- This topic has 1 reply, 2 voices, and was last updated 2 months ago by
AKHMAD.
BUDAYA CANCEL DAN PSIKOLOGI MASSA
May 25, 2026 at 10:06 am-
-
Up::0
Di era media sosial hari ini, seseorang bisa dipuji setinggi langit dalam satu hari lalu dihujat habis-habisan keesokan harinya hanya karena satu kesalahan, satu opini, atau satu potongan video yang viral, dan fenomena ini dikenal luas sebagai budaya cancel atau cancel culture, yaitu situasi ketika sekelompok besar orang secara kolektif menarik dukungan, menyerang, memboikot, atau “menghapus” seseorang dari ruang sosial digital karena dianggap melakukan kesalahan tertentu, menariknya, budaya cancel bukan hanya soal benar atau salah, tetapi juga tentang bagaimana psikologi massa bekerja di era internet, karena ketika manusia berada dalam kelompok besar, cara berpikir dan perilakunya sering berubah drastis dibanding saat sendirian, seseorang yang biasanya tenang dan rasional bisa ikut menyerang orang lain hanya karena melihat ribuan orang melakukan hal yang sama, dan inilah yang membuat budaya cancel menjadi fenomena sosial yang sangat kuat sekaligus berbahaya, sebab di dalam keramaian digital, emosi sering menyebar lebih cepat daripada logika, orang lebih mudah bereaksi dibanding memahami konteks secara utuh, dan media sosial mempercepat semuanya lewat algoritma yang memberi panggung besar pada kemarahan, kontroversi, dan drama, karena emosi negatif memang lebih mudah menarik perhatian publik, itulah mengapa satu kesalahan kecil bisa berkembang menjadi gelombang hujatan massal dalam hitungan jam, bahkan sebelum fakta lengkap diketahui, menariknya lagi, budaya cancel sering memberi ilusi moralitas, di mana orang merasa dirinya berada di pihak yang benar saat ikut menyerang seseorang yang dianggap bersalah, padahal tidak sedikit yang sebenarnya ikut menghakimi bukan karena benar-benar peduli terhadap isu tersebut, tetapi karena dorongan sosial untuk menjadi bagian dari mayoritas, karena dalam psikologi sosial, manusia memiliki kebutuhan besar untuk merasa diterima kelompok, sehingga ketika mayoritas sedang marah terhadap seseorang, banyak orang ikut bergabung agar tidak terlihat berbeda atau dianggap mendukung pihak yang “salah”, fenomena ini dikenal sebagai herd mentality atau mentalitas kerumunan, yaitu kecenderungan manusia mengikuti perilaku kelompok tanpa banyak berpikir kritis secara individu, akibatnya, ruang digital sering berubah menjadi pengadilan massal yang bergerak sangat cepat tanpa proses refleksi yang sehat, dan yang lebih mengkhawatirkan, budaya cancel sering kali tidak memberi ruang untuk belajar, meminta maaf, atau berubah, karena fokus utamanya bukan lagi perbaikan, tetapi penghukuman sosial, seseorang bisa kehilangan reputasi, pekerjaan, relasi, bahkan kesehatan mental akibat gelombang hujatan yang tidak terkendali, sementara publik internet bergerak cepat mencari target berikutnya, dan ironisnya, banyak orang yang ikut menyerang sebenarnya tidak benar-benar mengenal orang yang mereka hujat, mereka hanya bereaksi terhadap potongan informasi yang viral, inilah salah satu dampak besar dari psikologi massa di media sosial, yaitu hilangnya empati individu ketika seseorang merasa dirinya hanyalah bagian kecil dari keramaian, karena ketika tanggung jawab tersebar di ribuan orang, individu cenderung merasa tindakannya tidak terlalu berarti, padahal satu komentar tambahan dari ribuan komentar negatif tetap memberi dampak psikologis nyata bagi korban, menariknya, budaya cancel sebenarnya lahir dari niat yang pada awalnya bisa dianggap positif, yaitu keinginan masyarakat untuk meminta pertanggungjawaban terhadap perilaku yang dianggap salah atau merugikan, terutama ketika sistem formal dianggap gagal memberi keadilan, media sosial akhirnya menjadi alat tekanan publik, dan dalam beberapa kasus memang berhasil membuka isu penting seperti pelecehan, diskriminasi, atau penyalahgunaan kekuasaan, namun masalah muncul ketika budaya cancel berubah dari kritik yang konstruktif menjadi amarah kolektif yang kehilangan batas, karena internet sering tidak membedakan antara kesalahan fatal, opini berbeda, candaan lama, atau kekeliruan manusia biasa, semuanya bisa diproses dengan intensitas kemarahan yang sama, dan di titik inilah budaya cancel mulai kehilangan proporsi, sebab manusia pada dasarnya tidak pernah sepenuhnya sempurna, setiap orang punya kemungkinan salah, berubah, dan belajar, tetapi budaya internet sering menuntut standar moral yang absolut sambil lupa bahwa orang yang menghakimi pun juga manusia yang tidak luput dari kesalahan, selain itu, media sosial menciptakan kondisi di mana identitas sosial seseorang sangat dipengaruhi opini publik, sehingga rasa takut “di-cancel” membuat banyak orang menjadi semakin berhati-hati, takut berbicara, takut berbeda pendapat, bahkan takut menjadi diri sendiri di ruang publik digital, akibatnya muncul budaya self-censorship di mana orang lebih memilih diam daripada berisiko dihujat massal, dan dalam jangka panjang ini bisa merusak kualitas diskusi sosial karena orang lebih fokus menghindari serangan daripada mencari pemahaman bersama, padahal masyarakat yang sehat seharusnya mampu membedakan antara kritik, edukasi, dan penghukuman sosial, penting juga dipahami bahwa psikologi massa membuat emosi kelompok sering bergerak ekstrem, ketika satu isu viral, orang cenderung kehilangan nuansa dan mulai melihat semuanya secara hitam-putih: benar atau salah, pahlawan atau penjahat, padahal realitas manusia jauh lebih kompleks daripada itu, seseorang bisa melakukan kesalahan tanpa sepenuhnya menjadi manusia buruk, dan seseorang bisa dikritik tanpa harus dihancurkan hidupnya, namun media sosial jarang memberi ruang untuk kompleksitas seperti itu karena algoritma lebih menyukai konflik yang sederhana dan emosional, semakin marah sebuah topik, semakin besar kemungkinan topik itu viral, sehingga internet secara tidak langsung memberi “hadiah” pada kemarahan kolektif, dan ini membuat budaya cancel terus berulang, pada akhirnya, budaya cancel dan psikologi massa mengajarkan satu hal penting tentang manusia modern: bahwa di balik teknologi yang semakin maju, manusia tetap memiliki emosi sosial yang sangat mudah dipengaruhi kelompok, kita tetap ingin diterima, ingin merasa berada di pihak yang benar, dan sering kali lebih cepat bereaksi daripada memahami, karena itu penting bagi setiap orang untuk belajar lebih sadar sebelum ikut menghakimi di ruang digital, bertanya apakah kita benar-benar memahami konteks atau hanya ikut arus emosi mayoritas, sebab dunia yang sehat bukan dunia tanpa kritik, tetapi dunia yang masih memberi ruang untuk empati, pembelajaran, dan kemanusiaan di tengah perbedaan dan kesalahan yang tak terhindarkan.
-
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
5 Alasan Kunci Kenapa 1 Juta Lulusan Sarjana Jadi Pengangguran dan SolusinyaSetiap tahun, Indonesia meluluskan lebih dari satu juta sarjana dari berbagai perguruan tinggi. Namun, kenyataannya sebagian besar dari mereka tidak langsung memperoleh…3 May 2026 • GeneralAllTerkait:psikologi
-
“Gak Semua Bos Itu Leader! Ini 1 Sifat yang Bikin Kamu Layak Jadi Panutan”Dalam dunia bisnis yang terus berubah cepat, satu hal tetap konstan: manusia hanya akan bergerak sepenuh hati jika mereka merasa dipimpin, bukan…4 Jun 2026 • GeneralAllTerkait:budaya
-
13 Cara Melatih Otak Anda Agar Anda Senang Melakukan Hal-Hal SulitDr. Elise Victor, penulis Newsletters tentang AI & Healthcare Insights, menggunakan strategi berbasis sains yang simpel dan efektif untuk melatih otak kita…25 Mar 2025 • GeneralAllTerkait:psikologi
-
12 Ciri Sukses: Apakah Kamu Memilikinya12 Tanda Kamu adalah Seorang yang sukses. Berikut adalah sifat-sifat yang membedakan kamu dari yang lain: 1. Kamu Mengambil Tanggung Jawab Kamu…17 Feb 2025 • GeneralAllTerkait:budaya
-
Budaya Safety Dimulai dari KepedulianKeselamatan kerja sering kali dipandang sebagai kumpulan aturan, prosedur, dan kewajiban yang harus dipatuhi selama berada di lingkungan kerja. Padahal, di balik…7 Aug 2026 • GeneralTerkait:budaya
-
Budaya Kerja Positif Tidak Terbentuk dalam SemalamBanyak perusahaan bercita-cita memiliki budaya kerja yang positif, penuh kolaborasi, saling menghargai, dan mampu mendorong setiap karyawan memberikan performa terbaiknya. Namun, tidak…6 Aug 2026 • GeneralTerkait:budaya
-
Harga Sebuah Ketidakjujuran: Dampak Fraud bagi Individu dan PerusahaanBanyak orang membayangkan fraud sebagai tindakan besar yang melibatkan angka fantastis dan pelaku berpangkat tinggi. Padahal, kenyataannya fraud sering kali berawal dari…5 Aug 2026 • GeneralTerkait:budaya psikologi
-
Produktivitas Tanpa Burnout: Mungkinkah?Di era ketika kesibukan sering dijadikan simbol kesuksesan, banyak orang percaya bahwa semakin lama bekerja, semakin tinggi pula produktivitas yang dihasilkan. Kalender…4 Aug 2026 • GeneralTerkait:budaya
-
Kolaborasi Bukan Kompetisi: Kunci Tim yang Berkinerja TinggiDi dunia kerja, kompetisi sering kali dianggap sebagai cara terbaik untuk mendorong kinerja. Target individu, penghargaan bagi karyawan terbaik, hingga persaingan antar…2 Aug 2026 • GeneralTerkait:budaya
-
Keselamatan Kerja adalah Tanggung Jawab Setiap OrangKetika berbicara tentang keselamatan kerja, masih banyak yang beranggapan bahwa urusan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab tim HSE, pengawas lapangan, atau manajemen…2 Aug 2026 • GeneralTerkait:budaya
-
Masa Depan Dunia Kerja: Siapkah Kita Beradaptasi?Perubahan selalu menjadi bagian dari dunia kerja, tetapi tidak pernah bergerak secepat hari ini. Kemajuan teknologi, kecerdasan buatan (artificial intelligence), otomatisasi, transformasi…30 Jul 2026 • GeneralTerkait:budaya
-
Masa Depan Dunia Kerja: Siapkah Kita Beradaptasi?Perubahan selalu menjadi bagian dari dunia kerja, tetapi tidak pernah bergerak secepat hari ini. Kemajuan teknologi, kecerdasan buatan (artificial intelligence), otomatisasi, transformasi…2 Aug 2026 • GeneralTerkait:budaya