Home / Topics / Human Resources / Burnout & Kesehatan Mental
- This topic has 10 replies, 2 voices, and was last updated 7 months ago by
Amilia Desi Marthasari.
Burnout & Kesehatan Mental
August 21, 2025 at 8:10 am-
-
Up::0
Saya ingin ngangkat isu yang relatable banget. Burnout sekarang udah jadi “silent pandemic” di dunia kerja modern.
Banyak pekerja masih terjebak dalam budaya hustle. Target tinggi, lembur terus, dan akhirnya mental drop.
Kalau cuma fokus pada angka—KPI, target, revenue—lama-lama perusahaan bisa rugi lebih besar: turnover tinggi, produktivitas anjlok, bahkan brand employer jadi jelek.
Padahal kalau karyawan sehat mentalnya, efeknya langsung: lebih kreatif, lebih loyal, lebih produktif. Jadi sebenarnya, investasi di kesehatan mental itu sama pentingnya dengan investasi di mesin atau teknologi.
Burnout bukan sekadar “capek kerja.”
Ini akumulasi dari target tinggi, lembur tanpa henti, dan minimnya waktu pulih.
Hasilnya? Mental drop, produktivitas turun, bahkan bisa kehilangan makna bekerja.Banyak perusahaan masih terjebak: KPI & angka jadi segalanya.
Tapi lupa bahwa di balik angka ada manusia—dengan tubuh, pikiran, & hati yang terbatas. Kalau karyawan terus dipaksa “all out” tanpa ruang bernapas, perusahaan bisa kena dampak.Sebaliknya, perusahaan yang peduli kesehatan mental dapat efek positif.
Perusahaan seharusnya mulai menyeimbangkan target bisnis dengan kesejahteraan karyawan. Jadi sebenarnya, bukan “pilih salah satu”, melainkan mencari titik tengah: target bisnis tetap ada, tapi dicapai dengan cara yang manusiawi
Pertanyaannya:
Apakah sudah waktunya perusahaan menganggap kesehatan mental karyawan sebagai KPI juga?
Karena angka bisa dikejar, tapi manusia tak bisa diganti begitu saja.Bagaimana menurut kamu?
Apakah perusahaan seharusnya mulai menyeimbangkan target bisnis dengan kesejahteraan karyawan? -
Saya setuju dengan pendapat Kak Amilia tentang pentingnya menyeimbangkan target bisnis dengan kesejahteraan karyawan. Jika perusahaan terus memaksakan angka-angka tanpa memperhatikan kondisi mental karyawan, pada akhirnya hasilnya tidak akan seoptimal yang diharapkan. Bahkan bisa saja perusahaan yang tidak peduli dengan kesejahteraan karyawannya malah kehilangan karyawan-karyawan terbaiknya, yang pada akhirnya akan berdampak pada perusahaan itu sendiri.
-
Memang, budaya hustle yang terlalu ditekankan bisa merusak produktivitas, bahkan bisa menyebabkan turnover yang tinggi. Bukan cuma karyawan yang jadi kelelahan, tapi perusahaan juga yang akhirnya merugi karena hilangnya kreativitas dan loyalitas.
-
Terima kasih, Kak Amilia, sudah mengangkat isu yang sangat penting ini. Saya rasa banyak dari kita yang tidak sadar, kalau burnout ini sudah menjadi masalah yang sangat mengganggu di banyak tempat kerja, dan sering kali orang hanya menganggapnya sebagai “capek kerja biasa” tanpa melihat dampak jangka panjangnya.
-
Saya pikir ini adalah langkah yang sangat penting untuk menuju dunia kerja yang lebih sehat, dan saya ingin sekali mendengar pendapat Kak Amilia lebih lanjut.
-
Terakhir, adakah contoh atau perusahaan yang menurut Kak Amilia sudah berhasil dalam mengimplementasikan kesejahteraan karyawan dengan seimbang tanpa mengorbankan target bisnis? Jika ada, apa yang mereka lakukan yang bisa menjadi inspirasi bagi perusahaan lainnya?
-
Amilia Desi MarthasariParticipantRockstar
5 Requirements
- Login ke website sebanyak 30 kali
- Balas Thread sebanyak 50 kali
- Buat Thread baru sebanyak 30 kali
- Bagikan thread ke media sosial sebanyak 15 kali
- Bagikan pengalaman kamu menggunakan produk mekari ke media sosial sebanyak 5 kali
10 replies
64 views
August 25, 2025 at 7:28 amAda..
salah satu nya ialah Johnson & JohnsonProgram “Corporate Wellness” menyeluruh meliputi: pelatihan kesehatan, fitness, coaching, dan manajemen penyakit. Hasilnya: penurunan absensi, peningkatan produktivitas 25%, engagement naik 27%, serta penurunan tekanan darah, BMI, dan kolesterol. Perusahaan mengestimasi penghematan biaya tahunan hingga US$10 juta.
dan masih banyak lagi contoh dari perusahaan yang lain dengan program yang berbeda beda
-
-
Saya juga berpikir, mungkin ada tantangan untuk perusahaan yang belum terbiasa dengan konsep ini. Mungkin beberapa perusahaan lebih fokus pada hasil yang bisa dilihat langsung (seperti revenue atau profit) ketimbang indikator kesehatan mental. Dalam konteks ini, bagaimana menurut Kak Amilia perusahaan bisa mulai mengintegrasikan kesehatan mental sebagai bagian dari indikator keberhasilan (KPI) tanpa mengganggu tujuan utama bisnis mereka?
-
Selain itu, bagaimana menurut Kak Amilia tentang peran perusahaan dalam menciptakan budaya kerja yang lebih fleksibel dan memberi ruang bagi karyawan untuk menjaga keseimbangan hidup dan kerja? Misalnya, apakah pengaturan waktu kerja yang lebih fleksibel atau program dukungan kesehatan mental bisa menjadi solusi yang lebih tepat untuk mengurangi tingkat burnout ini?
-
Tapi, saya juga ingin bertanya: Menurut Kak Amilia, bagaimana cara yang efektif untuk mengukur kesehatan mental karyawan? Karena sejujurnya, hal ini sangat subjektif dan tidak bisa dinilai hanya dari angka-angka tertentu, kan?
-
Amilia Desi MarthasariParticipantRockstar
5 Requirements
- Login ke website sebanyak 30 kali
- Balas Thread sebanyak 50 kali
- Buat Thread baru sebanyak 30 kali
- Bagikan thread ke media sosial sebanyak 15 kali
- Bagikan pengalaman kamu menggunakan produk mekari ke media sosial sebanyak 5 kali
10 replies
64 views
August 25, 2025 at 7:29 amTerima kasih kak albert atas pertanyaannya yang sangat kritis.
Memang sangat subjektif dan tidak bisa hanya diukur dengan angka seperti KPI, tetapi menurut pendapat saya cara mengukur kesehatan mental untuk karyawan bisa dilakukan dengan cara:
1. Mengisi Kuisioner – Menggunakan alat ukur yang sudah divalidasi secara global, misalnya
Maslach Burnout Inventory (MBI) → mengukur burnout. Alat ini memberikan gambaran tren, meski bukan diagnosis.
2. Survey – Daripada survei panjang setahun sekali, lakukan survei singkat (3–5 pertanyaan) tiap 1–2 bulan. Misalnya dengan pertanyaan yang biasanya releven dengan keadaan karywan
3. Kotak Suara Digital – Beri ruang aman bagi karyawan untuk bicara tanpa takut stigma. Misalnya aplikasi feedback anonim atau konseling daring yang terjaga kerahasiaannya.Angka memang membantu sebagai baseline, tapi yang terpenting adalah menciptakan ekosistem aman untuk bicara soal kesehatan mental.
-
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Thread terkait
-
Memahami Perbedaan Bupot A1 yang Disetahunkan dan Tidak DisetahunkanRekan-rekan HR, belakangan ini saya melihat semakin banyak pertanyaan terkait pembuatan Bukti Potong (Bupot) PPh 21 Formulir BPA1, terutama setelah berlakunya PER-11/PJ/2025.…4 Dec 2025 • Human ResourcesAllTerkait:amp
-
10 HR Tips untuk Meningkatkan Kinerja dan Budaya PerusahaanSumber daya manusia (SDM) adalah aset paling berharga dalam sebuah perusahaan. Ketika pengelolaan HR dilakukan dengan tepat, bukan hanya kinerja meningkat—tapi budaya…7 Jan 2026 • Human ResourcesAllTerkait:amp
-
Jumlah Pelaporan SPT Tahunan Meningkat 3,26 % hingga 11 April 2025(Jakarta) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mencatat sebanyak 13 juta Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) tahun pajak 2024 telah disampaikan hingga…15 Apr 2025 • Human ResourcesAllTerkait:amp
-
PPh 21 “Disetahunkan” dan “Setaun” (tanpa Disetahunkan)Jika ada pegawai yang resign pada bulan Februari 2025, pilihan yang tepat di Coretax tergantung pada metode perhitungan pajak yang digunakan perusahaan.…28 Jan 2026 • Human ResourcesAllTerkait:amp
-
Jangan Pernah Ucapkan 10 Hal Ini Saat Leadership Interview!!<p style="text-align: left;">Saya tahu Leadership Interview itu susah. Satu kalimat saja bisa mengubah pandangan orang terhadapmu. Sedikit kesalahan bisa bikin mereka ragu…11 Feb 2025 • Human ResourcesAllTerkait:burnout amp
-
HR Quiz 101! Jadi HR menyenangkan lho~Halo HR 101 Community! Udah lama banget kita gak ngadain kuis atau games seru-seruan. Nah, kali ini akan ada games lagi dengan…16 Dec 2024 • Human ResourcesMentoringTerkait:amp
-
Talenta HR 101 Leaders Forum on SeptemberPada tanggal 19 September kemarin, Mekari Talenta baru saja berkolaborasi dengan SEMAJA dalam acara HR 101 Leaders Forum dengan judul The Complete…26 Feb 2025 • Human ResourcesTerkait:amp
-
21 Kriteria Tempat Kerja Ideal. Perusahaan Kamu Sudah Seperti Ini?Puluhan tahun jadi karyawan emang ga bosen? Saya pribadi sudah hampir 20 tahun jadi karyawan di berbagai perusahaan. Merasakan enak dan ga…25 Sep 2024 • Human ResourcesAllTerkait:amp kesehatan mental
-
QnA Talenta HR 101 Webinar Series 73.0Pada tanggal 23 April 2024 kemarin, Mekari Community telah berkolaborasi dengan Tim Product Talenta untuk membahas pembaruan berbagai fitur unggulan Talenta di…26 May 2025 • Human ResourcesTerkait:amp
-
Jalin Silaturahmi dengan Buka Bersama HR 101 Leaders Forum!Mekari Community telah mengadakan acara HR 101 Leaders Forum bersama dengan para HR Leaders sebagai pengguna Talenta dari berbagai industri pada tanggal…17 Jun 2025 • Human ResourcesTerkait:amp
-
HR 101 Community Bagi Bagi THR!Spesial Ramadhan, HR 101 Community akan bagi-bagi saldo e-wallet sebesar Rp100.000 buat 3 orang yang beruntung! Caranya gak pake ribet, kamu tinggal…30 Jun 2025 • Human ResourcesTerkait:amp
-
BPJS Kesehatan Jadi Syarat Buat SKCK Per 1 Maret, Sebanyak 6 Polda Sudah Uji CobaSurat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) merupakan bukti bahwa seseorang nggak pernah terlibat di dalam perilaku kejahatan atau kriminal. Biasanya, SKCK juga dibutuhkan…8 May 2025 • Human ResourcesTerkait:kesehatan