Apakah anda mencari sesuatu?

Bukan Sekadar “Kenal Karyawan”, Tapi Memahami Manusia di Balik Jabatan

November 10, 2025 at 9:30 am
image
    • Amilia Desi Marthasari
      Participant
      GamiPress Thumbnail
      Image 4 replies
      View Icon 8  views
        Up
        1
        ::

        Di dunia kerja modern yang semakin dinamis, tantangan terbesar HR bukan lagi sekadar “mencari orang yang tepat untuk posisi tertentu.”
        Tapi mencari orang yang tepat dengan cara berpikir, berperilaku, dan berinteraksi yang tepat, untuk budaya kerja tertentu.

        Di sinilah profiling memainkan peran besar.

        Profiling bukan cuma soal tes kepribadian atau psikometri.
        Lebih dalam dari itu, profiling adalah seni memahami manusia, apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka mengambil keputusan, dan bagaimana mereka beradaptasi dengan sistem di sekitarnya.

        Mari kita bahas secara mendalam kenapa profiling sangat penting di dunia HR, mulai dari rekrutmen, pengembangan, hingga retensi karyawan.

        Apa Itu Profiling?
        Profiling dalam konteks HR berarti memetakan karakteristik individu (kepribadian, nilai, perilaku, dan potensi) untuk menemukan kesesuaian dengan kebutuhan organisasi.

        Ini bisa meliputi berbagai aspek seperti:

        Behavioral profiling → bagaimana seseorang bereaksi dalam situasi kerja tertentu
        Personality profiling → preferensi alami, gaya komunikasi, dan motivasi
        Competency profiling → keunggulan dan kelemahan dalam kompetensi inti
        Cultural fit profiling → sejauh mana individu cocok dengan budaya organisasi
        Dengan kata lain, profiling bukan untuk menilai siapa yang “baik atau buruk”, tapi siapa yang cocok di mana.

        Mengapa Profiling Penting untuk HR Modern?
        Bayangkan Anda sedang rekrut seseorang untuk posisi marketing.
        Kandidat A punya nilai akademik sempurna, kandidat B punya pengalaman panjang, tapi kandidat C memiliki profil psikologis yang menunjukkan ia sangat kreatif, komunikatif, dan tahan stres.

        Dalam jangka panjang, kandidat C-lah yang mungkin bertahan dan tumbuh.
        Kenapa? Karena cocok dengan demand emosional dan kognitif dari pekerjaan itu.

        Inilah yang disebut profil match.

        Profiling membantu HR menghindari dua jebakan klasik:

        Salah rekrut (hiring mismatch)  yang bisa berujung turnover tinggi
        Underutilized potential, karyawan punya potensi, tapi tidak di tempat yang tepat
        Profiling memungkinkan HR melihat lebih dari sekadar CV atau hasil wawancara singkat.
        Ia membantu membaca “lapisan dalam” seseorang , hal-hal yang tidak tampak tapi sangat menentukan performa.

        Profiling dan Rekrutmen: The Right Fit Matters
        Menurut riset Gallup, hanya 20% karyawan di dunia yang merasa benar-benar cocok dengan pekerjaannya.
        Artinya, 80% sisanya bekerja di posisi yang tidak sesuai dengan profil alaminya.

        Dampaknya?

        Produktivitas rendah
        Turnover tinggi
        Konflik tim meningkat
        HR cost membengkak
        Dengan profiling, HR bisa mengidentifikasi sejak awal:

        Apakah kandidat cocok untuk pekerjaan yang membutuhkan analisis mendalam atau interaksi sosial tinggi?
        Apakah ia tipe yang nyaman bekerja dengan sistem yang jelas atau lebih suka kebebasan bereksperimen?
        Bagaimana gaya kepemimpinannya nanti bila naik jabatan?
        Profiling menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh wawancara saja.

        Profiling Bukan Sekadar Tes Psikologi
        Banyak HR mengira profiling = tes kepribadian (MBTI, DISC, atau lainnya).
        Padahal, itu hanya salah satu instrumen.

        Profiling yang efektif adalah proses komprehensif yang menggabungkan:

        Tes psikometrik
        Wawancara berbasis perilaku (behavioral interview)
        Observasi dan analisis data performa
        Feedback dari lingkungan kerja (peer review atau 360° assessment)
        Tujuannya bukan menempelkan label seperti “ekstrovert” atau “analitis”,
        tapi membangun peta menyeluruh tentang cara seseorang bekerja, berkomunikasi, dan berkembang.

        Profiling untuk Pengembangan Karier
        Setelah rekrutmen, HR sering dihadapkan pada pertanyaan:

        “Karyawan ini potensinya di mana?”
        “Siapa yang siap dipromosikan ke posisi leader?”
        “Bagaimana kita mengembangkan kompetensi tim?”
        Profiling menjawab semua itu.

        Dengan data profiling, HR bisa menyusun:

        Career path yang sesuai karakter dan kekuatan individu
        Program pengembangan (training, coaching, mentoring) yang lebih personal
        Succession plan berbasis potensi, bukan hanya masa kerja
        Misalnya, seorang karyawan dengan profil “strategic thinker” bisa diarahkan ke posisi perencanaan,
        sementara yang memiliki profil “influencer” cocok ke posisi relasi atau komunikasi publik.

        Hasilnya?
        Karyawan lebih engaged, karena mereka merasa ditempatkan di posisi yang sesuai dengan “DNA profesionalnya.”

        Profiling untuk Meningkatkan Retensi
        Salah satu tantangan terbesar HR saat ini adalah turnover.
        Banyak perusahaan kehilangan karyawan berbakat bukan karena gaji rendah, tapi karena mismatch antara pekerjaan dan kepribadian.

        Profiling membantu mencegah ini dengan:

        Memastikan karyawan bekerja di lingkungan yang sesuai dengan nilai pribadinya
        Membantu HR memahami sumber stres atau konflik yang mungkin muncul
        Menyesuaikan gaya komunikasi dan kepemimpinan dengan tipe karyawan
        Contoh sederhana:

        Tipe karyawan yang detail dan perfeksionis akan frustrasi di lingkungan kerja yang terlalu fleksibel tanpa struktur.
        Sebaliknya, tipe kreatif akan cepat bosan jika sistem terlalu kaku.
        Profiling membantu HR mendesain lingkungan kerja yang adaptif terhadap keberagaman karakter.

        Profiling dalam Kepemimpinan dan Team Building
        Leader yang hebat tahu bahwa memimpin tim bukan soal memberi perintah,
        tapi memahami setiap individu dan mengoptimalkan kekuatannya.

        Dengan profiling, HR bisa membantu leader:

        Mengenali dinamika tim (siapa pemikir, siapa eksekutor, siapa mediator)
        Menyeimbangkan komposisi tim agar tidak terlalu dominan pada satu tipe
        Menyusun strategi komunikasi yang efektif antar tipe kepribadian
        Misalnya, tim dengan banyak tipe “Dominant” (DISC) mungkin cepat bergerak, tapi berpotensi bentrok karena ego kuat.
        Sedangkan tim dengan banyak “Steady” cenderung harmonis, tapi lambat dalam mengambil keputusan.

        Profiling membantu HR menata tim dengan keseimbangan ideal.

        Profiling dan Data Analytics: HR yang Lebih Cerdas
        Profiling modern kini tidak lagi manual.
        Dengan kemajuan teknologi, People Analytics bisa menggabungkan data perilaku, performa, dan psikometri menjadi insight prediktif.

        Contohnya:

        Sistem bisa memprediksi karyawan mana yang berpotensi resign dalam 6 bulan ke depan
        AI dapat menganalisis pola komunikasi untuk mengukur engagement tim
        HR bisa menentukan fit score antara kandidat dan posisi secara objektif
        Hasilnya: keputusan HR jadi lebih data-driven, bukan sekadar gut feeling.

        Etika dalam Profiling
        Namun, perlu diingat: profiling bukan alat untuk “menilai” atau “menghakimi” individu.
        Ada etika penting yang harus dijaga, yaitu:

        Transparansi — karyawan berhak tahu bagaimana data mereka digunakan
        Kerahasiaan — hasil profiling tidak boleh disalahgunakan untuk diskriminasi
        Konfirmasi — hasil tes sebaiknya dikonfirmasi lewat wawancara, bukan dijadikan keputusan tunggal
        Empati — ingat bahwa setiap hasil profiling adalah refleksi potensi manusia, bukan label permanen
        Profiling yang etis justru membangun kepercayaan antara HR dan karyawan,
        karena menunjukkan bahwa organisasi peduli pada pemahaman, bukan penilaian.

        Tantangan HR dalam Menerapkan Profiling
        Walau manfaatnya besar, implementasi profiling tidak selalu mudah.
        Beberapa tantangan yang sering muncul:

        HR belum memiliki kompetensi membaca dan menginterpretasi hasil tes
        Biaya untuk tools dan assessment yang valid cukup tinggi
        Perlawanan dari karyawan yang merasa “dinilai”
        Kurangnya budaya berbasis data dalam pengambilan keputusan
        Solusinya?
        Mulai dari langkah kecil ,  gunakan alat sederhana, kombinasikan dengan observasi langsung, dan bangun kebiasaan understanding before judging.

        Ketika organisasi mulai melihat hasilnya (penurunan turnover, peningkatan engagement),
        profiling akan menjadi bagian alami dari strategi HR.

        Profiling sebagai Investasi, Bukan Beban
        Banyak perusahaan melihat profiling sebagai “tambahan biaya” dalam proses HR.
        Padahal, jika dihitung jangka panjang, biaya salah rekrut jauh lebih besar.

        Studi dari Harvard Business Review menyebutkan:

        Satu kesalahan rekrutmen bisa menghabiskan biaya 30% dari total gaji tahunan posisi tersebut.
        Jika HR menggunakan profiling untuk menempatkan orang dengan tepat,
        organisasi bisa menghemat biaya, waktu, dan energi yang terbuang karena turnover atau konflik kerja.

        Profiling bukan pengeluaran, tapi investasi strategis untuk keberlanjutan organisasi.

        Masa Depan HR = Human Profiling + Technology
        Ke depan, HR tidak bisa lagi hanya mengandalkan insting atau pengalaman.
        Era AI-powered HR akan menuntut profesional HR untuk:

        Menguasai human insight
        Mampu membaca data psikologis dan perilaku
        Menggabungkan soft understanding dengan hard analytics
        Teknologi bisa memproses data,
        tapi hanya manusia yang bisa memahami makna di balik data.

        Dan itulah esensi dari profiling: membawa kembali sisi “human” dalam Human Resources.

        HR yang Hebat, Selalu Mulai dari Memahami Manusia
        Pada akhirnya, HR bukan hanya pengelola SDM, tapi penerjemah manusia dalam konteks organisasi.
        Profiling membantu HR memahami bahwa:

        Tidak semua orang cocok di posisi yang sama
        Tidak semua motivasi bisa digerakkan dengan cara seragam
        Tidak semua performa bisa diukur dari angka semata
        Profiling mengajarkan kita untuk berhenti menilai orang dari “hasil akhir”,
        dan mulai memahami proses berpikir, perasaan, dan nilai-nilai yang membentuknya.

        Karena di dunia kerja yang semakin kompleks,
        memahami manusia jauh lebih berharga daripada sekadar mengukur mereka.

        Profiling bukan sekadar alat HR, tapi fondasi membangun organisasi yang manusiawi, efisien, dan berkelanjutan.
        HR yang mampu membaca profil manusia dengan tepat akan menciptakan bukan hanya tim yang produktif, tapi juga lingkungan kerja yang sehat, harmonis, dan penuh makna.

      • Lia
        Participant
        GamiPress Thumbnail
        Image 4 replies
        View Icon 8  views

          Setuju banget. HR masa kini memang nggak cukup hanya ‘menilai kemampuan’, tapi harus bisa membaca manusia secara utuh — mulai dari motivasi, nilai, sampai gaya berpikirnya. Profiling itu bukan sekadar tes, tapi cara membangun organisasi yang benar-benar manusiawi.

        • Lia
          Participant
          GamiPress Thumbnail
          Image 4 replies
          View Icon 8  views

            Yang menarik dari profiling adalah kemampuannya memetakan potential fit, bukan hanya job fit. Banyak karyawan yang sebenarnya hebat, tapi baru bersinar ketika ditempatkan di posisi yang sesuai dengan karakter alaminya.

          • Lia
            Participant
            GamiPress Thumbnail
            Image 4 replies
            View Icon 8  views

              Penjelasannya lengkap banget! Profiling ini memang kunci biar HR nggak cuma ‘cari orang’, tapi bener-bener ‘membentuk tim’ yang nyatu secara karakter dan budaya kerja 👏

            • Lia
              Participant
              GamiPress Thumbnail
              Image 4 replies
              View Icon 8  views

                Profiling jelas penting, tapi masih banyak HR yang kesulitan menerapkannya karena faktor biaya dan mindset. Menurut teman-teman, langkah sederhana apa yang paling realistis untuk mulai membangun sistem profiling di perusahaan?

            Viewing 4 reply threads
            • You must be logged in to reply to this topic.
            Image

            Bergabung & berbagi bersama kami

            Terhubung dan dapatkan berbagai insight dari pengusaha serta pekerja mandiri untuk perluas jaringan bisnis Anda!