Apakah anda mencari sesuatu?

  • This topic has 3 replies, 2 voices, and was last updated 3 days, 15 hours ago by Amilia Desi Marthasari.

Si Tangan Sunyi yang Menjaga Nyamannya Kantor

August 25, 2025 at 7:29 am
image
    • Lia
      Participant
      GamiPress Thumbnail
      Achievement ThumbnailAchievement Thumbnail
      Image 3 replies
      View Icon 2  views
        Up
        1
        ::

        Di banyak kantor, ada sosok yang sering kita lihat tapi jarang benar-benar kita perhatikan: Office Boy (OB). Mereka hadir lebih pagi dari kebanyakan karyawan, menyapu lantai yang masih sepi, menyiapkan kopi atau teh sebelum rapat dimulai, dan memastikan meja rapih meski semalam kita pulang tergesa-gesa.

        Seringkali, peran mereka direduksi hanya sebatas “tukang bersih-bersih” atau “yang disuruh-suruh”. Padahal, jika diperhatikan lebih dalam, OB adalah salah satu roda penting yang membuat kantor bisa berjalan dengan nyaman. Mereka bukan sekadar “pendukung”, tetapi juga penghubung tak kasat mata dalam ekosistem kerja.

        Coba bayangkan jika suatu hari kantor berjalan tanpa kehadiran mereka. Meja rapat masih berdebu, gelas-gelas bekas meeting kemarin menumpuk di sudut ruangan, pantry berantakan, bahkan dispenser air kosong tak ada yang mengganti. Hal-hal kecil itu mungkin terlihat sepele, tapi justru yang “sepele” itulah yang memengaruhi produktivitas. Kita bisa kehilangan fokus, mudah lelah, bahkan mudah kesal hanya karena suasana kerja yang berantakan.

        Lebih jauh lagi, OB seringkali menjadi “penjaga suasana hati” di kantor. Ada kalanya mereka menyapa dengan senyum tulus ketika pagi kita masih kusut. Ada juga saat mereka membantu hal-hal kecil di luar tugas, seperti mengantar dokumen, memfotokopi berkas, bahkan membantu teknis acara kantor yang mendadak. Mereka bukan hanya pekerja fisik, tapi juga bagian dari kultur kerja—yang menciptakan rasa kebersamaan, ringan tangan, dan solidaritas.

        Ironisnya, perhatian terhadap OB sering datang hanya ketika ada keluhan: lantai dianggap kurang bersih, pantry kehabisan kopi, atau AC bocor tidak segera dibereskan. Padahal, apresiasi jarang terdengar ketika semua berjalan lancar. Inilah bias yang kerap terjadi: pekerjaan yang “tidak terlihat” justru paling besar dampaknya ketika absen.

        Menghargai peran OB bukan berarti memberi mereka beban lebih, melainkan mengakui bahwa mereka bagian penting dari tim. Menyapa mereka dengan nama, mengucapkan terima kasih setelah dibantu, atau sekadar menawarkan makanan ketika makan bersama—itu adalah bentuk pengakuan sederhana bahwa mereka manusia yang punya martabat, bukan sekadar “fasilitas kantor”.

        Apalagi, tidak sedikit OB yang sesungguhnya punya mimpi lebih besar. Ada yang bekerja sambil kuliah malam, ada yang mencari tambahan untuk keluarga, ada pula yang dengan rendah hati menerima posisinya sembari tetap berusaha memberi yang terbaik. Mereka adalah teladan ketekunan dalam diam.

        Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang. OB bukan sekadar orang yang bersih-bersih atau menjalankan perintah. Mereka adalah rekan kerja kita juga, hanya berbeda peran. Sama-sama berkontribusi agar kantor bisa berfungsi, sama-sama berhak dihargai.

        Karena pada akhirnya, kantor bukan hanya tentang laporan, target, dan rapat. Kantor adalah ruang bersama yang dijaga oleh banyak tangan, termasuk tangan-tangan yang sering kita lupakan.

        Lalu bagaimana menurut kamu? Apakah di kantor kamu, peran OB sudah cukup dihargai sebagai bagian dari tim, atau masih sering dianggap sekadar “pembantu” saja? Yuk, bagikan pandanganmu di kolom komentar.

        Karena pada akhirnya, kantor bukan hanya tentang laporan, target, dan rapat. Kantor adalah ruang bersama yang dijaga oleh banyak tangan, termasuk tangan-tangan yang sering kita lupakan.

         

      • Amilia Desi Marthasari
        Participant
        GamiPress Thumbnail
        Image 3 replies
        View Icon 2  views

          AQ setuju kak Lia..Sering kali peran Office Boy (OB) dianggap sepele, padahal mereka punya kontribusi penting buat kelancaran operasional.

        • Amilia Desi Marthasari
          Participant
          GamiPress Thumbnail
          Image 3 replies
          View Icon 2  views

            Di beberapa perusahaan yang punya budaya inklusif, OB benar-benar dianggap bagian dari tim: ikut gathering, dihargai dalam ucapan terima kasih, bahkan kadang dilibatkan dalam keputusan non-teknis (misalnya soal kenyamanan kantor).

          • Amilia Desi Marthasari
            Participant
            GamiPress Thumbnail
            Image 3 replies
            View Icon 2  views

              tpi di banyak tempat lain, OB masih sering dipandang sebelah mata—hanya sebagai “pembantu”, bukan rekan kerja yang juga berkontribusi.
              Padahal, menghargai OB = menghargai ekosistem kerja.
              Kalau tiap peran di kantor diakui, suasana jadi lebih sehat, hubungan lebih manusiawi, dan produktivitas tim ikut naik.

          Viewing 3 reply threads
          • You must be logged in to reply to this topic.
          Image

          Bergabung & berbagi bersama kami

          Terhubung dan dapatkan berbagai insight dari pengusaha serta pekerja mandiri untuk perluas jaringan bisnis Anda!