- This topic has 9 replies, 2 voices, and was last updated 1 month ago by
Lia.
Tidak Semua Hal Bisa Dipercepat — Beberapa Hal Butuh Waktu untuk Tumbuh
December 8, 2025 at 8:58 am-
-
Up::1
Ada satu hal penting yang mengubah cara saya menjalani hidup:
Ketika kamu memaksa prosesnya terlalu cepat, pada akhirnya proses itu justru akan memaksa kamu kembali.
Sejak memahami hal ini, banyak hal mulai terasa berbeda.
Karena ternyata:
Kamu tidak bisa memaksakan kejelasan datang lebih cepat.
Kamu tidak bisa mempercepat pelajaran hidup yang memang perlu waktu.
Kamu tidak bisa mengubah musim pertumbuhan menjadi musim panen hanya karena kamu ingin semuanya terjadi sekarang.
Kita hidup di zaman yang serba cepat.
Semuanya ingin instan dan segera terlihat hasilnya.Tidak sedikit orang ingin:
jalan pintas menuju sukses,
hasil besar dalam waktu singkat,
perubahan cepat tanpa rasa sakit,
atau viral semalam tanpa usaha panjang di belakangnya.
Tapi pertanyaannya: apa yang terjadi ketika kita terburu-buru?Biasanya, justru yang terjadi adalah kebalikannya.
Ketika kita memaksa prosesnya,
kita melewatkan pelajaran penting,
kita membangun fondasi yang rapuh,
kita kelelahan bahkan sebelum mencapai titik terobosan.
Padahal apa pun yang ingin bertahan lama, hubungan, karier, karakter, kesehatan, atau mimpi besar, semuanya butuh waktu untuk tumbuh dengan kuat.Kecepatan bukan selalu jawaban.
Karena cepat itu belum tentu baik.
Cepat bisa berarti:
tidak stabil,
tidak matang,
dan tidak siap menghadapi ujian berikutnya.
Yang sering dilupakan orang adalah bahwa proseslah yang membuat kita menjadi lebih kuat bukan hasil akhirnya.Proses membuat kita:
belajar lebih sabar,
lebih bijak dalam mengambil keputusan,
lebih kuat menghadapi tantangan,
dan lebih memahami siapa diri kita sebenarnya.
Kadang hidup mengajarkan kita untuk pelan, bukan karena kita tidak mampu bergerak cepat, tetapi karena ada sesuatu yang perlu dipahami, disembuhkan, atau disiapkan terlebih dahulu.Jadi hari ini, coba tanyakan pada diri sendiri:
Bagian mana dari hidupmu yang sedang mengajarkanmu untuk memperlambat langkah?
Apakah itu hubungan?
Karier?
Mimpi besar?
Atau mungkin proses menjadi versi dirimu yang lebih kuat dan lebih matang?
Apapun jawabannya, ingat:
Tidak apa-apa menjalani hidup dengan ritmemu sendiri.
Karena sesuatu yang dibangun dengan sabar, biasanya bertahan lebih lama daripada sesuatu yang dipaksakan datang terlalu cepat.
Pelan bukan berarti tertinggal.
Pelan berarti kamu sedang tumbuh dengan kokoh.Dan ketika waktunya tiba, kamu akan paham kenapa kamu harus melalui semuanya dengan tempo yang lebih tenang.
-
Tulisan Kakak seperti mengingatkanku bahwa proses bukanlah musuh. Justru proses itu sendiri adalah tempat karakter ditempa dan fondasi diperkuat. Kalau semuanya serba instan, mungkin kita memang bisa sampai ke hasil, tapi apakah kita siap menjaganya? Itu pertanyaan lain yang sering terlupakan.
-
Bagian tentang “pelan bukan berarti tertinggal” juga sangat menenangkan. Aku pribadi sedang ada di fase transisi hidup, dan terkadang merasa kecewa pada diri sendiri karena progresku tidak secepat yang aku bayangkan. Tapi setelah membaca ini, rasanya ada ruang baru untuk menerima ritme hidupku sendiri.
-
Aku jadi merenung, mungkin benar bahwa beberapa hal memang tidak sedang lambat — tapi sedang tumbuh. Dan seperti tanaman, apa yang tumbuh perlahan biasanya lebih kuat menghadapi musim yang sulit. Ada kenyamanan tersendiri dalam menyadari hal itu.
-
Terima kasih banyak Kak untuk perspektif yang penuh kehangatan ini. Tulisannya bukan hanya reflektif, tapi juga memberi ruang bagi orang-orang yang sedang belajar berdamai dengan waktu dan prosesnya masing-masing.
-
Aku ingin bertanya, Kak: menurut Kakak, bagaimana cara kita membedakan antara “proses yang memang harus pelan” dengan “kita yang sebenarnya bisa bergerak, tapi takut melangkah”? Kadang batasnya terasa sangat tipis, dan aku penasaran bagaimana Kak Lia mengenalinya dalam pengalaman pribadi.
-
Pertanyaan ini sangat manusiawi, karena memang batasnya sering terasa tipis. Dari pengalaman saya, perbedaannya biasanya bisa dikenali dari rasa yang tertinggal setelah kita memilih untuk pelan.
Proses yang memang perlu pelan biasanya tetap memberi rasa tenang dan jujur, meskipun belum jelas. Ada kesabaran di dalamnya, bukan kegelisahan yang berlarut. Kita mungkin belum bergerak jauh, tapi tetap ada langkah kecil yang konsisten dan kesadaran bahwa kita sedang belajar sesuatu.
Sebaliknya, ketika pelan sebenarnya berasal dari rasa takut, yang tertinggal justru gelisah dan penuh alasan. Pikiran berputar, banyak pembenaran, dan ada dorongan halus untuk menunda terus. Bukan karena belum siap, tapi karena tidak ingin menghadapi ketidaknyamanan berikutnya.
Dalam pengalaman pribadi, saya mulai mengenalinya lewat pertanyaan sederhana ke diri sendiri:
“Apakah saya sedang memberi waktu agar bertumbuh, atau sedang mencari alasan agar tidak perlu melangkah?”Jika setelah jujur bertanya itu saya tetap mengambil satu langkah kecil—meski belum sempurna—biasanya itu tanda proses yang sehat. Tapi jika saya terus menunda tanpa langkah nyata, itu biasanya sinyal bahwa rasa takut sedang memegang kendali.
Bagi saya, proses yang pelan tidak pernah sepenuhnya berhenti. Ia tetap bergerak, hanya dengan tempo yang penuh kesadaran. Sedangkan ketakutan sering menyamar sebagai ‘menunggu waktu yang tepat’, padahal waktu itu tidak pernah datang jika kita tidak mulai melangkah.
-
-
Aku juga setuju bahwa zaman ini membuat kita mudah merasa harus serba cepat. Kadang bukan karena kebutuhan, tapi karena tekanan sosial yang tidak terlihat. Rasanya kalau tidak bergerak cepat, kita dianggap kurang ambisius, padahal setiap orang punya musimnya sendiri.
-
Yang paling mengena adalah bagian tentang memaksa proses. Aku rasa banyak dari kita — termasuk aku — pernah berada di posisi itu: ingin jelas sekarang, ingin berhasil sekarang, ingin sembuh sekarang. Padahal, seperti yang Kakak bilang, beberapa hal memang perlu waktu untuk tumbuh. Dan ketika dipaksakan, sering kali justru muncul kekacauan yang sebenarnya tidak perlu.
-
Kak Lia, terima kasih untuk tulisan yang begitu menenangkan sekaligus menyentak. Ketika membaca setiap paragrafnya, aku merasa seperti diingatkan kembali bahwa hidup bukanlah perlombaan, dan tidak semua hal harus diselesaikan secepat mungkin. Ada bagian dari diriku yang sering merasa tertinggal hanya karena melihat orang lain terlihat lebih cepat maju.
-
- You must be logged in to reply to this topic.
Login terlebih dahulu , untuk memberikan komentar.
Peringkat Top Contributor
- #1
Joko SiyamtoPoints: 204 - #2
LiaPoints: 118 - #3 ENING AYU PRIHATININGSIHPoints: 107
- #4
KASPAR PURBAPoints: 80 - #5 Edi GunawanPoints: 56
Artikel dengan topic tag terkait:
Tag : All
- Kuis Spesial Menyambut Tahun Baru 2025!11 December 2024 | General
- 7 Hari Perjalanan Kecil Menuju Versi Terbaikmu16 September 2025 | General
- Mekari Community Giveaway Tiket Mekari Conference 202423 July 2024 | General
- Suara Rakyat, Antara Harapan dan Tantangan4 September 2025 | General
- Karyawan Teng-Go Pulang Tepat Waktu8 July 2025 | General