Apakah anda mencari sesuatu?

Bukan Tentang Orang Tua Sempurna, Tapi Orang Tua yang Hadir

February 5, 2026 at 8:37 am
image
    • Amilia Desi Marthasari
      Participant
      GamiPress Thumbnail
      Image 0 replies
      View Icon 5 views
        Up
        0
        ::

        Parenting sering kali dibicarakan seolah-olah ada satu rumus pasti: lakukan ini, hindari itu, dan anak akan tumbuh “baik”. Padahal kenyataannya, menjadi orang tua adalah perjalanan panjang yang penuh coba-coba, jatuh bangun, dan belajar tanpa henti. Tidak ada orang tua yang sempurna, tapi selalu ada orang tua yang mau belajar menjadi lebih baik.

        Parenting yang baik bukan tentang memiliki anak yang selalu patuh, berprestasi, atau membanggakan di mata orang lain. Parenting yang baik adalah tentang membesarkan manusia seutuhnya—yang sehat secara emosional, mampu berpikir, berempati, dan mengenal dirinya sendiri.

        1. Parenting Dimulai dari Kesadaran Diri Orang Tua
        Sebelum berbicara tentang mendidik anak, kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah kita sudah berdamai dengan diri kita sendiri?

        Banyak pola asuh terbentuk bukan dari ilmu parenting, melainkan dari luka masa kecil yang tidak selesai. Orang tua yang dulu sering dimarahi cenderung mudah marah. Orang tua yang dulu jarang didengar, kadang tanpa sadar juga menutup telinga pada anaknya.

        Parenting yang baik dimulai saat orang tua berani refleksi:

        Kenapa saya mudah tersinggung?
        Kenapa saya takut anak gagal?
        Kenapa saya ingin anak selalu menuruti saya?
        Kesadaran ini penting, karena anak tidak hanya mendengar nasihat kita, mereka menyerap sikap dan emosi kita setiap hari.

        2. Hadir Lebih Penting daripada Sempurna
        Banyak orang tua merasa bersalah karena tidak bisa selalu ada secara fisik. Bekerja, lelah, sibuk. Tapi parenting yang baik bukan soal berapa lama, melainkan seberapa hadir.

        Hadir artinya:

        Mendengarkan cerita anak tanpa memotong
        Menatap mata anak saat berbicara
        Menyimpan ponsel ketika anak ingin berbagi
        Lima belas menit perhatian penuh jauh lebih bermakna daripada seharian bersama tanpa koneksi emosional.

        Anak tidak butuh orang tua yang sempurna, mereka butuh orang tua yang hadir.

        3. Anak adalah Individu, Bukan Proyek
        Kesalahan umum dalam parenting adalah memperlakukan anak sebagai proyek yang harus “berhasil”. Nilai harus tinggi, sikap harus baik, prestasi harus terlihat. Padahal anak bukan perpanjangan ambisi orang tua.

        Setiap anak lahir dengan:

        Karakter berbeda
        Minat berbeda
        Kecepatan tumbuh yang berbeda
        Parenting yang baik menghargai keunikan ini. Tugas orang tua bukan membentuk anak sesuai keinginan kita, tapi menemani mereka menemukan siapa diri mereka sebenarnya.

        4. Disiplin Tanpa Kekerasan
        Disiplin sering disalahartikan sebagai hukuman. Padahal disiplin sejati adalah proses belajar, bukan proses menakut-nakuti.

        Parenting yang baik mengajarkan batasan dengan:

        Penjelasan yang jelas
        Konsekuensi yang masuk akal
        Konsistensi, bukan ancaman
        Memukul, membentak, atau mempermalukan mungkin membuat anak patuh sesaat, tapi meninggalkan luka jangka panjang. Anak belajar takut, bukan belajar benar.

        Disiplin yang sehat membantu anak memahami:

        Tindakan punya konsekuensi
        Emosi boleh dirasakan, tapi tidak boleh melukai
        Kesalahan adalah bagian dari belajar
        5. Validasi Emosi Anak
        “Ah, gitu aja nangis.”
        “Jangan cengeng.”
        “Masalah kecil kok dibesar-besarkan.”

        Kalimat-kalimat ini sering diucapkan tanpa niat buruk, tapi berdampak besar. Anak belajar bahwa emosinya tidak penting, tidak valid, atau harus disembunyikan.

        Parenting yang baik mengajarkan anak mengenali dan menerima emosinya:

        “Kamu sedih ya? Cerita ke Ayah/Bunda.”
        “Marah itu boleh, tapi kita cari cara baik untuk mengekspresikannya.”
        Anak yang emosinya divalidasi akan tumbuh menjadi orang dewasa yang mampu mengelola perasaan, bukan memendam atau meledakkannya.

        6. Komunikasi Dua Arah, Bukan Monolog
        Banyak orang tua merasa sudah “berkomunikasi” karena sering menasihati. Padahal komunikasi sejati adalah dua arah.

        Parenting yang baik:

        Memberi ruang anak berbicara
        Tidak langsung menghakimi
        Mau mendengar pendapat anak meski berbeda
        Saat anak merasa aman berbicara di rumah, mereka akan lebih terbuka saat menghadapi masalah di luar. Rumah menjadi tempat pulang, bukan tempat takut.

        7. Menjadi Contoh, Bukan Sekadar Pemberi Aturan
        Anak belajar lebih banyak dari apa yang kita lakukan, bukan dari apa yang kita katakan.

        Jika orang tua ingin anak:

        Jujur → orang tua harus jujur
        Sabar → orang tua perlu melatih kesabaran
        Bertanggung jawab → orang tua menepati janji
        Parenting yang baik adalah keteladanan sehari-hari. Anak memperhatikan bagaimana kita berbicara pada pasangan, menghadapi masalah, dan memperlakukan orang lain.

        8. Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil
        Dalam dunia yang penuh perbandingan, orang tua mudah terjebak mengejar hasil: ranking, piala, nilai. Tapi parenting yang baik fokus pada proses.

        Mengapresiasi usaha anak:

        “Kamu sudah berusaha keras.”
        “Tidak apa-apa gagal, yang penting belajar.”
        Anak yang dihargai prosesnya akan lebih berani mencoba, tidak takut gagal, dan memiliki motivasi dari dalam diri, bukan sekadar ingin menyenangkan orang tua.

        9. Mengajarkan Nilai, Bukan Menuntut Kesempurnaan
        Parenting yang baik bukan membesarkan anak yang tidak pernah salah, tapi anak yang tahu bagaimana memperbaiki kesalahan.

        Ajarkan nilai:

        Tanggung jawab
        Empati
        Kejujuran
        Rasa hormat
        Dengan dialog dan contoh nyata, bukan ceramah panjang. Nilai yang ditanamkan dengan cinta akan tumbuh lebih kuat daripada nilai yang dipaksakan dengan ketakutan.

        10. Memaafkan Diri Sendiri sebagai Orang Tua
        Tidak ada orang tua yang selalu sabar. Akan ada hari lelah, marah, dan menyesal. Parenting yang baik juga berarti berani meminta maaf pada anak.

        Mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan, tapi kekuatan. Anak belajar bahwa:

        Orang dewasa juga bisa salah
        Meminta maaf itu mulia
        Hubungan bisa diperbaiki
        Orang tua yang memaafkan dirinya sendiri akan lebih lapang mendampingi anak.

        Penutup: Parenting adalah Perjalanan Panjang
        Parenting yang baik bukan tujuan akhir, melainkan proses seumur hidup. Kita tumbuh bersama anak, belajar bersama anak, dan sering kali disembuhkan oleh anak.

        Tidak apa-apa jika hari ini belum sempurna.
        Tidak apa-apa jika masih belajar.
        Yang terpenting, kita mau hadir, mau mendengar, dan mau bertumbuh.

        Karena pada akhirnya, anak mungkin lupa apa yang kita katakan, tapi mereka akan selalu mengingat bagaimana rasanya dibesarkan dengan cinta, rasa aman, dan penghargaan.

         

    Viewing 0 reply threads
    • You must be logged in to reply to this topic.
    Image

    Bergabung & berbagi bersama kami

    Terhubung dan dapatkan berbagai insight dari pengusaha serta pekerja mandiri untuk perluas jaringan bisnis Anda!