::
Sejak kecil, kita sering diajarkan bahwa hidup itu tentang siapa yang lebih cepat, siapa yang lebih pintar, siapa yang lebih sukses.
Tapi, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya:
Benarkah hidup ini sebuah kompetisi?
* Coba ingat masa sekolah.
Anak-anak sering dibandingkan lewat ranking kelas.
“Si A juara 1, kamu kok juara 5?”
Seolah-olah nilai akademik menjadi satu-satunya ukuran berharga.
Tanpa sadar, pola pikir kompetisi itu menempel sejak dini.
* Begitu masuk dunia kerja, “arena lomba” itu semakin besar.
Ada target penjualan, ada promosi jabatan, ada perbandingan antar-tim.
Bahkan di luar kerja, media sosial menambah bahan bakar: siapa yang liburannya lebih keren, siapa yang lebih dulu menikah, siapa yang sudah punya rumah.
* Tidak heran kalau banyak dari kita akhirnya menganggap hidup ini ajang balapan.
Kalau orang lain lebih dulu, kita merasa tertinggal.
Kalau orang lain punya lebih banyak, kita merasa kalah.
Dan tanpa sadar, kita lupa bahwa hidup tidak pernah punya garis finish yang sama untuk semua orang.
Masalahnya, menganggap hidup sebagai kompetisi punya dampak yang serius:
– Kita mudah cemas karena selalu merasa tertinggal.
– Kita iri saat orang lain berhasil.
– Kita lupa bersyukur karena fokus pada “yang belum ada”.
– Hubungan dengan orang lain jadi penuh persaingan, bukan kerja sama.
Padahal, kalau kita pikir baik-baik…
Lawan kita dalam hidup bukanlah orang lain.
Justru yang paling relevan untuk dibandingkan adalah diri kita kemarin vs diri kita hari ini.
Apakah kita tumbuh? Apakah kita belajar sesuatu? Apakah kita lebih bijak?
Hidup bukan kompetisi, melainkan perjalanan.
Bayangkan dua analogi:
Kompetisi = lari di stadion. Semua start dari garis sama, finish sama, pemenangnya ditentukan dari kecepatan.
Kehidupan = hiking di gunung. Jalurnya beda, kecepatan beda, pemandangan yang dilihat beda, dan tujuannya bukan siapa paling cepat, tapi siapa bisa menikmati perjalanan.
Pertanyaannya: kenapa kita sering lupa ini?
Ada beberapa alasan besar:
Budaya perbandingan sejak kecil.
Tekanan sosial dan ekonomi.
Media sosial yang menonjolkan pencapaian.
Ego kita yang ingin selalu merasa lebih unggul dari orang lain.
*Yang berbahaya adalah ketika kita tidak sadar bahwa setiap orang punya “arena lomba” masing-masing.
Ada yang lebih dulu menikah. Ada yang lebih dulu sukses. Ada yang lebih dulu punya anak.
Tapi, apakah itu berarti kita kalah? Tentu tidak.
Kita hanya berjalan di jalur yang berbeda.
Bayangkan seorang tukang kayu dan seorang petani.
Apakah mungkin keduanya dibandingkan siapa lebih hebat?
Tidak bisa. Karena alat ukurnya berbeda.
Begitu pula hidup kita. Ukurannya unik.
Kalau kita terus menjadikan orang lain sebagai lawan, kita akan kelelahan.
Setiap pencapaian orang lain jadi ancaman.
Setiap kegagalan kita jadi beban.
Padahal hidup jauh lebih damai kalau kita berhenti membandingkan dan mulai menghargai perjalanan masing-masing.
Coba lihat kembali ke dalam:
Apa yang benar-benar penting untukku?
Apa arti sukses dalam versiku sendiri?
Apa hal yang membuatku bahagia, bukan sekadar terlihat berhasil di mata orang lain?
Ketika kita menemukan jawabannya, kita akan sadar:
Kita tidak perlu terburu-buru.
Kita tidak perlu mengejar semua orang.
Kita hanya perlu konsisten membentuk diri sesuai nilai yang kita yakini.
Di titik ini, kita bisa melihat hidup orang lain bukan sebagai kompetitor, melainkan sebagai kawan seperjalanan.
Mereka bukan saingan, tapi sesama manusia yang juga berjuang dengan jalannya sendiri.
Dan dari situ, muncul empati, bukan iri hati.
15/
Jadi, kalau lain kali kamu merasa tertinggal, ingat ini:
Tidak semua orang punya garis start yang sama.
Tidak semua orang punya tujuan yang sama.
Tidak semua orang punya kecepatan yang sama.
Hidup bukan tentang siapa yang sampai duluan.
Tapi tentang bagaimana kita menjalani perjalanan itu dengan makna, dengan syukur, dan dengan damai.
Mungkin sekarang saatnya kita berhenti menjadikan hidup sebagai kompetisi.
Karena sebenarnya, hidup adalah ruang untuk bertumbuh, bukan arena untuk saling mengalahkan.
Kalau kamu setuju, yuk mulai hari ini kita coba lebih fokus pada perjalanan diri sendiri.
Kurangi membandingkan, perbanyak bersyukur.
Karena hidup akan terasa lebih ringan kalau kita berhenti berlari melawan orang lain.
Jadi, kenapa kita sering lupa bahwa hidup bukan kompetisi?
Karena sejak kecil kita diajarkan untuk selalu membandingkan.
Tapi kabar baiknya, kita bisa memilih untuk berhenti.
Kita bisa memilih untuk berjalan, bukan berlomba.