Home / Topics / Finance & Tax / Program UMKM BISA Ekspor Bukukan Transaksi ”Jumbo” Hingga November 2025
- This topic has 4 replies, 2 voices, and was last updated 1 month, 3 weeks ago by
Lia.
Program UMKM BISA Ekspor Bukukan Transaksi ”Jumbo” Hingga November 2025
December 9, 2025 at 11:00 am-
-
Up::0
Halo rekan-rekan Fintax Community,
Saya ingin menanggapi sekaligus membuka diskusi terkait kabar terbaru mengenai capaian Program UMKM BISA Ekspor yang berhasil membukukan transaksi “jumbo” hingga November 2025. Menurut saya, hasil ini bukan hanya menunjukkan keberhasilan program pemerintah, tetapi juga menandai perubahan perilaku buyer internasional yang semakin percaya pada kualitas produk UMKM Indonesia.
Dengan total nilai transaksi mencapai US$ 134,40 juta—terdiri dari PO senilai US$ 57,45 juta dan potensi transaksi mencapai US$ 76,95 juta—program ini terlihat benar-benar memberikan dampak konkret. Nilai tersebut menunjukkan bahwa business matching tidak lagi sekadar seremoni, tetapi sudah menjadi engine penting bagi perluasan pasar UMKM ke mancanegara. Apalagi kegiatan yang dilakukan sepanjang 2025 mencapai 581 sesi, mulai dari pitching hingga pertemuan dengan buyer internasional. Angka sebesar ini memperlihatkan keseriusan pendekatan yang berbasis kurasi dan pendampingan.
Pernyataan Menteri Perdagangan Budi Santoso juga menarik untuk dicermati. Beliau menekankan bahwa meningkatnya transaksi UMKM ini menjadi bukti bahwa produk-produk Indonesia memiliki daya saing yang semakin kuat. Menurut saya, hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor: peningkatan kualitas produksi, digitalisasi proses bisnis UMKM, serta dukungan pemerintah dalam membuka akses pasar luar negeri melalui perwakilan perdagangan di berbagai negara. Kehadiran jaringan perwakilan RI di 33 negara jelas menjadi keuntungan besar, karena membuka pintu untuk buyer yang sebelumnya sulit dijangkau UMKM skala kecil.
Yang juga menarik adalah capaian khusus bulan November 2025 yang mencapai US$ 4,23 juta. Ini menandakan bahwa tren permintaan tetap kuat menuju akhir tahun. Korea Selatan dan Singapura muncul sebagai negara dengan minat terbesar, terutama pada produk makanan olahan dan fesyen dari rangkaian JMFW 2026. Tidak mengherankan melihat sektor ini tumbuh, mengingat preferensi konsumen global yang semakin menyukai produk etnik, sehat, dan berkelanjutan—ciri khas produk UMKM Indonesia.
Selain itu, tingginya minat buyer terhadap produk perikanan, rempah, kerajinan, kopi, furnitur, serta makanan-minuman olahan menunjukkan bahwa diversifikasi produk UMKM sudah cukup matang. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin UMKM akan menjadi tulang punggung baru perdagangan nonmigas Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Meski demikian, saya rasa kita juga perlu membahas aspek lain: bagaimana keberlanjutan transaksi ini dapat dijamin? Banyak UMKM menghadapi tantangan kapasitas produksi, standar sertifikasi internasional, serta pembiayaan untuk ekspor. Transaksi potensi sebesar US$ 76,95 juta memang besar, tetapi realisasinya akan sangat dipengaruhi kesiapan UMKM dalam memenuhi kebutuhan buyer dari sisi volume, kualitas, dan kontinuitas.
Oleh karena itu, menurut saya diskusi di komunitas ini menjadi penting. Bagaimana pendapat teman-teman mengenai efektivitas program business matching seperti ini? Apakah sudah menyentuh kebutuhan utama UMKM? Atau masih ada kendala yang perlu diperbaiki, misalnya dari sisi pembiayaan ekspor, logistik, atau standardisasi produk?
Saya sangat tertarik mendengar insight dari teman-teman yang mungkin terlibat langsung dalam kegiatan ekspor atau pernah mengikuti program pendampingan UMKM.
-
Saya melihat business matching semakin efektif karena pendekatannya kini lebih targeted. Namun, UMKM tetap perlu penguatan di sisi manajemen, pencatatan keuangan, dan pemahaman regulasi ekspor. Programnya sudah tepat, tinggal memastikan ekosistem pendukungnya ikut bertumbuh agar transaksi tidak berhenti di level potensi.
-
Angka capaian tahun ini memang impresif. Tetapi benar juga bahwa realisasi ekspor bergantung pada konsistensi pasokan dari UMKM. Mungkin ke depan diperlukan model inkubasi berbasis klaster produksi agar UMKM tidak bekerja sendiri-sendiri dan bisa memenuhi permintaan buyer dalam jumlah besar.
-
Insight yang menarik. Menurut saya, kekuatan utama program ini ada pada kurasi dan pendampingannya. Namun, untuk menjaga keberlanjutan, dibutuhkan integrasi yang lebih kuat antara UMKM, lembaga pembiayaan, dan layanan logistik. Banyak UMKM yang sebenarnya siap ekspor tapi terhambat akses modal dan standar sertifikasi.
-
Terima kasih sudah mengangkat isu ini dengan komprehensif. Saya setuju bahwa capaian transaksi UMKM BISA Ekspor bukan hanya soal angka, tapi menunjukkan shifting global terhadap kepercayaan pada produk Indonesia. Tantangannya sekarang adalah memastikan UMKM bisa menjaga kualitas dan kapasitas produksi agar potensi transaksi benar-benar terealisasi.
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Peringkat Top Contributor
- #1
Joko SiyamtoPoints: 204 - #2 ENING AYU PRIHATININGSIHPoints: 107
- #3
LiaPoints: 100 - #4
KASPAR PURBAPoints: 80 - #5 Edi GunawanPoints: 56
Artikel dengan topic tag terkait:
Tag : All
- Kuis Spesial Menyambut Tahun Baru 2025!11 December 2024 | General
- 7 Hari Perjalanan Kecil Menuju Versi Terbaikmu16 September 2025 | General
- Mekari Community Giveaway Tiket Mekari Conference 202423 July 2024 | General
- Suara Rakyat, Antara Harapan dan Tantangan4 September 2025 | General
- Karyawan Teng-Go Pulang Tepat Waktu8 July 2025 | General