Home / Topics / Human Resource / Memanusiakan Manusia: Kunci Sederhana, Tapi Sering Terlupakan
- This topic has 12 replies, 4 voices, and was last updated 3 weeks ago by
Lia.
Memanusiakan Manusia: Kunci Sederhana, Tapi Sering Terlupakan
July 10, 2025 at 1:46 pm-
-
Up::0
Pernah nggak kamu merasa diperlakukan seperti mesin? Disuruh kerja tanpa jeda, dituntut tanpa dimengerti, atau dinilai cuma dari hasil—bukan dari usaha dan niat baikmu? Kalau pernah, berarti kamu tahu rasanya ketika sisi kemanusiaan kita nggak dianggap. Dan sedihnya, kadang tanpa sadar kita juga bisa memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.
Padahal, manusia itu bukan cuma soal logika dan kerja. Kita semua punya rasa, lelah, harapan, dan perjuangan yang nggak selalu terlihat di permukaan. Dan di sinilah pentingnya kita belajar satu hal sederhana tapi dalam: memanusiakan manusia.
Apa Artinya “Memanusiakan Manusia”?
Memanusiakan manusia berarti memperlakukan seseorang dengan hormat, empati, dan pengertian—apapun perannya. Bukan cuma lihat mereka dari kacamata posisi, jabatan, atau output. Tapi lihat mereka sebagai manusia yang kadang sedang baik-baik saja, kadang juga sedang berjuang diam-diam.Kenapa Ini Penting?
1. Karena semua orang ingin dihargai.
Ucapan terima kasih, sapaan tulus, atau sekadar mendengarkan keluhan bisa jadi bentuk penghargaan yang menguatkan seseorang.2. Karena empati menciptakan lingkungan yang sehat.
Ketika kita peduli pada perasaan dan batas orang lain, suasana kerja, rumah, atau komunitas jadi lebih nyaman dan saling mendukung.3. Karena kita semua punya keterbatasan.
Produktivitas itu penting, tapi jangan sampai mengorbankan sisi manusiawi. Manusia butuh istirahat, didengar, dan dimengerti.Hal Sederhana yang Bisa Kita Lakukan
– Dengar dulu sebelum menilai.
– Tanyakan kabar dengan tulus, bukan sekadar basa-basi.
– Hormati waktu istirahat orang lain.
– Jangan meremehkan perasaan, sekecil apapun itu.
– Beri ruang untuk orang belajar dan berkembang tanpa ditekan.Memanusiakan manusia bukan cuma tugas HR, pemimpin, atau orang tua. Ini tugas kita semua, di mana pun posisi kita. Dunia ini butuh lebih banyak orang yang bukan hanya cerdas, tapi juga hangat dan peduli.
Karena pada akhirnya, kita semua ingin dihargai bukan karena apa yang kita hasilkan—tapi karena siapa kita sebenarnya.
-
Menurut saya, ide untuk memanusiakan manusia ini sangat relevan, terutama di dunia yang sering kali menilai orang hanya berdasarkan hasil atau produktivitas. Banyak orang sering merasa terabaikan atau diperlakukan seperti mesin, padahal mereka punya perasaan dan kelelahan yang harus dihargai.
Kalau saya boleh menambahkan, selain mendengarkan dan menunjukkan empati, mungkin juga penting untuk memberi ruang bagi orang untuk berbicara tentang tantangan yang mereka hadapi—tanpa takut dianggap lemah atau tidak kompeten. Banyak orang merasa tertekan untuk selalu tampil sempurna dan tanpa cacat, padahal itu membuat mereka semakin tertekan.
Saya ingin bertanya, apakah menurut Anda, ada cara yang lebih efektif untuk membangun budaya saling menghargai dan empati di tempat kerja atau komunitas yang sudah sangat produktif dan kompetitif?
-
Setuju banget, Albert. Dunia kerja atau komunitas yang sangat kompetitif memang sering tanpa sadar mengikis empati. Apalagi kalau standar keberhasilan hanya diukur dari output dan kecepatan.
Menurutku, cara membangun budaya saling menghargai di lingkungan seperti itu harus dimulai dari keberanian ‘berhenti sebentar’. Nggak selalu harus lewat program besar. Kadang cukup dari hal kecil seperti pemimpin yang mau kasih ruang buat ngobrol terbuka—bukan soal target, tapi soal kondisi pribadi tim.
Contohnya: di satu tim kerja yang pernah aku lihat, setiap Senin pagi mereka mulai dengan 10 menit ‘human check-in’ semua orang bisa cerita satu hal personal atau emosi mereka minggu itu. Ternyata dari situ, empati antar anggota tim tumbuh pelan-pelan. Ada rasa saling ngerti, bukan sekadar saling tuntut.
Mungkin bisa dimulai dari pertanyaan sederhana: ‘Gimana kabarmu hari ini, beneran, bukan basa-basi? Kadang itu aja udah bikin orang merasa dilihat.
-
Aku setuju, keberanian untuk “berhenti sebentar” itu kunci—apalagi di lingkungan kerja yang ritmenya cepat dan targetnya ketat. Justru momen-momen singkat kayak ngobrol dari hati ke hati itu yang bikin kita ingat: kita ini manusia, bukan mesin.
-
-
Kalau boleh, aku mau lempar pertanyaan ke teman-teman di forum:
Pernah nggak kamu merasa benar-benar “dimanusiakan” oleh seseorang? Apa yang mereka lakukan waktu itu, dan kenapa itu berkesan banget buatmu?
Kadang kita bisa belajar banyak dari pengalaman kecil tapi ngena kayak gitu.Siapa tahu bisa jadi inspirasi buat diterapkan juga di tempat kerja atau lingkungan sekitar kita ✨
-
Terima kasih untuk pertanyaannya, Albert 🙏
Aku merasa ini pertanyaan yang sangat penting—dan juga sangat personal buat banyak dari kita.Aku pernah merasa benar-benar “dimanusiakan” waktu atasan lamaku bilang, “Kamu nggak perlu minta maaf karena butuh waktu istirahat.”
Waktu itu aku izin karena ngerasa overwhelmed dan agak nggak enak hati karena kerjaan lagi padat. Tapi responsnya justru penuh pengertian. Beliau bahkan bilang, “Kamu pulih dulu, kita backup bareng-bareng. Kamu manusia, bukan robot.”Itu momen yang ngena banget buat aku. Bukan cuma karena kata-katanya, tapi karena aku merasa dipercaya dan dianggap utuh—bukan cuma sebagai pekerja, tapi sebagai manusia yang punya batas.
Sejak saat itu, aku juga belajar buat lebih peka ke orang lain. Terkadang kita nggak tahu apa yang sedang mereka hadapi, jadi satu sikap kecil yang penuh empati bisa punya dampak luar biasa.
💬 Kalau boleh, aku juga mau tanya ke teman-teman di forum:
Apa satu hal kecil yang pernah kamu lakukan (atau terima) yang menurutmu sangat berarti dalam “memanusiakan” seseorang?
Kadang inspirasi terbesar justru datang dari tindakan sederhana yang tulus. -
Momen seperti itu pasti jadi bekal berharga untuk kamu dalam memperlakukan orang lain dengan cara yang sama, ya kan? Kadang hal-hal sederhana bisa memberi dampak besar. Aku juga ingin tahu, apakah setelah pengalaman itu, kamu mulai lebih terbuka dan jujur soal kebutuhan istirahat atau kesejahteraan pribadi di tempat kerja?
-
Terkadang, kita lebih butuh pengakuan sebagai manusia yang memiliki perasaan, bukan hanya sebagai mesin yang terus bekerja tanpa henti. Saya rasa apa yang dilakukan atasanmu itu bukan hanya menunjukkan empati, tetapi juga memperlihatkan kepemimpinan yang penuh perhatian. Itu yang mungkin seringkali kita lupakan—peran kita bukan cuma sebagai pengatur atau pengawas, tapi juga sebagai pembimbing yang peduli terhadap kesejahteraan tim.
-
Kak Lia, itu pengalaman yang sangat powerful dan benar-benar menggugah!
-
-
Untuk pertanyaan forum:
1. Apa satu tindakan kecil yang menurut kalian bisa memanusiakan seseorang di tengah rutinitas yang padat?
2. Pernahkah kalian merasa dimanusiakan dalam lingkungan kerja? Bagaimana hal itu memengaruhi cara kalian bekerja dan berinteraksi dengan orang lain?
3. Menurut kalian, bagaimana cara terbaik untuk mengedukasi tim atau komunitas tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara produktivitas dan empati?-
Pertanyaan-pertanyaan yang bagus, Albert! Menjawab pertanyaanmu, aku setuju banget kalau tindakan kecil bisa punya dampak besar.
Menurutku, tindakan kecil yang paling memanusiakan itu adalah mendengarkan dengan tulus. Enggak cuma dengar apa yang diucapkan, tapi juga peka sama nada bicaranya.
Aku pernah merasa dimanusiakan saat bosku bilang, “Kamu pulih dulu, kita backup bareng-bareng. Kamu manusia, bukan robot.” Itu bikin aku jadi lebih loyal, enggak takut salah, dan lebih berani berbagi ide.
Menurutku, cara terbaik untuk mengedukasi empati adalah lewat teladan dari atasan atau pemimpin. Kalau atasan sudah menunjukkan empati, tim di bawahnya pasti akan mencontoh.
-
-
Mamanusikan Manusia terkadang suka di abaikan oleh para atasan dan bisnis owner ke karyawannya. Makanya ga heran munculnya dinamika turn over di perusahaan
-
Setuju banget, mas Widdy. Komentar kamu itu to the point dan sangat relevan.
Fenomena tingginya angka turnover di perusahaan memang sering kali berakar dari kurangnya rasa dihargai dan diperlakukan seperti manusia. Ketika atasan atau pemilik bisnis lupa bahwa karyawan adalah aset paling berharga, bukan sekadar mesin penghasil profit, di situlah masalah mulai muncul.
Perusahaan yang peduli pada kesejahteraan karyawan akan lebih mudah mempertahankan talenta terbaiknya. Itu jadi bukti nyata bahwa memanusiakan manusia itu bukan cuma soal etika, tapi juga strategi bisnis yang cerdas.
-
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Peringkat Top Contributor
- #1 LiaPoints: 589
- #2 Albert YosuaPoints: 533
- #3 WIDDY FERDIANSYAHPoints: 375
- #4 Amilia Desi MarthasariPoints: 88
- #5 ERINA AIRINPoints: 56
Artikel dengan topic tag terkait:
Tag : All
- Kuis Spesial Menyambut Tahun Baru 2025!11 December 2024 | General
- Mekari Community Giveaway Tiket Mekari Conference 202423 July 2024 | General
- Karyawan Teng-Go Pulang Tepat Waktu8 July 2025 | General
- Valentine Edition: Ungkapkan Cintamu untuk Karier & Perusahaanmu6 February 2025 | General
- “Karyawan pencari muka: loyalitas atau manipulasi?”22 August 2025 | Human Resource