Apakah anda mencari sesuatu?

  • This topic has 0 replies, 1 voice, and was last updated 2 days, 3 hours ago by Amilia Desi Marthasari.

Tentang Mendengar, Menghargai, dan Tidak Merendahkan Sesama

February 2, 2026 at 11:30 am
image
    • Amilia Desi Marthasari
      Participant
      GamiPress Thumbnail
      Image 0 replies
      View Icon 6 views
        Up
        0
        ::

        Di dunia yang semakin cepat, bising, dan penuh tuntutan, ada satu hal yang perlahan terkikis tanpa kita sadari: cara kita memanusiakan manusia. Kita hidup berdampingan, bekerja bersama, bercakap setiap hari, namun sering kali lupa bahwa di balik setiap peran, jabatan, dan label, ada manusia dengan perasaan, luka, harapan, dan cerita hidupnya masing-masing.

        Memanusiakan manusia bukanlah konsep yang muluk. Ia bukan teori berat atau jargon filsafat yang hanya indah di atas kertas. Memanusiakan manusia adalah praktik sehari-hari—tentang bagaimana kita berbicara, mendengar, memperlakukan, dan menghargai orang lain, bahkan ketika kita berbeda pendapat atau berada di posisi yang tidak setara.

        Apa Arti Memanusiakan Manusia?
        Memanusiakan manusia berarti mengakui bahwa setiap orang memiliki martabat yang sama, apa pun latar belakangnya. Tidak peduli dia atasan atau bawahan, kaya atau sederhana, pintar atau biasa saja, kuat atau sedang rapuh—setiap manusia berhak diperlakukan dengan hormat.

        Ini berarti:

        Tidak merendahkan hanya karena merasa lebih berkuasa
        Tidak mengabaikan hanya karena merasa tidak membutuhkan
        Tidak melukai dengan kata-kata hanya karena merasa benar
        Memanusiakan manusia adalah menyadari bahwa orang lain bukan alat, bukan angka, bukan sekadar “SDM”, bukan hanya target, bukan sekadar fungsi. Mereka adalah manusia yang bernapas, merasa, dan berjuang.

        Ketika Manusia Direduksi Menjadi Angka
        Di banyak ruang kehidupan—kantor, sekolah, bahkan keluarga—manusia sering direduksi menjadi angka dan hasil. Nilai rapor, KPI, target, performa, produktivitas. Semua itu penting, ya. Tapi masalah muncul ketika angka lebih dipentingkan daripada manusia itu sendiri.

        Seseorang yang lelah dianggap malas.
        Seseorang yang salah dianggap gagal total.
        Seseorang yang berbeda pendapat dianggap pembangkang.

        Padahal, bisa jadi orang itu sedang berjuang melawan hal-hal yang tidak terlihat: masalah keluarga, kesehatan mental, kelelahan emosional, atau krisis hidup yang tak pernah ia ceritakan.

        Memanusiakan manusia berarti tidak terburu-buru menghakimi, karena kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang diperjuangkan orang lain.

        Mendengar: Bentuk Paling Sederhana dari Kemanusiaan
        Salah satu wujud paling nyata dari memanusiakan manusia adalah mendengar. Bukan mendengar untuk membalas, menyela, atau mengoreksi—tetapi mendengar untuk memahami.

        Hari ini, banyak orang ingin bicara, sedikit yang mau mendengar. Kita sering:

        Memotong pembicaraan
        Menganggap remeh curhatan
        Memberi solusi padahal tidak diminta
        Mengatakan “kamu lebay” saat seseorang sedang jujur tentang perasaannya
        Padahal, sering kali yang dibutuhkan seseorang bukan solusi, melainkan kehadiran. Didengar tanpa dihakimi. Dipahami tanpa dibandingkan. Diakui tanpa direndahkan.

        Mendengar adalah bentuk penghormatan. Saat kita benar-benar mendengar, kita berkata tanpa kata: “Perasaanmu valid. Kamu penting.”

        Bahaya Merasa Paling Benar
        Salah satu penghalang terbesar dalam memanusiakan manusia adalah ego merasa paling benar. Ketika seseorang merasa dirinya lebih tahu, lebih pintar, lebih berpengalaman, ia cenderung meremehkan suara orang lain.

        Kalimat seperti:

        “Kamu belum paham”
        “Zaman saya dulu lebih berat”
        “Kamu terlalu sensitif”
        Sering kali diucapkan tanpa sadar, namun dampaknya bisa dalam. Kata-kata ini tidak hanya mematahkan argumen, tetapi juga mematikan keberanian seseorang untuk menjadi jujur.

        Memanusiakan manusia berarti memberi ruang bagi perbedaan, tanpa harus selalu menang. Tidak semua diskusi harus berakhir dengan siapa yang paling benar. Kadang, yang paling manusiawi adalah mengakui: “Aku mungkin tidak sepenuhnya mengerti, tapi aku mau belajar memahami.”

        Empati: Bukan Menyamakan, Tapi Menghormati
        Empati sering disalahartikan sebagai “aku juga pernah begitu”. Padahal empati bukan tentang menyamakan pengalaman, melainkan menghormati perasaan orang lain meski pengalaman kita berbeda.

        Ketika seseorang berkata, “Aku capek,” dan kita menjawab, “Ah, aku lebih capek,” saat itulah empati gagal hadir.

        Memanusiakan manusia berarti:

        Tidak membandingkan penderitaan
        Tidak mengecilkan rasa sakit orang lain
        Tidak mengukur luka dengan standar pribadi
        Setiap orang punya ambang lelah dan luka yang berbeda. Apa yang tampak sepele bagi kita, bisa jadi berat bagi orang lain.

        Dalam Dunia Kerja: Antara Profesional dan Manusiawi
        Di lingkungan kerja, memanusiakan manusia sering diuji. Tekanan target, hierarki jabatan, dan tuntutan hasil kerap membuat empati tersisih.

        Padahal, lingkungan kerja yang manusiawi bukan berarti tidak tegas. Justru sebaliknya—ketegasan yang dibungkus dengan penghormatan akan melahirkan kepercayaan dan loyalitas.

        Atasan yang memanusiakan manusia:

        Menegur tanpa merendahkan
        Mengoreksi tanpa mempermalukan
        Menilai kinerja tanpa menyerang pribadi
        Rekan kerja yang memanusiakan manusia:

        Tidak menjatuhkan untuk naik
        Tidak menyebar gosip
        Tidak memanfaatkan kelemahan orang lain
        Karena pada akhirnya, keberhasilan kolektif tidak pernah lahir dari rasa takut, melainkan dari rasa dihargai.

        Memanusiakan Diri Sendiri Juga Penting
        Menariknya, banyak orang gagal memanusiakan orang lain karena tidak memanusiakan dirinya sendiri. Terlalu keras pada diri sendiri, terlalu sering mengabaikan lelah, terlalu takut dianggap lemah.

        Orang yang tidak pernah diberi ruang untuk merasa, sering kali kesulitan memberi ruang bagi perasaan orang lain.

        Memanusiakan diri sendiri berarti:

        Mengakui bahwa lelah itu wajar
        Bahwa salah itu bagian dari belajar
        Bahwa tidak selalu kuat bukan berarti gagal
        Saat kita berdamai dengan diri sendiri, kita lebih mudah berdamai dengan orang lain.

        Hal Kecil yang Mengubah Segalanya
        Memanusiakan manusia tidak selalu butuh aksi besar. Justru sering kali hadir dalam hal-hal kecil:

        Mengucapkan terima kasih dengan tulus
        Menyapa tanpa pamrih
        Menghargai waktu orang lain
        Meminta maaf tanpa pembelaan
        Hal-hal sederhana ini mungkin tampak sepele, tetapi bagi seseorang yang jarang dihargai, itu bisa berarti segalanya.

        Pada akhirnya, memanusiakan manusia adalah tentang kesadaran—bahwa kita semua sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Tidak ada manusia yang benar-benar baik-baik saja setiap saat. Ada hari-hari ketika senyum hanyalah topeng, dan diam adalah cara bertahan.

        Jika kita tidak bisa membantu banyak, setidaknya jangan melukai. Jika tidak bisa menyembuhkan, setidaknya jangan meremehkan.

        Karena dunia sudah cukup keras.
        Jangan biarkan kita menjadi alasan tambahan mengapa seseorang merasa tidak berharga.

        Memanusiakan manusia bukan tentang menjadi sempurna.
        Ia tentang memilih untuk tetap manusia,
        di tengah dunia yang sering lupa caranya.

    Viewing 0 reply threads
    • You must be logged in to reply to this topic.
    Image

    Bergabung & berbagi bersama kami

    Terhubung dan dapatkan berbagai insight dari pengusaha serta pekerja mandiri untuk perluas jaringan bisnis Anda!