi juga pernah mengalami masa di mana setiap hari rasanya sudah bekerja maksimal, tapi hasilnya tetap tidak sebanding. Ada momen ketika saya ragu, apakah saya sudah berusaha cukup keras atau justru melewatkan hal-hal penting dalam proses penjualan. Cerita Rio membuat saya tersadar bahwa introspeksi itu perlu, tapi harus dilakukan dengan objektif, bukan menyalahkan diri sendiri.
-
Halo Kak Lia, terima kasih sudah berbagi cerita yang sangat relate dengan kondisi banyak sales, termasuk saya sendiri. Cerita tentang Rio benar-benar membuka perspektif bahwa fase βnombokβ atau gagal closing ternyata bukan cuma soal performa, tetapi juga menyangkut emosi, kepercayaan diri, dan pola kerja yang mungkin tidak kita sadari. Kadang yang terasa sepele seperti proposal terlalu panjang atau follow-up kurang timing-nya ternyata punya dampak besar pada hasil akhir.
-
Cerita Rio ini relatable banget, dan menurut saya poin pentingnya ada di satu hal: banyak sales kejebak kerja keras, tapi tanpa struktur yang jelas.
Dari yang diceritakan, masalahnya bukan malas atau kurang effort, tapi:
- proposal terlalu panjang dan tidak fokus ke pain point klien
- presentasi masih fitur-centric, bukan problem-centric
- follow-up tidak konsisten timing dan tujuannya
Hal-hal kecil ini kalau tidak distandarkan, efeknya akumulatif dan bikin sales capek sendiri. Menariknya, setelah Rio mulai evaluasi, minta feedback, dan memperbaiki proses, hasilnya pelan-pelan muncul.
Buat saya, ini pengingat bahwa:
closing itu bukan soal βlebih nge-pushβ, tapi soal lebih paham kebutuhan klien dan memperbaiki cara kerja.
Pertanyaan penutupnya kena juga. Di banyak kasus, langkah pertama yang paling berdampak justru berani minta feedback jujur, walaupun tidak nyaman.
-
Setuju banget dengan poin kamu, dan aku suka sekali penekanannya di kata struktur.
Banyak sales sebenarnya sudah bekerja keras, tapi karena tidak punya pola yang jelas, energi habis di tempat yang salah. Akhirnya capek duluan sebelum hasilnya kelihatan. Dan seperti yang kamu bilang, masalahnya bukan di effort, tapi di cara kerja yang belum distandarkan.
Aku juga sepakat bahwa tiga hal kecil ituβproposal, presentasi, dan follow-upβkalau dibiarkan tanpa struktur, efeknya benar-benar akumulatif. Sales jadi reaktif, tiap klien ditangani dengan cara berbeda, dan akhirnya sulit mengevaluasi apa yang sebenarnya berhasil.
Yang menurutku menarik dari cerita Rio adalah:
perubahan baru terasa setelah dia berhenti βnge-pushβ dan mulai memperbaiki proses. Dari situ, kepercayaan diri pelan-pelan balik, bukan karena closing langsung melonjak, tapi karena dia tahu apa yang sedang dia perbaiki.Dan benar, minta feedback itu sering jadi titik paling tidak nyamanβtapi justru paling menyelamatkan. Karena di situlah blind spot kita kebuka. Selama feedback belum diminta, kita sering mengira masalahnya ada di luar, padahal ada di pola kerja kita sendiri.
Menurutku, sales yang bertumbuh bukan yang paling agresif, tapi yang paling reflektif dan mau merapikan prosesnya sedikit demi sedikit.
Kalau boleh lempar balik ke teman-teman di sini:
bagian mana dari proses sales yang menurut kalian paling sering disepelekan, tapi dampaknya besar ke hasil?
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Peringkat Top Contributor
- #1
Joko SiyamtoPoints: 204 - #2 ENING AYU PRIHATININGSIHPoints: 107
- #3
LiaPoints: 100 - #4
KASPAR PURBAPoints: 80 - #5 Edi GunawanPoints: 56
Artikel dengan topic tag terkait:
Tag : All
- Kuis Spesial Menyambut Tahun Baru 2025!11 December 2024 | General
- 7 Hari Perjalanan Kecil Menuju Versi Terbaikmu16 September 2025 | General
- Mekari Community Giveaway Tiket Mekari Conference 202423 July 2024 | General
- Suara Rakyat, Antara Harapan dan Tantangan4 September 2025 | General
- Karyawan Teng-Go Pulang Tepat Waktu8 July 2025 | General