Apakah anda mencari sesuatu?

Diri Itu Dibentuk, Bukan Ditemukan

August 28, 2025 at 2:32 pm
image
    • Amilia Desi Marthasari
      Participant
      GamiPress Thumbnail
      Image 9 replies
      View Icon 5  views
        Up
        0
        ::

        Sering kali kita mendengar kalimat: “Aku sedang berusaha menemukan diriku sendiri.”
        Seakan-akan ada satu versi “diri sejati” yang hilang, tersembunyi, lalu tugas kita adalah mencarinya sampai ketemu.

        Padahal, bagaimana jika hidup ini bukan tentang menemukan siapa diri kita, melainkan membentuk siapa kita mau jadi?
        Kalau kita pikirkan baik-baik, bukankah hidup terasa lebih masuk akal jika kita membentuk diri?
        Hidup adalah Proses, Bukan Destinasi
        Tidak ada titik final bernama “inilah aku yang sejati.”
        Yang ada adalah perjalanan panjang dengan banyak versi diri: diri kita saat sekolah, saat bekerja pertama kali, saat jatuh cinta, saat kehilangan, saat menjadi orang tua, dan seterusnya.

        Masing-masing versi sah, berharga, dan merupakan bagian dari pembentukan itu.

        Bahayanya Mencari Diri Tanpa Henti
        Kalau kita hanya sibuk mencari, sering kali kita terjebak dalam rasa frustrasi.
        “Kenapa aku belum ketemu passion-ku?”
        “Kapan aku bisa tahu jati diri sebenarnya?”
        “Kenapa hidupku kayak jalan buntu?”

        Padahal, “menemukan” sering jadi ilusi. Yang lebih nyata adalah memilih dan membentuk.

        Diri Itu Bukan Sesuatu yang Hilang
        Coba bayangkan tanah liat.
        Apakah tanah liat sudah jadi patung sejak awal? Tidak.
        Tanah liat hanya memiliki potensi. Bentuknya baru muncul ketika ada yang memahat.

        Begitu pula dengan kita: diri bukan sesuatu yang hilang untuk ditemukan, melainkan sesuatu yang terus kita pahat lewat pengalaman, nilai, dan pilihan hidup.

        Membentuk Diri Lewat Pilihan Kecil Sehari-hari
        Kadang kita pikir pembentukan diri hanya terjadi lewat keputusan besar: pindah kerja, menikah, kuliah, merantau.
        Padahal, diri kita lebih banyak dibentuk oleh keputusan kecil yang berulang:

        Apakah kita disiplin bangun pagi atau tidak

        Apakah kita berani bilang “tidak” pada hal yang tidak sesuai nilai kita

        Apakah kita mau belajar hal baru meski gagal di awal

        Diri terbentuk bukan hanya oleh “momen besar,” tapi oleh kebiasaan kecil yang konsisten.

        Pembentukan Lewat Rasa Sakit dan Kehilangan
        Kita jarang mengakui bahwa rasa sakit justru adalah tukang pahat paling tajam.
        Kehilangan, kegagalan, pengkhianatan, semua itu membentuk kita dengan cara yang sulit tapi dalam.

        Banyak orang yang justru menemukan keberanian, empati, atau keteguhan setelah melalui masa sulit.
        Artinya, pembentukan diri sering terjadi di titik terendah.

        Kebebasan Membentuk Diri = Tanggung Jawab
        Kalau diri bisa dibentuk, artinya kita punya kebebasan.
        Tapi di balik kebebasan, ada tanggung jawab: siapa yang kita pilih untuk jadi?

        Kita bisa memilih untuk:

        Jadi pribadi yang penuh syukur, atau selalu mengeluh

        Jadi pribadi yang berempati, atau cuek dengan sekitar

        Jadi pribadi yang berani mencoba, atau diam di zona nyaman

        Setiap pilihan mencetak diri kita sedikit demi sedikit.

        Hidup Itu Fleksibel, Diri Pun Sama
        Satu kesalahan umum: kita berpikir identitas itu kaku.
        Padahal, diri kita cair. Hari ini kita bisa jadi pekerja keras yang ambisius, besok kita bisa berubah jadi pribadi yang lebih tenang dan bijaksana karena pengalaman hidup.

        Dan itu bukan berarti kita “kehilangan diri,” melainkan kita sedang membentuk versi baru yang lebih sesuai dengan fase hidup sekarang.

        Banyak orang tidak berani melangkah karena merasa “belum menemukan dirinya.”
        Padahal, justru dengan melangkah dan mencoba, kita sedang membentuk diri itu.

        Belum yakin passion? Coba saja berbagai hal.

        Belum tahu mau jadi apa? Jalani proses, evaluasi, dan terus pahat diri.

        Identitas tidak jatuh dari langit. Ia dibangun.

        Analogi Tukang Kayu
        Bayangkan seorang tukang kayu. Ia tidak menunggu sampai kayu tiba-tiba berubah jadi meja.
        Ia memahat, memaku, mengamplas, mengulangi, sampai akhirnya terbentuk meja sesuai keinginannya.

        Begitu pula dengan hidup kita. Kita tukang kayu, diri kita kayu mentahnya.

        Faktor yang Membentuk Diri
        Ada beberapa hal utama yang sangat memengaruhi “pembentukan diri”:

        Lingkungan – orang-orang yang kita pilih untuk dekat akan memengaruhi cara pikir & kebiasaan.

        Nilai – prinsip hidup yang kita yakini.

        Pengalaman – keberhasilan dan kegagalan sama-sama jadi guru.

        Kebiasaan – pola kecil yang kita ulang setiap hari.

        Kalau kita sadar ini, kita bisa lebih bijak memilih apa yang mau kita serap, dan apa yang harus kita buang.

        Menerima Bahwa Kita Berubah
        Sering kali kita merasa bersalah karena berubah.
        “Aku kok beda banget dari dulu ya?”
        Padahal, berubah bukan berarti salah. Itu tanda kita tumbuh.

        Justru bahaya kalau kita stagnan, tetap sama padahal waktu berjalan.
        Membentuk diri artinya berani berubah ketika memang dibutuhkan.

        Membentuk Diri Itu Seumur Hidup
        Tidak ada kata “selesai.”
        Setiap fase akan menuntut pembentukan baru:

        Mahasiswa yang belajar bertanggung jawab pada diri sendiri

        Pekerja muda yang belajar bertahan dalam tekanan

        Orang tua yang belajar mengutamakan keluarga

        Lansia yang belajar menerima keterbatasan

        Prosesnya panjang, tapi justru itu yang bikin hidup penuh warna.

        Menghindari Perangkap “Versi Ideal”
        Banyak orang merasa terbebani karena mengejar satu versi ideal diri.
        “Aku harus jadi sukses sebelum umur 30.”
        “Aku harus jadi sosok yang sempurna di mata orang lain.”

        Padahal, tidak ada versi final yang tunggal.
        Setiap orang punya jalannya sendiri.
        Yang penting bukan apakah kita jadi seperti orang lain, tapi apakah kita setia membentuk diri sesuai nilai yang kita yakini.

        Menutup dengan Refleksi
        Jadi, mungkin hidup bukan soal menemukan siapa kita sebenarnya.
        Karena kalau “menemukan,” seakan ada satu jawaban pasti yang hilang.
        Sebaliknya, hidup adalah soal membentuk: versi demi versi, pilihan demi pilihan, hingga kita sampai pada diri yang kita pilih untuk jalani.

        Kalau begitu, pertanyaannya bukan lagi:
        Siapa aku sebenarnya?”
        Tapi:
        “Siapa yang mau aku bentuk dari diriku hari ini?”

        Kalau kamu lihat hidup sebagai proses membentuk diri, bukan menemukan diri—bebannya terasa lebih ringan, kan?
        Karena tidak ada kata salah. Tidak ada kata terlambat. Yang ada hanya kesempatan untuk terus membentuk.arena faktanya, setiap fase hidup memberi kita versi baru dari diri sendiri.

        Jadi…
        Kamu lagi membentuk versi diri yang seperti apa sekarang?

      • Lia
        Participant
        GamiPress Thumbnail
        Achievement ThumbnailAchievement Thumbnail
        Image 9 replies
        View Icon 5  views

          Ini tulisan yang bikin hati hangat dan kepala mikir. Setuju banget, hidup itu bukan soal nemu ‘aku yang sejati’, tapi soal terus milih dan membentuk. Lagi coba jadi versi diriku yang lebih sabar dan nggak takut gagal. Makasih udah remind, Ami!

        • Albert Yosua
          Participant
          GamiPress Thumbnail
          Achievement Thumbnail
          Image 9 replies
          View Icon 5  views

            Terima kasih sudah menulis dengan jujur dan reflektif. Tulisan seperti ini bukan hanya menyentuh, tapi juga membangkitkan kesadaran untuk hidup lebih aktif dan bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihan kita sendiri. Semoga semakin banyak tulisan seperti ini yang bisa jadi pengingat bahwa kita punya kuasa membentuk diri—dan tidak ada kata terlambat untuk mulai.

          • Albert Yosua
            Participant
            GamiPress Thumbnail
            Achievement Thumbnail
            Image 9 replies
            View Icon 5  views

              Selain itu, apakah Kak Amilia pernah merasa lelah dalam proses membentuk diri? Apalagi saat sudah merasa membaik, tapi kemudian tergelincir lagi ke pola lama. Kadang muncul rasa seperti “kok balik lagi ke titik ini?” atau merasa tidak ada kemajuan. Apakah menurut Kakak, kemunduran sesekali juga bagian dari proses pembentukan?

            • Albert Yosua
              Participant
              GamiPress Thumbnail
              Achievement Thumbnail
              Image 9 replies
              View Icon 5  views

                Pertanyaan Kak Amilia di akhir tulisan — “kamu lagi membentuk versi diri seperti apa sekarang?” — benar-benar jadi tamparan lembut. Karena jujur, kadang aku terlalu sibuk menjalani hidup tanpa menyadari aku sedang membentuk sesuatu. Jadi refleksi penting juga untuk lebih sadar terhadap nilai-nilai yang sedang aku perjuangkan, dan kebiasaan-kebiasaan yang sedang aku tanam.

              • Albert Yosua
                Participant
                GamiPress Thumbnail
                Achievement Thumbnail
                Image 9 replies
                View Icon 5  views

                  Tapi aku juga ingin bertanya, bagaimana caranya tetap konsisten membentuk diri ketika lingkungan atau tekanan dari luar justru mendorong kita jadi orang yang tidak sesuai dengan nilai yang kita yakini? Kadang rasanya seperti harus memilih antara “menyesuaikan diri” dengan orang lain atau tetap teguh pada versi diri yang sedang kita bentuk—meskipun itu berarti berjalan sendiri.

                • Albert Yosua
                  Participant
                  GamiPress Thumbnail
                  Achievement Thumbnail
                  Image 9 replies
                  View Icon 5  views

                    Kutipan tentang “setiap fase hidup menghadirkan versi diri yang baru” juga sangat relevan. Aku merasa selama ini terlalu keras pada diri sendiri karena merasa “berubah” dari dulu. Padahal, perubahan bukan tanda kita kehilangan arah, melainkan bagian dari proses menjadi. Rasanya lega ketika tahu bahwa menjadi versi yang berbeda itu bukan kegagalan, tapi pertumbuhan.

                  • Albert Yosua
                    Participant
                    GamiPress Thumbnail
                    Achievement Thumbnail
                    Image 9 replies
                    View Icon 5  views

                      Bagian tentang rasa sakit sebagai alat pahat yang tajam membuatku terdiam cukup lama. Selama ini mungkin aku menghindari rasa sakit atau melihatnya hanya sebagai beban. Tapi ternyata, justru dari sanalah kita bisa tumbuh jadi pribadi yang lebih kuat atau lebih bijaksana. Aku jadi mikir ulang tentang berbagai momen sulit yang pernah terjadi—dan bagaimana itu semua sebenarnya membentukku.

                    • Albert Yosua
                      Participant
                      GamiPress Thumbnail
                      Achievement Thumbnail
                      Image 9 replies
                      View Icon 5  views

                        Tulisan ini membuka sudut pandang yang segar sekaligus menantang kebiasaan berpikir lama yang mungkin tanpa sadar sering kita ulang. Konsep bahwa diri itu dibentuk, bukan ditemukan, benar-benar menggeser cara pandangku terhadap perjalanan hidup. Selama ini aku sering merasa frustrasi karena merasa belum “menemukan” siapa diriku. Tapi setelah membaca ini, aku jadi sadar: mungkin selama ini aku lupa bahwa aku punya kendali untuk memilih dan membentuk.

                      • Albert Yosua
                        Participant
                        GamiPress Thumbnail
                        Achievement Thumbnail
                        Image 9 replies
                        View Icon 5  views

                          Analogi tanah liat dan tukang kayu sangat mengena. Terasa sederhana tapi dalam. Kita bukan sesuatu yang tinggal ditemukan di balik kabut, melainkan bahan mentah yang terus diolah. Justru kesadaran bahwa kita bisa membentuk diri sendiri lewat pilihan-pilihan kecil setiap hari memberi rasa tanggung jawab, sekaligus kebebasan.

                      Viewing 9 reply threads
                      • You must be logged in to reply to this topic.
                      Image

                      Bergabung & berbagi bersama kami

                      Terhubung dan dapatkan berbagai insight dari pengusaha serta pekerja mandiri untuk perluas jaringan bisnis Anda!