::
Target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% pada tahun 2026 menunjukkan optimisme pemerintah dalam menjaga momentum pemulihan dan akselerasi ekonomi nasional. Dari paparan anggaran yang disiapkan, terlihat bahwa strategi pemerintah tidak hanya berfokus pada satu sektor, melainkan menyentuh berbagai aspek fundamental seperti ketahanan pangan, energi, pendidikan, kesehatan, hingga penguatan UMKM dan industri strategis. Pendekatan ini patut diapresiasi karena pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan memang membutuhkan fondasi yang luas dan saling terintegrasi.
Alokasi anggaran yang besar pada sektor ketahanan pangan dan energi menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah menyadari pentingnya stabilitas pasokan di tengah ketidakpastian global. Dengan tantangan perubahan iklim, geopolitik, serta fluktuasi harga komoditas dunia, ketahanan di dua sektor ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut stabilitas sosial dan politik nasional. Namun, tantangan terbesar tetap terletak pada efektivitas implementasi di lapangan, bukan semata besarnya anggaran.
Program Makan Bergizi Gratis dengan alokasi Rp 335 triliun juga menarik untuk dicermati. Di satu sisi, program ini memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Di sisi lain, program berskala besar seperti ini membutuhkan tata kelola yang sangat kuat agar tidak menimbulkan kebocoran anggaran, inefisiensi, maupun ketimpangan distribusi manfaat antar daerah.
Dukungan terhadap UMKM melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan langkah strategis yang konsisten dengan upaya mendorong ekonomi kerakyatan. UMKM selama ini terbukti menjadi bantalan ekonomi saat krisis. Namun, tantangan klasik seperti literasi keuangan, akses pasar, dan digitalisasi masih menjadi pekerjaan rumah besar yang perlu diatasi secara simultan agar KUR benar-benar mendorong kenaikan produktivitas, bukan sekadar menambah beban kredit.
Langkah pemerintah dalam memberikan insentif besar pada industri tekstil patut menjadi perhatian khusus. Pendanaan awal sekitar US$ 6 miliar serta rencana pembentukan BUMN khusus tekstil menunjukkan keseriusan negara dalam menghidupkan kembali sektor ini. Target lonjakan ekspor dari US$ 4 miliar menjadi US$ 40 miliar dalam 10 tahun merupakan ambisi besar yang hanya dapat tercapai jika didukung oleh modernisasi teknologi, efisiensi rantai pasok, serta peningkatan kualitas SDM.
Selain tekstil, fokus pada pengembangan industri semikonduktor juga mencerminkan visi jangka panjang pemerintah dalam menghadapi era ekonomi digital. Semikonduktor adalah tulang punggung berbagai industri masa depan, mulai dari otomotif, IoT, hingga pusat data. Namun, industri ini sangat padat modal, teknologi, dan talenta, sehingga kolaborasi dengan mitra global serta investasi serius pada pendidikan dan riset menjadi kunci keberhasilannya.
Dari perspektif kebijakan fiskal, besarnya anggaran dan insentif yang digelontorkan tentu menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan fiskal dan efektivitas belanja negara. Tantangan ke depan bukan hanya mencapai target pertumbuhan 5,4%, tetapi memastikan bahwa pertumbuhan tersebut berkualitas, inklusif, dan mampu menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan.
Untuk diskusi bersama di Fintax Community, menurut rekan-rekan, sektor mana yang paling realistis menjadi motor utama pencapaian target pertumbuhan ekonomi 2026? Apakah strategi industrialisasi melalui tekstil dan semikonduktor sudah tepat, atau justru penguatan UMKM dan ekonomi digital yang seharusnya menjadi prioritas utama? Selain itu, bagaimana peran kebijakan pajak dan insentif fiskal agar tidak hanya mendorong pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga menjaga kesehatan fiskal jangka panjang?